Doa Ibu Sepanjang Jalan

Sehari yang lalu saya memperhatikan seorang teman saya, seorang ibu guru. Yang memiliki anak tunggal dan sedang berkuliah di pulau seberang. Ibu ini pun sekarang menjadi orang tua tunggal dan bertugas sebagai bendahara koperasi kami. Selaku pengelola keuangan dan dana pertumbuhan koperasi para guru di sekolah saya, ibu ini sebut saja Bu Magda, bertugas memberikan laporan pertumbuhan investasi melalui koperasi guru.
Pada hari itu setelah kami berbincang mengenai keluarganya yang terkena kanker dan harus segera ditangani secepatnya, ibu Magda selalu bercerita bahwa hidup manusia sama seperti rumput saja. Sepanjang jalan yang dilaluinya mulutnya tak berhenti berkomat-kamit, menggumam sesuatu yang entah apa bunyinya. Saat kami bertatapan muka, tiba-tiba ia tertawa sambil menepuk bahu saya dan berkata, ” Saya teringat anak saya si Aris, yang saya timang dan berasa sampai sekarang ada di depan mata saya. Saya ingat waktu dia balita hingga sekarang jadi mahasiswa di surabaya”
Lalu saya jawab, “Itulah doa ibu sepanjang jalan, karena ibu menghabiskan waktu di jalanan ”
Doa ibu tidak berkesudahan, biar bagaimana pun waktu merentang dan memisahkan.