Kembali ke Bengkel

Hari jumat adalah hari wajib bagi saya dan istri untuk berangkat ke Banjarmasin dalam rangka menyelesaikan peningkatan kualifikasi akademik kami. Dengan mengendarai kendaraan Innova sebagai kendaraan utama karena mobil yang biasa harus bermalam lebih kurang sebulan gara-gara pernah masuk bengkel abal-abal untuk mengganti klahar persneling yang berakhir dengan keluar biaya 10 kali lipat dari harga komponen mobil semula. Namun tak diduga, ternyata kendaraan utama ini benar-benar sedang bermasalah dengan semprotan bensin dari pompa bensinnya. Hingga sejauh 80 km kami harus berpaling kembali ke kota asal setelah di tengah perjalanan, semprotan bensin yang terbatas menyebabkan mesin Innova terbatuk-batuk tak karuan dan melaju saja hanya bisa sampai 20 km/jam dari kemampuan maksimalnya yang bisa 140 km/jam.

Dengan berat hati maka keputusan berani pun diambil untuk tidak bergabung dengan rekan-rekan Kelas C yang tengah mempersiapkan seminar tentang pengelolaan sumber daya pendidikan dalam sistem pendidikan Indonesia, kami memacu dengan sangat pelan Innova ini menuju bengkel resmi Toyota yang terletak di Km 5 Cilik Riwut. Selama perjalanan dagdigdug degup jantung membayangkan biaya yang demikian mahal akan dikeluarkan setelah pemeriksaan dan perbaikan permesinan mobil ini. Tapi kekuatiran itu tertepis dengan pengalaman masuk bengkel abal-abal yang akhirnya menghasilkan kekecewaan mendalam dengan harus mengganti komponen yang lebih vital dan fatal dan berbiaya sangat mahal.

Pengalaman itulah yang terus mengemuka hingga kami berdua sampai di Wira Toyota. Sambil berjalan ke sana, suasana kering dan berasap sudah mulai menyeruak sepanjang jalur selatan Kalimantan Tengah sesekali terdengar serangga hutan yang masih berteriak riang karena menerima deru hujan rintik-rintik di siang hari. Ternyata keadaan di bengkel resmi toyota ini antrian sudah mencapai urutan 30-an dan saya mendapat urutan ke-33 untuk dilayani, sebagaimana yang sudah disangka Innova harus bermalam untuk diperiksa keesokan harinya (sebagaimana janji pramuniaga yang melayani kami).

Sesampai di bengkel resmi yang dirangkap dengan pusat penjualan mobil Toyota, banyak pelanggan yang membawa mobil baru untuk ganti minyak pelumas atau sekedar pemeriksaan yang sebenarnya dinyatakan gratis (tetapi untuk pengisian minyak pelumas harus tetap keluar dari kocek sendiri😀 .. itulah resiko memiliki mobil baru, suka tidak suka harus dilakukan). Karena bermalam, terpaksa kami berdua harus pulang ke rumah dengan menumpang angkot karena menggunakan taksi bermeteran di kota kecil ini lumayan mahal, biayanya sanggup untuk mengajak 7 orang teman makan mi bakso bersama-sama di Bakso Siantan😆 akhirnya kami sudah berada di dalam angkot dari km 5 menuju halte sekolah saya di bilangan A. Yani😀 … tentu saja masuk ke dalam angkot, berbagai macam aroma yang bikin pusing kepala pasti beterbangan dan membuat atmosfer benar-benar terasa seperti rakyat umum yang harus menggunakan transportasi umum😀

Suasana dalam angkot memang tercipta dalam kesahajaan dan kesederhanaan rakyat kecil yang mendambakan kenikmatan ala kadarnya yang ditawarkan para pengusaha transportasi yang kadang juga harus berebut antrian premium karena sulitnya pasokan bensin. Anda perlu sekali-sekali menikmati suasana angkot ini agar tetap bersahaja dan tangan bersedekap dibandingkan dagu menengadah menunjukkan kesombongan. Jangan merasa sombong dengan kendaraan pribadi, toh kalo rusak tidak lain dan tidak bukan, transportasi umumlah yang menjadi andalan.

Kendaraan yang ada perlu senantiasa dipelihara agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Pikirkan pula alokasi biaya yang memadai jika mengambil keputusan harus memiliki kendaraan pribadi selain BBM, perawatan, tentu saja pajak kendaraan yang semestinya berplat KH demi Kalimantan Tengah.