Belajar hingga ke Liang Lahat

Pada harian Kaltengpos, 7-8 September 2011 diterbitkan berturut-turut sebuah tulisan Dr. Aswin Hutauruk, M.Pd (dosen prodi Penddikan Fisika yang pernah mengajarkan saya mata kuliah Mekanika (semester 3) dan Termodinamika (semester 4) serta menjadi dosen penguji pada mata kuliah seminar fisika dan uji proposal skripsi saat saya masih duduk sebagai mahasiswa prodi pendidikan Fisika Univ. Palangka Raya tahun 1993-1997) saat ini beliau menjabat sebagai Dosen program Pascasarjana di Universitas yang sama. Tulisan Beliau berjudul “Belajar yang melibatkan kepribadian” yang merupakan rangkuman semua pemikiran para ahli pendidikan mengenai niat, motif, dan gaya serta cara belajar yang perlu dilakukan siswa dari tingkat dasar hingga mahasiswa.

Jika pembelajar memperhitungkan waktu dan energi yang digunakan untuk belajar, maka hasil perhitungan ini akan menimbulkan pemikiran sang pembelajar tentang hasil belajarnya (Paragraf 7). Pemikiran ini terjadi karena masih jamak hingga mahasiswa yang berpikir bahwa belajar adalah taken for granted atau suatu hasil pendidikan yang diperoleh begitu saja secara otomatis, melainkan belajar adalah aktivitas yang harus dikerjakan, dilatih, dan dicapai dengan kesadaran melalui usaha dan kerja keras. Belajar itu sebuah kesadaran, bukan sebuah gift semata tetapi adalah usaha pribadi demi pribadi untuk mencapai tujuan belajar (paragraf 1).


 

Menurut Dr. Aswin, banyak orang berpikir bahwa belajar adalah masalah sepele, masalah sederhana. Yang penting adalah hasil belajarnya berupa nilai yang baik. Asumsi umum mengatakan, hasil belajar baik maka proses belajarnya sudah baik (padahal belum tentu hasil belajar baik itu diberikan karena perasaan lain atau perasaan iba si pemberi nilai?). Ada pula pendapat, bahwa jika nilai ujian baik berarti kegiatan belajar yang dilakukan sudah benar (paragraf 2).
Sebenarnya, aktivitas belajar pribadi lepas pribadi adalah hal yang berbeda-beda dan bergantung pada corak mental si pembelajar itu sendiri. Aktivitas belajar tidak hanya ditentukan oleh bakat dan minat pelajar tetapi juga cara dan metode mengajar saja, melainkan juga oleh metode dan gaya belajar si pelajar itu sendiri. Seorang pelajar yang kemampuannya rata-rata dibandingkan dengan kemampuan siswa lain dapat mencapai taraf tinggi jika menjalankan cara atau metode belajar yang tepat dan efektif.
Di luar konteks bahwa belajar itu juga melibatkan aspek afektif dan psikomotorik, tetapi lebih banyak disorot dari sisi kognitifnya. Bahwa belajar itu adalah aktivitas dengan memanfaatkan energi seoptimal mungkin dari dalam diri pelajar untuk menyerap ide-ide atau gagasan-gagasan melalui buku pelajaran, diskusi hingga ceramah tatap muka di dalam kelas atau wahana belajar serta atmosfer belajar.

