Menjamu Tamu

Tidak dipungkiri bahwa menjamu tamu atau rekan serta kerabat yang berkunjung saat hari raya adalah ritual wajib yang dipersiapkan tuan rumah dalam merayakan dan berbagi kebahagiaan kerelaan di hari raya. Persiapan-persiapan yang keluarga kami lakukan dalam merayakan 25 Desember 2011 tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun lalu maupun kegiatan kebaktian yang kami lakukan dua kali setiap tahun atau ada acara-acara keluarga yang mengundang keluarga, teman, rekan, juga mitra.

Menu makanan yang berhubungan dengan sup atau perkuahan serta satai juga perlu diatur sebaik mungkin. Karena kalo harus kehabisan lontong (nasi lonjong panjang yang dikukus dalam daun pisang) memang siap-siap merelakan merogoh kocek yang perlu disiapkan sebagai alternatif solusi kontingensi. Karena pada saat hari raya ini, walaupun pasar tidak libur sepenuhnya seperti hari raya terbesar di Indonesia tetapi untuk ukuran kota kecil kami cukup membantu dan menolong. Tersedia ketupat atau lontong ini dengan harga yang “menyesuaikan”. Jika biasanya dijual dengan harga sekitar lima ribu hingga enam ribu, maka pada hari-hari besar seperti natal di Palangka Raya harga itu akan bertambah 40% menjadi sepuluh rebu perak bahkan ada yang berani menjual dengan 12 belas rebu rupiah.
Trik yang digunakan oleh istri saya saat “terpaksa” berbelanja karena stok lontong di rumah saya tersedia tiga lonjor adalah membelinya setelah waktu penjualan hampir tutup mendekati pukul 16 sore dengan alasan semakin sore maka semakin kecil kemungkinan pembeli lontong, apalagi lontongnya akan dijual dengan harga yang bisa ditawar hingga kembali ke harga normal (walaupun tidak jarang harus tetap dijual ngotot di atas harga normal), selain itu semakin sore maka daya kalkulasi penjual lontong ini pun berkurang sehingga dapat didistorsi aturan harganya😀
Pengalaman hari ini menunjukkan bahwa jika tidak menginginkan pembelian lontong keluar dari anggaran, maka harus dilebihkan stok lontong dari produsen aslinya. Tempat saya biasa memesan lontong sekaligus satai biasanya memberikan harga yang jauh di bawah harga normal dengan kualitet luar biasa untuk nasi kukus panjang berkulit ijo ini.

Demikian pula saat saya mengamati proses pembelian ayam negeri sebagai bahan dasar kaldu sop atau soto ayam, penjualnya tidak mau mengambil rugi dengan menjual ayam tanpa kepala. Adapun menurut istri saya, sebagai pembeli yang memiliki hak menentukan barang yang dibeli, ia lebih menyukai mengambil ayam negeri yang sudah dipotong tanpa kepala karena harganya semakin berkurang karena massanya berkurang dari massa hidup ayam😛 .. tetapi sang penjual ayam juga tidak kalah gesit dalam menegosiasikan harga ayam yang harus dijual berpasangan tidak terpisah dari kepalanya. Penjual ayam ini juga mengatakan rugi sekali jika menjual ayam potong sekalipun tanpa kepala jika tidak ditimbang berpasangan dengan “mantan” kepala ayam. Dalih-dalihnya agar tidak mengalami kerugian 6500 per kepala ayam (yang menurutnya massanya mencapai 100 gram per kepala ayam). Iseng-iseng saya berceloteh, “bagaimana seandainya ayam ini berkata .. loh ini tadi bukan badan saya enggak cocok dengan kepala”

Dengan setiap hari sebanyak 200 ekor ayam yang bisa dipotong bisa dibayangkan ketugian sang penjual ayam tanpa menimbang ayam potongnya tanpa kepala ayam (Rp 6500 x 200 = jumlah yang biasa di luar per harinya)😛