Menjaga Perbatasan

Setiap hari jumat dan sabtu apalagi di penghujung perkuliahan yang berakhir dengan tugas penelitian tetap membuat saya harus bertugas tambahan sebagai petugas piket atau lebih tepat sebagai petugas patroli pagar. Karena umumnya tingkah polah siswa kelas X dan XI akan tersangkut di bagian pintu gerbang, apalagi waktu yang ditentukan 10 menit setelah pukul 6.30 dianggap terlambat (cuma sayang hal ini masih belum berlaku bagi rekan-rekan saya😦 )

Mengingat panjangnya pagar pembatas atau lebih enteng disebut perbatasan pagar terluar membuat para petugas patroli harus ngos-ngosan menjaga tepian pagar tersebut karena beberapa “pelintas batas” akan serta merta melemparkan tasnya atau bahkan menyembunyikan tasnya di antara titik perbatasan yang kemudian “dijemput” dengan asumsi pihak satpam menduga mereka sudah masuk ke sekolah sejak awal wkwkwkwk ….

Nah, sebagai petugas patroli perjalanan ini sangat berat karena harus ditanggung sendiri, karena rekan-rekan pria saya yang lain agak keder karena beberapa hal, selain karena masih baru dan akibat yang fatal adalah kulit mobil atau kulit motor bakal baret-baret jika menangkap para pelintas ini juga menjadi pertimbangan rekan-rekan tersebut.

Koq bapak mau ? Bukan karena terpaksa, tapi karena panggilan batin. Saya sekarang tidak perduli dengan kulit mobil saya yang akan baret-baret jika harus menindak para pelintas ini karena penindakan pun harus manusiawi tidak asal main fisik apalagi sanksi yang aneh-aneh semuanya harus dapat dipertanggungjawabkan dan disertai bukti-bukti pelintasan tersebut.

Semakin hari semakin sedikit para pelanggar jam terlambat untuk hari jumat mungkin karena sudah bosan diuber-uber dan sudah bosan berada dalam kesuraman. Apalagi uang jajan juga turut terkuras karena mendahulukan “Rasa aman” dari kejaran patroli😆 juga ada siswa yang uang jajannya sudah dijatah untuk membayar pass perbatasan.

Dibandingkan dengan luasnya areal yang harus dibatasi dengan tenaga patroli dan penindak yang minim, boleh dikatakan penindakan dan perubahan sikap dari keterlambatan harus dikedepankan juga menjadi poin pertama dari para guru Bimbingan dan Konseling atau lebih terkenal dengan sebutan konselor. Hanya saja konselor kami yang didominasi tenaga muda ini agak berat datang terlalu pagi entah apa alasannya ? Hanya rumput saja yang tau😆