Sekolah Baru

Anak saya yang tertua sudah menyelesaikan UN di sekolah dasar dan saatnya berpindah jenjang ke sekolah menengah pertama. Pilihan kami orang tuanya adalah sekolah yang mengutamakan mutu dengan biaya berapa pun asakan wajar dan logis serta terukur atau sekolah yang sepenuhnya biayanya ditanggung negeri dan terutama dapat ditanggung serendah-rendahnya dengan wajah kedua orang tua masih tersenyum saat membayar iuran komite sekolah.

Pertanyaan demi pertanyan dilayangkan kepada kami selaku orang tuanya, kemana pilihan anak saya ini melanjutkan SMP. Ada yang heran saat menanyakan mengapa tidak di SMP bertaraf di atas nasional ? Ah, saya hanya mengurut dada dan sementara terhenyak karena bukan itu tujuan utama mencari sekolah, apakah mutu selalu dikaitkan dengan standar di atas nasional ? Sementara akuntabilitas dan lain-lainnya masih dipertanyakan oleh seantero pendidik dan pemerhati pendidikan di Indonesia ? Ya, saya tidak ingin terjebak dalam polemik tersebut, biarlah itu bersemayam dalam batin kami😀

Selanjutnya kami memilih SMP swasta yang tidak bersubsidi, kebetulan SMP ini adalah almamater saya (saya lulus dari SMP tersebut tahun 1988) dan kebetulan Kepala Sekolahnya adalah Guru Bahasa Inggris saya dulu, guru matematikanya adalah kakak ipar saya, dan guru fisikanya adalah teman kuliah saya yang paling akrab. Ya, klop sudah nepotismenya😆 harapan itu setidak-tidaknya ada. Pengumuman penerimaan SMP tersebut akan dilakukan 7 juni 2011.

Sementara putra kami menghadapi tes seleksi yang diadakan pada sabtu, 4 juni 2011 yang lalu ia sempat berceloteh bahwa jika tidak diterima oleh karena lain hal pilihannya adalah sekolah yang ada tepat di belakang instansi tempat saya bekerja saat ini. Ya harapan selalu ada dan juga jalan ke sana pun terbuka.

Betapa menyenangkan memperhatikan dan mengamati calon-calon siswa ini yang bersemangat dan ditemani orang-orang tuanya masing-masing. Saya amati sejak 14.30 hingga 16.45 kami meninggalkan komplek sekolah tersebut sambil saya bernostalgia dengan lapangan-lapangan dan gedung-gedung sekolah yang sekarang lebih tinggi menjulang dibandingkan kami dulu yang hanya terdiri dari 14 ruang dengan 3 kelas 1, 3 kelas 2, 2 kelas 3, kantor kepala sekolah, kantor tata usaha, kantor guru, perpustakaan, kantin, aula serbaguna dan parkiran yang penuh terisi sepeda. Namun itu dulu 23 tahun yang lalu😆 yang tentu saja berbeda dengan kondisi sekarang di mana parkir sepeda lebih kecil dibandingkan parkir kendaraan bermotor dan sekolah pun lebih hijau dan rindang dengan kantin kejujuran yang mampu menampung ratusan siswa sekaligus dari 3 tingkatan😀 Menjelang kami pulang, anak saya berseloroh bahwa tidak sabar untuk merasakan dunia baru dengan berseragam putih biru dan terutama dia sangat termotivasi untuk berkenalan dengan teman-teman baru yang setingkat lebih maju.

Tidak berapa lama keponakan-keponakan saya pun mulai memasuki jenjang SMA dan tentu saja yang dituju adalah SMA tempat saya bekerja. Entahlah ? Apakah karena dorongan teman-teman mereka atau ada daya tarik lainnya, tapi yang jelas daya tarik itu tercipta karena sekolah yang bertingkat serta kantin sekolah yang bisa menampung banyak orang dengan beraneka menu makanan😀

Selamat memasuki dunia baru dan tentu saja selamat menikmati sekolah baru, suasana baru, dan bertemu dengan beraneka guru baru yang menantang dan mungkin bisa memberi makna dalam perkembangan intelektualitas anda.

#anak, #indonesia, #kami, #peserta-didik-baru, #ppdb, #psb, #pun, #sekolah-baru, #siswa-baru, #sma, #smp