Waktu menurut Relativitas

Semula dalam teori relativitas yang dikemukakan oleh Einstein dikatakan bahwa pada saat dua orang pengamat mengamati gelombang elektromagnetik atau yang lebih kita kenal sebagai cahaya. Keduanya dapat menginterpretasikan fakta yang dilihatnya dalam kerangka yang berbeda dan dalam ruang yang berbeda pula, tetapi fenomena cahaya tetap tidak berubah sebagai sebuah cahaya.

Secara harafiah penjelasan singkat itu sangat tidak masuk akal, tapi bagaimana dengan perbandingannya dalam Paradoks Kembar yang juga dituliskan oleh Albert Einstein

https://i0.wp.com/startswithabang.com/wp-content/uploads/2009/02/twin-paradox.jpg

Twin Paradox

Apabila “suatu saat nanti” (seperti lirik lagu Peter Pan) seorang manusia kembar bisa berkelana dengan atau mendekati pesawat yang dapat bergerak mencapai kecepatan cahaya menuju suatu planet lain, sementara kembarannya yang lain tinggal di bumi. Pada saat manusia kembar penjelajah angkasa itu kembali, maka ia akan terlihat lebih muda dibandingkan dengan kembarannya yang tetap tinggal di bumi.

Dari sisi waktu si pengalana angkasa atau space traveller tetap muda karena ia berjalan atau bergerak tanpa beban tanpa masalah sebab perjalanannya terjadi dalam kerangka cahaya. Di mana laju cahaya setara dengan 300.000 kilometer setiap sekonnya. Dibandingkan dengan kembarannya yang ada di bumi, di mana masalah, gembira, kehidupan, kebosanan, kegiatan rutin, yang menuntut manusia untuk terus bertahan hidup dan mencapai apa yang dikehendakinya membuat kembaran pengelana yang ditinggal di bumi semakin tua.

Dilihat dari paradoks ini, pertanyaan yang dapat dikemukakan adalah mana yang lebih bahagia ? Bukan mana yang lebih muda ? Belum tentu hanya kemudaan yang menimbulkan kebahagiaan ? Ataukah malahan yang tua merasa semakin bahagia karena usianya telah terus bertambah dan dirinya tetap bisa bertahan ?

Sebagaimana yang tertulis dalam kitab-kitab suci tentang usia manusia, bahwa manusia yang selalu mendekatkan diri, menaati perintah-perintah Tuhan akan diberkati dengan kehidupan kesejahteraan, usia yang panjang, ketentraman namun itu tidak berlaku absolut sebab ada juga orang yang hidupnya benar harus menderita dan berusia tidak panjang. Intinya dari paradox kembar ini adalah cara atau sikap kita menghadapi waktu.

https://i0.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/d/d3/IQposter.jpg/220px-IQposter.jpg

IQ (film)

Sebagai pelengkap perbandingan anda perlu menonton film IQ yang menceritakan tentang Ed Walters, seorang montir dengan intelektualitas tinggi yang mendekati Albert Einstein untuk mendapatkan cinta Chaterine Boyd yang sudah bertunangan dengan Doktor James Moreland (Ahli Psikologi) Terapan). Einstein tidak sendirian dalam mempertemukan cinta Ed Walters terhadap Chaterine bersama tiga koleganya sesama Profesor di Princeton, Kurt Godel, Nathan Liebknecth, dan Boris Podolsky mereka berteori dan menciptakan campur tangan agar Chaterine Fall in love dengan Ed. Tentu saja cerita fiksi ini berakhir dengan happy ending namun serba menggantung. Terutama tentang teori Fusi Dingin yang dipercayakan Einstein untuk mengangkat nama Ed Walters dikancah Simposium Fisika Internasional Princeton.

Ide judul ini adalah percakapan antara Ed Walters kepada Einstein dan ketiga koleganya saat ditanya apakah waktu itu ada ? ….

Semoga ide sederhana ini bisa memicu rekan-rekan muda untuk menanggapinya dalam menulis blognya masing-masing.😀

#albert-einstein, #angkasa, #bengkulu, #boris-podolsky, #dan-rank, #dari, #dilatasi, #einstein, #film, #history, #kontraksi-waktu, #paradoks-kembar, #pengelana, #physics, #relativitas, #resensi, #super-junior, #teori, #teori-einstein, #twin-paradox, #umur, #usia, #waktu