Keputusan Mundur

Rasanya berat untuk mengatakan tidak melanjutkan. Apalagi jika yang menjadi alasan dan pertimbangan adalah keengganan rekan-rekan senior yang merasa lebih cocok untuk itu dan tidak mau beranjak dari kedudukannya yang PW atau dengan sebutan lain sudah uenak tuenan. Apa juga yang diributkan jika hanya porsi memberi mengajar di kelas tertentu.

Keengganan ini utamanya karena kelas yang diajar sekarang memiliki kesempatan aktif yang lebih pendek, terutama banyak liburnya. Wah, kalo semua guru berpikiran demikian apa dinyana nanti oleh orang tua. Keputusan untuk menetapkan posisinya di tingkat tertentu juga sangat merugikan guru lain yang ingin merambah pengalaman menambah pengetahuan terutama untuk yang jauh lebih muda. Alasan kemudaan ini salah satu alasan klasik untuk menyatakan seorang guru dikatakan tidak matang, belum profesional segala, bahkan belum mampu atau belum siap mengajar di kelas akhir (kalau untuk SD disebut kelas tinggi).

Acap kali perasaan mengajar di kelas X dan XI atau di kelas rendah (untuk sebutan SD) adalah perasaan “terhinakan”  karena “turun derajat”. Siapa yang derajatnya turun dengan mengajar kelas X atau kelas rendah SD ? Sungguh ironi yang memilukan dan “menjengkelkan” jika seorang guru dikatakan profesional tapi enggan untuk kembali mengajar dari tingkatan terendah sebagai kesempatan kepada yang lain untuk meningkatkan kemampuan dirinya masing-masing.

Keengganan ini pula bisa disebabkan banyak faktor dan salah satu faktor adalah merasa tidak perlu belajar materi baru. wah wah wah👿 sungguh memilukan bahwa guru tidak mau belajar, padahal guru dituntut untuk mengajar hal-hal baru dan teknik atau metode baru dan tentu saja dengan semangat baru karena materi yang baru untuk disampaikan kepada para peserta didik baru.

Secara teori paedogagik yang salah satunya coba diikuti dengan institusi saya adalah siklus seorang guru untuk terus mengikuti tingkatan peserta didiknya. Namun ada beberapa hal kendala melaksanakan ini selain karena kekurangan guru mata pelajaran yang diampu sesuai esensi mata pelajaran jurusan juga masalah perasaan ini tadi ? Jika sudah berbicara dan menyentuh masalah perasaan, rasanya semakin sulit ditakar dengan nalar apalagi jika berelasi dengan gender. Terus terang gender perempuan sebagai guru jauh lebih banyak dibandingkan kuantitas guru laki-laki. Tidak hanya itu kuantitas peserta didik perempuan selalu melebihi jumlah peserta didik laki-laki (itu untuk SMA, SMKK, MA dan tidak berlaku untuk STM).
Akhirnya jalan yang (rasanya) dipikir tepat tidak usah maju mundur saja ke kelas yang terendah atau cara yang aman memilih menetap di tempat yang ada, tidak perlu merombak keinginan sebelumnya.
Karena penentuan siapa yang mengajar di kelas mana adalah keputusan kolegial sehingga penetapannya pun kadang kala beraroma kekeluargaan dan kepasrahan😆 apalagi jika yang diadu argumentasi adala