Nafas Mengajar (1)

heh

heh

Istilah Pendidikan pada hakikatnya dipahami dengan kata paedagogie. Paedagogie bermakna pendidikan dan paedagogiek berarti ilmu pendidikan (Purwanto, 1995:3 dalam Sukardjo (2009:7). Kemudian yang lebih dikenal sebagai pedagogik (pedagogics) atau ilmu mendidik. Menurut Rasyidin (2007:34), ilmu mendidik adalah ilmu atau teori yang sistematis tentang pendidikan yang sebenarnya bagi anak atau untuk anak sampai ia mencapai kedewasaan.

Etimologis kata paedagogie berasal dari kata paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak. Paedagogos adalah sebutan bagi orang yang pekerjaannya mengantar dan mengambil budak-budak pulang pergi atau tugas antar jemput sekolah. Dasar kata paida, digunakan untuk membedakan subyek dalam kegiatan pembelajaran bagi anak-anak dengan orang dewasa (andragogie).

Maka selama ini pedagogi yang dipraktikan dalam kehidupan masyarakat,  secara harfiah dapat dimaknai sebagai seni mengajar atau seni mendidik anak (Muis Sad Imam, 2004:5). Seni mengajar ini merupakan seni transfer ilmu yang penuh inspirasi.

Orang-orang hebat di bidang apapun, bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi (Ernest Newman)

 

Dalam bahasa latin, kata “inspirasi” berasal dari dua kata yaitu in dan spiro yang berarti menghembuskan ke dalam. Dalam bahasa Ibrani kata inspirasi adalah Neshama dan Nismah yang berarti nafas.

Berarti yang diperlukan untuk dipermasalahkan adalah Bagaimana mengajar yang berinspirasi ? Bagaimana Mengajar penuh inspirasi ? Seperti apa inspirasi mengajar ? Bagaimana Pengajaran inspirasi ? (dasar merumuskan masalah dengan pertanyaan apa-mengapa-kapan-dimana-dengan siapa (yang bermasalah)-bagaimana)
Sebagaimana Peter Drucker mengatakan, “masalah dalam kehidupan manusia bukanlah mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak melakukan apa yang harus dilakukannya

Untuk memperoleh manfaat dari apa yang anda lakukan, simak kata Vincent Lombardi, “Perbedaan dari seorang yang sukses dengan uang lainnya, bukanlah dari kurangnya kekuatan, kurangnya pengetahuan, tetapi kurangnya keinginan“.

Dunia pembelajaran adalah dunia yang memerlukan daya adaptasi yang tinggi karena di dalam dunia ini berseliweran informasi dengan kecepatan yang tiada henti dan terus meningkat. Informasi yang dihimpun dari segala penjuru dunia yang kala kini sudah terkoneksi demikian simultan meningkat empat kali lipat setiap 72 jam. Berarti dalam waktu 3 hari setelah hari ini penambahan informasi tersebut meningkat sebanyak 4 kali ukuran informasi yang kita terima pada hari ini.

Berarti tantangan bagi pendidik atau orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan/ dunia pembelajaran semakin besar setiap harinya, terutama dalam mengelola informasi yang akan disampaikan kepada siswa atau para peserta didik.

Tantangan berarti memerlukan perubahan. Perubahan adalah keharusan. Jika tidak berubah, kita hanya akan dihadapkan pada dua pilihan. “Berubah atau Mati ?” ujar Rheynald Kasali. ( Taufik Tea, 2009: 38)

Perubahan ini begitu nyata dan dalam masa-masa mendatang akan semakin terlihat jelas. Hanya orang-orang yang siap berubahlah yang dapat bertahan di masa mendatang dengan kesuksesan, keberhasilan ~ sementara yang tidak dapat menyesuaikan zaman akan TERTINGGAL !

Mengapa berubah ?

Perubahan-perubahan di dunia pendidikan disebabkan arus budaya luar atau orientasi nilai budaya setempat yang telah bergeser dari kedudukan semula (berpindah). Perubahan di dunia pendidikan, dipicu oleh semangat kompetisi dengan institusi dunia internasional yang bersaing keras mencari dan mendapatkan pelanggan (user) pengguna jasa pendidikan, yang nantinya pelanggan akan mencari sekolah atau institusi yang berbobot (juga bermutu)  yang mampu menjadikan user (pengguna jasa ini)  siap memasuki dan berkompetisi dalam percaturan dunia. Selain perubahan dunia pendidikan juga dipicu efek domino kondisi sosial budaya setempat.

