Kali ini tanpa proyektor

Kecanggihan atau kemajuan pembelajaran dan pengajaran di kelas ditentukan dengan kemampuan guru mata pelajaran menggunakan dan mengelola media pembelajaran berbasis teknologi informasi. Tapi yang paling sering muncul adalah kecanggihan guru tersebut dengan membawa laptop serta LCD proyektor ke dalam kelas atau “cukup” dengan mengajar menggunakan laptop saja, atau bahkan hanya berbekal laptop yang kemudian dicolok ke proyektor.

Nah, esensi pembelajaran “canggih” tidak hanya mengajak para peserta didik berinteraksi menggunakan media digital ini saja kemudian diterapkan ke dalam website sang guru atau “blog” guru yang bersangkutan semata, tetapi juga menerapkan interaktivitas ke dalam kelas dengan melibatkan semua media digital yang dipunyai siswa.
Ujicoba interaksi dalam kelas saya kali ini menggunakan router linksys yang disambung nirkabel atau wireless namun masih belum menggunakan modem atau koneksi internet, konektivitas semacam ini lebih dikenal sebagai INTRANET.

homerouterreview.com

Di Kelas Mamoru Iaichi atau Penjaga Ilmu Alam dengan 34 orang siswa yang telah saya ujicobakan dengan dukungan sekitar 8 laptop dan netbook siswa, ternyata mampu berbagi data atau bahan di dalam kelas tanpa harus menggunakan proyektor. Sehingga dengan sendirinya tercipta kelas yang interaktif secara digital. Karena data yang diunduh dapat dibaca dan dipelajari siswa langsung “di depan matanya” dari notebok serta netbook yang dibawanya. Saya meyakini masih banyak kekurangan dalam model pembelajaran semacam ini, terutama bagi siswa yang tidak memiliki atau sulit memiliki peralatan komputer jinjing ini. Ke depannya mudah-mudahan ada yang dapat mencobakan palm top seperti ipad atau samsung tablet yang di Singapura sudah dikenal dengan nama edupad. Apalagi Axioo juga sudah menelurkan axioopad belum lagi produk Tiongkok iped juga “mungkin” mampu. Ini sudah menuju ke kondisi kelas virtual sebagaimana presentasi Axioo saat launching Ikatan Guru Indonesia Wilayah Kalimantan Tengah tahun 2010 yang baru lalu di Palangka Raya.
Memang akhirnya kelas menjadi semakin ribut sebab suara guru menjadi tidak didengar karena siswanya menjadi asyik sendiri bahkan ada yang menonton film sendiri, mendengarkan mp3 sendiri, pokoknya serba meriahlah.😆
Ini salah satu cara untuk menyiasati guru yang tidak membawa proyektor, atau kelas yang tidak menyediakan proyektor atau memang sekolah yang tidak ada proyektornya.
Ya, tentu saja … modal awal guru yang bersangkutan harus membawa router sendiri. Apalagi router sekarang sudah semakin murah dengan harga berkisar antara 300 ribu hingga 1 juta rupiah. Mudah-mudahan wakil kepala sekolah bagian sarana mau bermurah hati meminjamkan router-router yang tidak dipakai😀

Ide ini akhirnya membawa ke tataran bahwa suatu saat nanti ujian atau ulangan atau evaluasi bisa dilakukan secara paperless atau tanpa menggunakan kertas. Yang menjadi tanggung jawab lembaga atau pengelola untuk menyediakan komputer sesuai kebutuhan siswa atau bahkan menyediakan laptop murah dan terjangkau (apalagi konon ada laptop yang harganya “hanya” Rp 1,5 juta saja !) …

Cuma … bagaimana dengan kondisi sekolah lain yang belum ada listrik ? belum terjangkau atau tersentuh “hal-hal canggih” seperti ini ?

Salah satu ide untuk memberikan layanan pembelajaran menuju taraf multinasional😀

#acer, #ada, #axioo, #axioopad, #changan, #cisco, #desktop, #duduk, #edupad, #galaxy-tab, #indonesia, #ipad, #iped, #kali, #languages, #laptop, #linksys, #netbook, #notebook, #notepad, #palangkaraya, #palm-top, #pc, #programming, #router, #tablet-pc, #toshiba