Saat pelajar duduk di bangku perguruan tingggi, motif belajarnya semakin berkembang menjadi keinginan hasil belajar yang dinilai dengan kepentingan ekonomis yakni mencari pekerjaan. Sementara di bangku sekolah dasar sampai sekolah menengah, paradigma belajar yang baik masih saja dipatok terhadap pencapaian nilai yang baik atau berhasil mencapai kriteria ketuntasan minimal sebagai indikatornya. Masih belum banyak yang berpikir dengan tujuan mengembangkan kemampuan diri pelajar hingga meraih predikat atau atribut lain di luar dari cakupan nilai di laporan hasil belajar yang didominasi angka-angka itu. Masih umum pandangan keberhasilan belajar melalui perjalanan di kelas yang terus eskalatif dan tidak pernah tinggal kelas semata atau bahkan 100% lulus ujian nasional. Ada benarnya juga jika itu adalah main priority generasi muda yang masih perlu diarahkan oleh orang tua dan guru (walaupun sudah menginjak kursi SMA).
Di jenjang SMA ini, semakin sulit memupuk kesediaan memperoleh informasi, pemahaman terhadap pengetahuan baru atau hingga memperoleh keahlian baru sebagai aktivitas belajar yang berdayaguna. Terutama melalui proses belajar mandiri, belajar yang mengandalkan inisiatif (penyalaan dari dalam diri sendiri bukan dipicu oleh orang lain, misalnya: orang tua atau guru). Belajar mandiri semakin sulit diwujudkan apalagi diandalkan untuk hadir di tingkat sekolah menengah, tetapi metode belajar semacam ini semakin diterapkan dan ditingkatkan intensitasnya di perguruan tinggi. Walaupun di masa kami dulu kuliah, sarana dan prasarana belajar masih sangat terbatas dan harus memaklumi keadaan yang serba minimalis. Sangat berbeda di masa sekarang di mana berkembang pesatnya komunikasi internet sebagai salah satu sumber belajar yang bisa dijangkau bahkan melalui telepon seluler sekalipun.
Sikap seorang pelajar untuk terus belajar sebenarnya bisa dicapai dengan membuat atau merumuskan hal yang ingin dicapai dalam aktivitas belajarnya. Salah satunya adalah menurut Aswin, melalui penemuan kegembiraan (exzcitement) dalam aktivitas belajar tersebut.
Hanya pribadi seorang pelajar sajalah yang dapat memotivasi dirinya sendiri untuk belajar, tidak selamanya motivasi ekstrinsik itu berhasil. Karena kadang kala motivasi ekstrinsik itu bisa menjadi bumerang berbahaya bagi sang pengajar (lecturer) itu sendiri.. Oleh karena itu, melalui diskusi ilmiah atau tatap wicara di kelas atau di ruang-ruang belajar lain, sebenarnya membuka sekat yang membatasi ruang mental pelajar untuk mencapai keinginannya meraih “hasil yang baik” dalam mutu aktivitasnya.
Aswin mengatakan, minat belajar pada dasarnya sikap ketaatan terhadap jadwal belajar baik menurut jadwal yang diatur orang lain (jadwal pelajaran di sekolah, jadwal pelajaran les privat) atau inisiatif belajar spontan yang terpicu dari dalam diri pelajar. Tidak mudah seseorang mendapatkan minat atau rasa itu! Karena minat tersebut berkaitan dengan kondisi perasaan atau kondisi internal. Di saat pelajar sehat tentu ia akan memiliki minat belajar yang tinggi, tetapi jika si pelajar terbebani dengan tugas-tugas belajar atau mata pelajaran lain yang banyak dan menuntut harus segera diselesaikan maka bisa jadi minat belajar mata pelajaran tertentu akan menurun, berkurang hingga akhirnya meredup.
Kombinasi mood dan perhatian, serta kondisi fisik dengan kondisi mental maupun tingkat stress, beban kerja, beban tugas, beban rumah tangga, beban memerlukan pengakuan dari kelompok sebaya, beban memerlukan pengakuan dari orang yang lebih tua, beban-beban lain yang bisa mempengaruhi semangat dan tekad belajar lainnya yang perlu mendapat perhatian pelajar setahap demi setahap sesuai dengan perkembangan psikologinya sebagaimana teori Piaget, teori Gagne, dan banyak lagi teori belajar lainnya.