Hayden dalam Taufik (2009:45) menyarankan cara menghadapi perubahan, yaitu “kembangkan keahlian atau keterampilan baru, persiapkan diri untuk meninggalkan keterampilan lama dan kebiasaan kolot (konservatif)”. Berarti menghadapi perubahan dengan mengubah pola lama menjadi keterampilan baru, gaya baru, paradigma baru, dan tercipta kebiasaan baru.

Apabila para guru atau paedagogos ini mengabaikan fenomena perubahan di atas, yang terjadi adalah ketidaknyamanan bekerja, sebab guru dituntut berubah secara institusi~prosedural~program~rencana mengajarnya~gaya dan pola mengajarnya juga. Ketidaknyamanan bekerja berujung pada tekanan kerja dan beban kerja semakin meningkat yang memicu tingkat stress di dunia kerja. Sungguh tidak nyaman bukan ?

Mendidik bermakna luhur, menurut Sukardjo (2009:10) mendidik adalah mempengaruhi dan membimbing anak dalam usahanya mencapai kedewasaan (menurut Langeveld), mendidik membantu anak supaya ia cukup cakap menyelenggarakan tugas hidupnya (menurut Hoogveld), mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya (menurut Ki Hajar Dewantara).

Adapun mengajar dimaknai sebagai penyajian bahan ajar tertentu berupa seperangkat pengetahuan, nilai, deskripsi keterampilan kepada seseorang atau sekumpulan orang dengan maksud agar pengetahuan yang diperlukannya saat ini atau untuk pekerjaan yang akan dijalaninya bertumbuh sehingga ia dapat mengembangkan atau meningkatkan intelektualnya (Sukardjo, 2009:10)

Guru dengan tugasnya sebagai agen perubahan akan menghadapi kesulitan dengan profesinya, dikarenakan wilayah kompetisi yang semakin luas dengan dimungkinkannya (suatu saat kelak) orang asing membuka sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia atau malahan tempatnya saat ini. (why not ?) Adanya tambahan penghasilan, yaitu tunjangan profesi atau tunjangan kinerja daerah tidak menjadikan guru betah di zona nyamannya. Hal ini merupakan implikasi pada tuntutan atas kerja atau jasa yang diberikan sebagaimana imbalan yang sudah diterimanya (hukum sebab akibat)

Berada di zona tidak nyaman bukanlah menjadi pilihan bagi kebanyakan orang

Guru adalah sebuah profesi. Dimana-mana setiap profesi memiliki resiko tersendiri. Kesulitan dari resiko ini tidak hanya berdimensi satu, tetapi dimensinya sangat komplektif. Seperti resiko yang bergantung dari dalam diri guru seperti komitmen, loyalitas atau konsistensinya dalam pekerjaan. Bisa juga dari luar diri guru, seperti hal berkomunikasi dengan siswa, rekan sejawat, kolega, atasan, keluarganya, anak-anaknya, mengatur siswa, mendapatkan kepercayaan dan legalitas dari siswa.

Faktor erosi internal guru, kadang kala muncul pada komitmen terhadap tugas. Erosi komitmen ini tampak pada semangat mengajar yang kendur, menolerir tingkat kesalahan peserta didik yang biasanya tidak dapat ditoleransikan, muncul sikap tidak peduli terhadap aturan yang harus dipatuhi.

Kesulitan dalam proses belajar-mengajar pun muncul dalam berbagai tingkatan, disebabkan peserta didik yang dihadapi pun berbeda-beda setiap tahunnya bahkan bisa saja berbeda setiap harinya ! Kesulitan yang paling umum dihadapi adalah kedisiplinan belajar siswa, kesulitan mengatur siswa, kesulitan menegur siswa.

