Malas Nge-Blog

Rasa malas berjalan beriringan dengan waktu liburan. Terutama karena libur mengajar dan harus mengerjakan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan mengajar selama berlibur semester ini. Malas ngeblog adalah virus yang perlahan-lahan menggerogoti semangat dan kalbu untuk maju. Malas membuka internet lalu mengembangkan ide dengan tulis-menulis walau sekedar membuang jemu juga merupakan tanda-tanda berbahaya untuk menjadi tumpul. Tumpul ide, tumpul semangat, tumpul kenekatan sampai pada ketumpulan otak dan ingatan. Sebuah indikasi yang dapat melumpuhkan seorang inovator, motivator, kreator, blogger, dan berbagai macam profesi kreatif lainnya.

Penulis blog walaupun tidak mengejar penghasilan melalui blognya berdasarkan ide sendiri, sebenarnya terus-menerus melakukan apresiasi kreatif penelaahan mandiri atas opini dan atas pendapat orang lain, menyikapi fenomena yang ada di sekelilingnya, bahkan menyuarakan hal yang bisa saja berbeda bahkan ekstrim di banding orang lain. Ada yang bergaung sampai ke seluruh dunia hingga mancanegara, namun ada juga gaung blognya hanya berkutat dalam kandang domba. Itu semua tergantung brand atau daya jelajah blog tersebut.

Di lain hal, malas adalah hal yang lumrah, dikarenakan tidak ada motif atau dorongan yang kerennya disebut deadline. Kalo penulis koran tidak dikejar deadline, tentu koran atau media massa hingga media berita akan mati perlahan-lahan sebab dihinggapi pemalas reporternya😆 … tentu tidak seperti itu !

Mengurangi kemalasan menulis blog, bisalah dengan memasang target atau memasang deadline diri sendiri minimal satu posting per hari atau targetkan satu posting per enam jam. Atau bisa juga memastikan satu posting terdiri dari 460 karakter lalu nanti dikumpul dan diramu jadi ciamik dalam blog. Menulis 460 karakter itu diilhami oleh ide blogger kalteng lain yaitu Urip Guraru.

Selamat bermalas-malasan bila kemalasan itu menyenangkan.

#bebas-menulis, #blog, #blogger, #blogging, #freelance, #kemalasan, #malas, #menulis-blog, #penulis, #penulis-bebas