Menurut Aswin, motif belajar tidak perlu muluk-muluk, sederhana saja. Bisa saja niat semula adalah untuk cepat memperoleh pekerjaan, cepat mendapatkan penghasilan namun seiring dengan perkembangan perjalanan hidupnya, si pelajar akhirnya mendapatkan bahwa hasil belajarnya jauh lebih indah jika ilmu yang dipelajarinya itu berguna bagi orang lain.
Trik yang paling sulit diterima dari sekian banyak langkah-langkah belajar menurut kepribadian menurut Dr. Aswin Hutauruk adalah langkah ke-6, yaitu bersikap positif menghadapi kegiatan belajar. Alasannya : tidak semua pelajar bisa mengambil manfaat positif dari kegiatan belajar yang dihadapinya, karena hasil belajar itu bergantung dengan tingkat seberapa penting belajar yang diinginkan lebih penting lagi bahwa sudah mengakar kuat sebuah pandangan atau perasaan bahwa belajar itu berhasil jika si pelajar mendapatkan nilai yang baik sehingga belajar yang diinginkan adalah point oriented atau orientasi belajar berdasarkan nilai saja bukan pada faedah, kegunaan, hasil yang dapat dinikmati dirinya atau orang lain. (jika pandangan ini diberikan kepada mahasiswa tahun pertama atau tahun kedua pun, sepertinya masih sulit diamati sikap-sikap seperti dimaksud langkah ke-6 belajar berkepribadian).
Menjadi guru yang efektif pun memerlukan waktu yang lama untuk menyesuaikan mode demi mode. Cara mengajar yang sudah mapan sekalipun tidak mempan jika digunakan menghadapi situasi mengajar yang tidak pernah dituliskan atau dideskripsikan demikian detail di bangku kuliah. Ada yang mengatakan bahwa mengajar adalah seni, seni berarti bersifat fleksibel dan hanya dapat dikuasai dengan hati dan jiwa yang sungguh-sungguh serta total melakukannya. Menjadi guru yang efektif memerlukan masa penyesuaian yang sangat panjang dan memerlukan pengasahan, penggemblengan, penempaan diri setiap hari. Guru yang sering mendapat masalah dalam mengajar akan semakin cerdik menghadapi masalah-masalah serupa yang terus berulang dalam kehidupan karirnya sebagai pengajar. Demikian pula halnya dengan dosen. Dosen juga sebutan lain untuk guru tetapi untuk jenjang di perguruan tinggi. Dosen tentu saja akan menghadapi berbagai tabiat mahasiswa yang heterogen, apalagi mahasiswa sekarang jauh lebih dinamis dan lebih kreatif dibandingkan masa kami dulu menjadi mahasiswa.
Sama juga halnya dengan para pelajar, pelajar SMA ini tiap tahun berubah-ubah macam perilaku dan tabiatnya. Diperlukan tingkat pemahaman yang semakin sensitif untuk memahami atau mengerti siswa-siswa. Kadang kala bisa juga melenceng, sebagai manusia pun seorang guru tidak lepas dari kesalahan yang disengaja atau bahkan tidak disengaja sehingga memerlukan tindakan reflektif atau perenungan yang terus-menerus secara sadar.

Sementara ini pandangan saya adalah Membuat hal yang susah menjadi menyenangkan. Setiap masalah yang datang dibuat menjadi menyenangkan saja. Apakah itu diasumsikan angin sepoi-sepoi saja atau diasumsikan tidak pernah ada sama sekali agar tujuan belajar para siswa semuanya dapat tercapai, walaupun demikian segala macam kiritik, pendapat, laporan, teguran merupakan hikmat atau peringatan dari Tuhan agar kita sebagai umat manusia selalu bertawakal dan semakin bertaqwa kepadaNya dalam segala tingkah laku, tindakan, dan perkataan kita sebagai manusia biasa yang tidak lepas dari salah dan dosa.

Jadikah setiap masalah adalah Hiburan bagi jiwa kita yang lapar dan dahaga. Masalah kehidupan juga pelajaran yang setiap hari kita terima hingga kita mencapai ajal. Karena itu belajarlah hingga ke liang lahat.