Selamat Menjelang tengah Malam

Saat malam semakin larut dan menunjukkan kepekatan ditambah dengan semilir angin dingin menusuk walaupun hanya lewat berhembus sekejab, saya menaikkan hembusan kata demi kata kepada para pengunjung yang kedatangannya diundang khusus hingga tidak sengaja menemukan postingan tulisan-tulisan di blog ini.
Semilir kata terus menggeliat daripada bergayut tanpa kesempatan untuk terbaca dan terungkap menjadi makna nyata melainkan sebagai makna nisbi yang masih memerlukan kerutan di kening untuk mencernanya hingga lumat dalam struktur kognisi pembaca. (makin bingung, kan?)
Baiklah, … daripada semakin membingungkan.
Apa sebenarnya tujuan dari judul ini, maka inspirasi dari tulisan menjelang tengah malam adalah hasil refleksi bagian pertama dari sekian banyak pembaca yang saya undang khusus dari klub Fisikarudy di facebook (yang menurut teman saya terasa semakin eksklusif karena ini merupakan grup tertutup dan hanya member yang terundang dan sudah terklarifikasi dan terklasifikasi yang bisa bergabung), namun itu tidak mengurangi keinginan saya untuk menyampaikan refleksi atas tiga tahun perjalanan menulis blog pada wordpress ini sebagai wordpresser.
Tiga tahun yang lalu ini hanyalah mimpi semu khayalan utopis seorang guru fisika yang kapabilitasnya masih diragukan, kemampuannya masih seperti anak ingusan, dan berbagai sebutan yang ups tidak akan saya tuliskan karena pengertiannya masih diasumsikan seperti anak kemarin sore.
Tapi dengan tekad dan semangat terus mencoba yang tidak mengenal lelah sampai sering mendapatkan komentar spam bahkan sempat ditulisi di blog lain sebagai pemaksa agar kenarsisannya ada yang “membeli”, puncak dan lembah kegalauan serta frustrasi karena sulit untuk diakui dan diterima pada waktunya mulai terkuak dan mendapatkan tempat di benak dan hati para pembaca.