Guru yang memiliki nafas mengajar atau mengajar yang berinspirasi pada dasarnya :

  • Memiliki kesadaran (adversity quotient) bahwa kesuksesan yang diperoleh adalah hasil dari kemampuan guru untuk bangkit kembali setelah mengalami masalah (bisa juga kesalahan).
  • Masalah adalah vitamin bagi orang-orang yang luar biasa, karena itu bila guru mendapat masalah ~ maka guru tersebut akan semakin kuat. Hayden (2006) mengatakan, sesuatu yang mendasar tentang permasalahan (ini) dengan akibatnya, merupakan hal penting untuk belajar dari masalah tersebut dan menjadi lebih kuat ~ maka aturlah rencana anda, atasi masalahnya dan (tetap) bergerak maju. Segala sesuatu kelihatan seperti setengah kegagalan (saja)😀
  • Dalam profesi keguruan, faktor penting utama adalah senantiasa bersabar dan merasa yakin. Melalui keyakinan~proses perimbangan terhadap proses kerja dapat berlangsung dengan benar sehingga didapat hasil sebagaimana hukum sebab akibat.
  • Saat menghadapi upaya buruk atau hal-hal jelek yang guru temui dalam menjalani prosesnya harus disertai dengan keikhlasan. Keikhlasan akan menimbulkan jawaban atau cara yang kreatif. Keikhlasan sebagai bentuk TERBAIK untuk meraih PAHALA BERLIMPAH. Perwujudan dari keikhlasan adalah upaya terbaik dari Sang Guru itu sendiri.
  • Menghadapi keluhan dengan senyuman, dengan senyuman yang berarti mengundang kebahagiaan apalagi jika bisa menertawakan masalah ~ akan memicu bekerjanya hormon Endorfin. Hormon ini merangsang pelaku merasa nyaman dan mempengaruhi kualitas kinerjanya, kerja pelaku menjadi kreatif dan menjadi jawaban atas permasalahan yang ditemui😀
  • Guru senantiasa mengasah kemampuan instrinsik mengajar setiap saat, sama seperti seorang penebang kayu yang bijak selalu mengasah kapaknya sekalipun sedang beristirahat atau seperti seorang tukang daging yang selalu mengasah pisaunya saat tidak berjualan daging, seperti seorang tukang cukur (barber) yang mengasah siletnya saat pelanggan belum datang, sama seperti seorang prajurit yang senantiasa memeriksa senapannya dan meminyaki senapan saat tidak berperang supaya tidak macet bila dipakai. Begitulah harapannya seorang guru yang penuh inspirasi. Keahlian yang perlu ditingkatkan dan diasah antara lain : memahami hakikat belajar, memahami prinsip belajar, meningkatkan pemahaman tentang mengajar, dan mengenali siswa yang diajarnya (juga yang tidak diajarnya).
  • Selain kemampuan intrinsik  guru, juga perlu personifikasi secara ekstrinsik, seperti kemampuan mengelola segala sumber daya untuk kepentingan pengajaran (outer competencies) : guru menguasai area publik (mengelola kelas), menyiapkan materi ajar yang akan disampaikan sesuai dengan kebutuhan siswa (juga merencanakan dengan matang)~yang menarik, up to date, sesuai dengan faktor kekinian, mampu mengorganisasikan bahan-bahan ajar, menyampaikan bahan ajar secara aplikatif dan multisensori (berbagai cara penyampaian sebagai modalitas peserta didik~mengandung unsur visual, suara, dan gerak) , mengelola personal peserta didik dalam kelompok-kelompok.
  • Kemampuan mengelola kelas jangan dianggap enteng, sebab kelas dengan segala unsurnya merepresentasikan masyarakat secara keseluruhan dengan berbagai macam dimensinya. Kelas sebuah kelompok masyarakat yang dinamis, interaktif, dan khas serta unik.

Sumber Pustaka dan Bacaan :

  1. Taufik Tea, Jakarta : Gema Insani. 2009. Inspiring Teaching.
  2. M. Sukardjo, Ukim Komarudin. Jakarta : Rajawali Pers. 2009. LandasanPendidikan Konsep dan Aplikasinya.
  3. http://artikel.sabda.org/alkitab_yang_di-inspirasikan

#dasar-dasar-pendidikan, #dasar-penelitian-pendidikan, #ernest-newman, #guru-penuh-inspirasi, #indonesia, #inspirasi, #inspirasi-guru, #inspired-teacher, #inspiring-teacher, #landasan, #landasan-pendidikan, #makalah, #mendidik, #mengajar, #pendidikan, #perubahan, #transfer-of-knowledge