Sekolahku Rumahku

Penampilan megah sebuah sekolah barangkali adalah impian semua orang, tetapi jika hanya dijadikan penampilan fisik semata tanpa ada perbaikan atau peningkatan dari segi layanan sepertinya juga bukan indikator keberhasilan. Sekolah  sebagai ruang publik tempat transformasi pengetahuan dan sikap dari guru kepada siswa juga harus menciptakan kenyamanan bagi semua pihak yang disebut sebagai warga sekolah warga belajar. Karena itu sekolah perlu dikelola dengan manajemen yang manusiawi walau kadang harus naik turun mengikuti irama kemanusiaan dan aroma perasaan.

Kadang kala sekolah adalah rumah kedua bagi para siswa bahkan guru, ada kalanya siswa kami sangat betah berada di sekolah walaupun jam belajar usai. Atau ada pula bapak dan ibu guru yang betah berlama di sekolah untuk menuntaskan obrolan dan pergosipan yang membawa makna dalam untuk meningkatkan irama hidup (kerennya meningkatkan etos kerja). Sekolah menciptakan lintas komunikasi yang bisa saja sehat (bahkan menyakitkan bagi para objek penceritaan bukan objek pencitraan😀 ).

Tugas berat para pamong di sekolah untuk tetap mempertahankan kultur seperti rumah yang nyaman, tempat yang menyenangkan untuk menimba, mengambil, dan berbagi pengalaman dengan sesama rekan pelajar atau dari guru (sebagai orang tua di sekolah) kepada para siswanya. Terjalin kerja sama yang akrab dan hangat, jauh dari perasaan saling melecehkan hingga menciptakan lapangan kekerasan yang tidak patut untuk diceritakan. Tentu saja guru dan orang tua masing-masing siswa perlu senantiasa membangun kerja sama yang erat dan harmonis untuk membentuk buah-buah bangsa menjadi tunas-tunas (pohon) kehidupan bangsa ini.

Tulisan ini sebagai kenang-kenangan dan dedikasi kepada para pengajar yang mendarmabaktikan dirinya di Sekolah Luar Biasa atau sekolah yang memberikan layanan khusus kepada para anak-anak yang memiliki kekurangan fisik karena kecacatan atau untuk anak-anak berkebutuhan khusus (autis).  Bagian dari jajaran pendidikan yang kadang lupa kita sentuh dan kita singgung yaitu pemberian layanan kepada anak-anak berketunaan ini. Foto di atas bukan akrobat atau anak yang sudah diaktivasi otak tengahnya, tetapi memang anak-anak dengan ketunaan pada mata atau low vision yang ditampilkan adalah kemampuan mereka memainkan catur walaupun mata mereka tidak dapat dipergunakan seperti anak normal lainnya.

#anak-berkebutuhan-khusus, #kecacatan, #ketunaan, #layanan-khusus, #layanan-pendidikan-khusus, #pendidikan-layanan-khusus, #programming, #tuna