Berbagai macam pembaca telah silih berganti, mengirimkan kritik, pendapat, saran, dan komentar yang konstruktif hingga yang destruktif (tapi itu sudah bisa saya terima dengan “Sedikit” kelegaan dan masih banyak yang belum bisa lega). Pembaca yang setia adalah yang datang mencari bahan-bahan pelajaran fisika serta konsep-konsep sederhana fisika yang mana bahan-bahan tersebut merupakan re-blogging dari sumber lain dan sebagian lagi adalah produksi yang saya buat berdasarkan kajian-kajian sederhana untuk mempermudah pembelajaran fisika di kelas saya sejak tahun 2008 hingga saat ini. Sepanjang tahun itu pula semenjak kejadian tahun 2006 saya hanya pernah diberikan kesempatan sekali mengajar di kelas XII yaitu pada tahun 2009 (XII IA-5) itupun hanya satu kelas dan karena saya memaksa.
Setelah ditimbang-timbang secara matang serta dengan kesibukan saya saat ini yang tengah menimba pengetahuan dari negeri sebelah, maka saya hanya menyetujui mengajar seterusnya di kelas XI. Karena di tingkat ini saya banyak menemui pemuda-pemudi yang menjadi siswa saya adalah orang-orang yang akan melalui masa-masa “kritis” di jurusan ilmu alam dan jika salah diberikan resep maka bisa membuat kebingungan dan ketidakmengertian yang semakin lebar terhadap konsep-konsep fisika yang sebagaimana mestinya.
Walaupun tidak terlalu dalam dan juga tidak dangkal, saya sulit mengakui bahwa itu adalah inti pelajaran fisika yang sesungguhnya. Namun setidak-tidaknya dapat memberikan bekal yang “sedikit” lebih baik dibandingkan bekal di tingkat kelas pemula.
Saya selalu membayangkan bahwa belajar di dalam kelas fisika saya adalah kuliah all around atau belajar segala-galanya yang dapat ditinjau dari segi fisika.
Ada istilah-istilah baru atau padanan kata yang baru bukan berarti memaksa siswa untuk membeli kamus, melainkan untuk memperkaya khazanah kosakata yang ditanamkan secara sadar bahkan secara tersembunyi agar mereka menjadi rajin membaca dan rajin menulis yang akhirnya menjadi berkarakter akademik, mampu mengumpulkan informasi hingga mengolah informasi tersebut menjadi pendapat, pandangan, dan pikiran untuk diterapkannya.
Pelajaran menjelang tengah malam sangat utopis dalam keadaan rumah yang semrawut atau tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak di sekitar lingkungan para pembelajar saya. Biar bagaimanapun sempurnanya lingkungan belajar, jika tidak ada dorongan dari dalam diri sang pelajar sendiri niscaya keberhasilan itu masih semu dan hampa terasa. Karena itulah maka pendekatan belajar harus dibangkitkan secara intrinsik melalui penanaman teknik kognitif yang bisa diterima dan diserap dengan sederhana dan gampang.
Hal ini memerlukan perjuangan, keseriusan, waktu yang memadai serta pengorbanan. Pengorbanan demi kesenangan diri sendiri, pengorbanan waktu untuk tidak berjalan-jalan, pengorbanan untuk menyendiri dalam menggembleng diri agar menjadi tanggon dan trengginas secara psikologis.
Belajar tidak hanya menggembleng fisik semata, tetapi lebih penting adalah softcore yang tersimpan di dalam diri insan pelajar. Fisik juga dilatih agar tetap kuat dan memiliki intensitas menghadapi kesendirian dalam jangka waktu yang panjang.
Yang dilakukan tidak hanya berpikir saja tetapi saatnya untuk bertindak menerapkan cara belajar yang simpel dan bisa dilakukan berulang-ulang. Tatap muka kepada guru yang terbatas dalam periode belajar di sekolah saat ini bisa diperpanjang dengan melakukan komunikasi intensif melalui fasilitas jejaring sosial, twitter, selain metode pesan singkat atau messenger (YM atau BM bahkan Skype).
Tapi yang perlu dipertimbangkan dalam meningkatkan intensitas komunikasi dengan guru atau pengajar juga diperlukan pengelolaan biaya untuk berkomunikasi, saat ini cara berkomunikasi yang tengah diuji dan dilaksanakan di kelas fisika adalah melalui twitter yang lebih murah dan mudah. Walaupun kadang harus mengorbankan kesenangan lain.
Pengalaman saya menunjukkan, bahwa jika insan pembelajar meningkatkan komunikasinya secara intensif dan signifikan kepada pengajarnya itu akan mempercepat sang pembelajar mendapatkan mode atau pola belajar yang sesuai sebagaimana yang diinginkannya. Selain itu pelajar menjadi kenal dan memahami karakter gurunya, walau kadang kala sebagai guru juga harus membuat “gap (jurang atau celah)” yang membuat energi antara (energi celah) semakin besar sehingga meningkat tingkat energi eksitasi antar hantaran elektron pengetahuan berisi muatan-muatan pelajaran selain menambah hole-hole dalam struktur kognisi pelajar agar bisa menangkap dan menerima elektron pengetahuan tapi sesuai kapasitas (kapasitansi) sang pelajar itu sendiri. Tentunya muatan pengetahuan tadi harus diseleksi antara yang memiliki kepentingan yang sinergis dengan cita-cita dan beresonansi dengan tujuan si pelajar atau muatan pengetahuan tadi sebagai bahan pengayaan sehingga si pelajar menjadi lebih berbobot dalam menyampaikan argumen atau pendapatnya sehingga menjadi terlihat semakin intelek atau cerdas.
Pelajar yang semakin intelek atau cerdas akan menjadi semakin cerdik dan semakin mumpuni mengelola diri sendiri juga mengelola hubungannya dengan orang lain.
Visi belajar di kelas XI adalah menjadikan belajar fisika itu mudah dan menyenangkan serta memang sangat diperlukan, bukan hanya karena kebutuhan mutlak atau wajib dari jurusan ilmu alam tetapi juga karena pelajaran fisika sangat dibutuhkan untuk mengenal dan mengetahui kehendak “alam” itu sendiri tanpa melupakan Sang Khalik Pencipta Alam Semesta.
Sebagai ada tertulis bahwa “awal dari hikmat (pengetahuan) adalah takut akan Tuhan” yang diwujudkan dengan hubungan horizontal kepada sesama umat manusia. Hubungan yang harmonis, kondusif, penuh kasih dan pengertian terhadap guru dan pelajar lainnya serta mampu menempatkan porsi kedudukannya sesuai dengan keadaan dan kondisi internal individu pelajar dalam strata (jenjang) komunitas belajar atau komunitas akademis.
Semoga di malam yang semakin larut ini, tulisan acak-acak ini dapat memberi “beban” dan virus untuk me-reset cara, prosedur, atau protokol mesin kognitif yang tersedia di dalam tubuh pelajar agar besok dan seterusnya sistem (kerja) belajar menjadi semakin kokoh, solid, sulit ditembus oleh virus-virus lain yang mengganggu tujuan akhir dari belajar (seperti kemalasan, kesenangan yang membuang waktu, rajin menunda pekerjaan, semangat yang senin-kamis padam-menyala yang membuat belajar itu adalah beban yang harus segera dibuang). Jadikan belajar sebagai sebuah kebutuhan hidup dan jalan hidup demi masa depan yang lebih baik lagi sebagaimana cita-cita MDG’s (Millenium Development Goals).

Seperti kutipan yang melekat kuat dalam Novel “Musashi sang Empu Samurai” karangan Hidetsugu “Eiji” Yoshikawa Bushido is way of life yang membawa semangat samurai hingga ia meninggalkan dunia fana dunia pendekar pedang samurai tanpa memiliki lawan yang setanding dan tiada terkalahkan hingga akhir hayatnya


Terinspirasi dari tulisan pada http://jejakagunung.blogspot.com/2009/12/pernahkan-anda-berada-dalam-keadaan.html

#aksi-sederhana, #belajar, #bukan-teori, #insan, #malam, #pelajar, #penerapan, #selamat