Stop Adu Argumen

Untuk mencapai kesepakatan kadang kala negosiasi dapat berlangsung alot di saat kedua belah pihak saling mengajukan pendapatnya dan saling merasa “benar” sehingga terlihat tegang dan menjadi konyol. Tidak jarang adu argumen ini berakhir dengan hati panas dan telinga merah, apalagi jika yang melakukan hal ini adalah orang-orang yang sudah cukup umur apalagi memiliki pengalaman atau dikatakan punya asam garam yang lebih mumpuni dibandingkan saya yang masih ibarat berudu di tengah kecebong😛

Usaha saya untuk menahan emosi rekan-rekan ini kadang kala bisa juga berakhir malas dan meninggalkan arena peraduan pendapat tersebut serta lebih mending ke kantin sekolah untuk mendinginkan tenggorokan yang ikut terbakar karena rasa haus dan dahaga tiba-tiba karena dua sumber interferensi suara saling mengonstruksi dan mendestruksi membahana di media gelombang udara.

Adu pendapat boleh-boleh saja, selama kedua pertarungan itu menimbulkan kemaslahatan atau keuntungan bagi orang banyak bahkan bagi lembaga atau organisasi. Tetapi stoplah adu pendapat dengan argumen yang hebat bahkan melahirkan sentimentil kepada salah satu pihak jika ujung-ujungnya hanya menunjukkan arogansi dan kesombongan semu saja.

Tulisan ini adalah catatan hasil curcol dengan Tami dan Imma saat di Kantin Bakso tadi siang. Soalnya yang lain nggak mention saya sih saat di twiter :P