Kenapa Menikung selalu dengan kecepatan tinggi?

Mengingat derasnya tayangan MotoGP di televisi swasta dan maraknya semangat pemuda untuk tampil gaya ala pembalap kenamaan. Tidak hanya kaum cowo, bahkan kaum cewe yang sudah bisa mengendarai kendaraan bermotor roda dua apalagi yang pengendara sepeda roda dua pun tidak kalah tangkas berbelok di mana-mana tanpa mengurangi kecepatan.

Padahal secara fisika membelok atau menikung dengan kecepatan tinggi terutama di daerah tikungan yang tidak dirancang seperti belokan chicane sebagaimana di sirkuit balap sangatlah berbahaya.  Terlebih-lebih gesekan antara roda dengan jalan yang bersentuhan hanya 20% dari lapisan tapak ban. Berbeda halnya dengan mobil beroda empat yang ada empat roda menopang pembelokan disertai gaya anti selip sebagai bentuk perlawanan gaya sentripetal terhadap poros tikungan yang sering disebut gaya sentrifugal untuk mengimbangi “slip” akibat gesekan sekaligus berbelok seketika.

Yang selalu saya perhatikan di Palangka Raya ini, jikalau pengendaraan bermotor roda dua berbelok entah di jalan komplekan perumahan bahkan di tikungan lampu bertanda lalu lintas jarang yang hendak mengurangi kecepatan sambil mengerem. Sekonyong-konyong semuanya bergaya ala almarhum Super Sic sambil menurunkan salah satu kaki ke arah belokan yang dituju. Apalagi di daerah perkomplekan rumah, para ABG bahkan tidak jarang yang tua pun tetap tidak mengurangi kecepatan saat berbelok. Belum lagi kelengkapan standar seperti Helm standar tidak digunakan, kalo digunakan pun tidak diikat dengan baik. Kelengkapan kendaraan bermotor juga terutama kaca spion hanya dipasang sebelah menyebelah saja karena salah satunya dilepas, bahkan yang lebih parah saat berbelok lampu sein atau lampu sinyal belok jarang mau dinyalakan ! Yang mengerikan sering kali mobil-mobil juga tertular dengan berbelok ambil arah atau ambil jalan tanpa menyalakan lampu sinyal tersebut😦

Belum lagi kendaraan bermotor sekarang di kota kami didominasi kendaraan beroda dua bertransmisi otomatis yang setelah distarter tinggal jalan sambil menarik tuas gas tanpa menekan atau menginjak kopling😦 semakin banyak membawa dampak “kemudahan berkendaraan” tapi seringkali dipraktikkan dengan kurang memperhatikan sesama pengguna jalan.  Apalagi umumnya dikendarai oleh para ABG yang masih perlu dipertanyakan kelengkapan izin mengendarai kendaraan di atas 100 cc tersebut sebagaimana UU Lalu Lintas.

Tampaknya memang sangat perlu ditanamkan toleransi menggunakan jalan (yang entah apakah yang bersangkutan telah berkontribusi memberikan sumbangan melalui pajak kendaraan bermotor untuk pembangunan dan pemeliharaan jalan? karena semua itu juga tidak transparan dilaporkan setiap akhir tahun kepada publik) oh how pitty !  Selain kepatutan dan kepatuhan pengguna kendaraan bermotor mengikuti aturan lalu lintas selain unsur-unsur legalitas surat-menyurat kendaraan hingga izin mengendarai kendaraan yang sesuai.

Jika saja gatur lantas dan pengawas kepatuhan berlalu lintas terus-menerus menjaga dan meningkatkan kesadaran warga masyarakat untuk berlalu lintas dan mematuhi unsur-unsur tersebut, maka kecelakaan akibat kelalaian dan lain-lain dapat ditekan hingga zero accident. Hopefully ! But who knows ?