Penyesalan dan Pengorbanan

Seperti itulah tema yang disampaikan oleh para pendeta di gereja kami pada hari Jumat Agung ini. Dengan pengorbanan Yesus yang telah wafat di kayu salib yang semula disesali para pengikutnya karena berpikir secara manusia agar Yesus sebagai Tuhan dapat turun menyelamatkan diriNya dari kematian, tetapi Yesus memilih untuk turun ke hades sebagai penggenapan atas nubuatan nabi-nabi Yesaya dan Yeremia. Hal ini membuktikan kepada manusia, bahwa kebangkitan dari wafat-lah sebagai bukti janji Tuhan melalui Yesus Kristus.
Menurut pikiran manusia kematian itu adalah pengorbanan, tetapi setelah Ia bangkit lagi bukankah tidak ada yang disesali dan diprihatinkan ? Justru kita, manusia inilah yang masih mencari-cari jalan itu hingga akhirnya berakhir di dunia orang mati.
Selama masih hidup penyesalan dan pengorbanan tidakla berkesudahan, tetapi setelah diri kita diusung oleh keluarga, kerabat, atau teman dan sahabat apa yang bisa kita dayakan selain tidak tahu apa-apa.

Jumat agung dirayakan umat Kristiani di seluruh dunia untuk memperingati wafatnya Yesus Kristus. Hingga akhir hayatnya, Yesus sekalipun di atas kayu salib (sebagai bukti untuk mempermalukan para tahanan atau pesakitan yang benar-benar jahat di mata penguasa Romawi saat itu), Ia masih menunjukkan mujizat ajaib kepada salah seorang tahanan Yahudi yang disalibkan bersama-sama dengan Dia.
Kalimat Yesus yang paling menyentuh adalah “Hari ini juga Kau dan Aku akan bersama-sama di Firdaus”.
Jaminan keselamatan itu yang diucapkan Yesus beberapa saat sebelum Ia berteriak “Eloii Eloii Lama Sabakhtani”. Mengapa penjahat itu yang diselamatkanNya? Bukan kedua-dua penjahat yang sama-sama disalibkan bersebarangan dengan Yesus saat di Golgota ? Karena penjahat yang lain bukan merendahkan dirinya melainkan sama-sama menunjukkan kesombongan dan mempertanyakan Kuasa Yesus, sementara Penjahat yang diselamatkan dalam Firdaus ini karena Penjahat ini menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya hingga patut menerima penyaliban tersebut. Sementara Yesus, dituduhkan yang salah pun tidak sampai semestinya dihukum dengan penyaliban. Namun, itulah nubuatan yang harus digenapi sebagaimana tulisan Nabi Yesaya dan Yeremia.

Dalam perjalanan hidup saya teringat akan berpuluh tahun lampau, saat saya memulai penghidupan berkeluarga dan anak pertama kami masih berusia 6 bulan. Kami pernah tinggal di Sampit dan menumpang tinggal dengan keluarga. Saat itu keluarga kami ini bercerita tentang salah seorang kerabat yang juga tinggal bersama mereka dengan latar belakang yang menyedihkan.
Di saat masih muda, kerabat kami tersebut pernah bekerja di sebuah perusahaan keluarga yang bergerak di bidang penyaluran minyak (entah minyak gas atau minyak goreng) dan perusahaan itu menjadi maju hingga boleh dikatakan pendapatan perusahaan bukan hanya berpuluh juta tapi sampai ratusan juta (era 70-an) entah apa perkaranya hingga suatu saat kerabat kami itu diberhentikan (di-PHK-kan) tanpa uang pesangon yang memadai dan akhirnya bekerja serabutan dari pekerjaan sebagai pencatat dan petugas hitung dagang akhirnya menjadi tukang kayu dan bekerja apa saja. Sementara saudara kami ini menghidupi keluarga dan anaknya yang berjumlah tiga orang dari tiga bersaudara ini dua diantaranya kembar, ketiga-tiganya anak perempuan dibesarkan dalam keadaan yang tidak mencukupi dan penuh pengetatan dari segi keuangan. Tidak seperti anak-anak gadis seusia mereka saat masih SMP-SMA hingga perguruan tinggi, mereka tumbuh dalam keadaan terbatas dan bersahaja karena kondisi keluarga mereka tersebut. Nenek yang menceritakan pengalaman ini sampai berisak tangis berlinang air mata menceritakan sambil mengingat pengalaman tersebut, apalagi istri dari saudara kami ini juga tidak bekerja hanya mengandalkan uluran atau sumbangan dari saudara-saudara lainnya juga selain untuk merawat kedua orangtuanya yang lanjut hingga keduanya menghadap Yang Maha Pencipta.
Tetapi justru dalam ketidakberdayaan ini, dengan penuh penyesalan hingga akhirnya suaminya pun meninggal dunia. Ibu saudara kami ini semakin tegar demikian pun dengan anak-anaknya yang semula selalu menyesali dan mempertanyakan keberadaan keluarga mereka yang harus hidup dengan belas kasihan akhirnya tumbuh menjadi wanita yang tangguh dan ketiga-tiga anak gadis ini kesemuanya berhasil menjadi guru bahasa inggris serta berhasil menjadi PNS di Kalimantan Tengah.
Dari awal tahun ini hingga bulan April 2012, saya menyaksikan kedua kembar putri kerabat kami ini menikah dengan pria pilihannya masing-masing dan saya pun menyaksikan perjuangan mereka yang tidak mengenal kesudahan untuk mengangkat harkat dan martabat keluarganya yang dulu pernah disesali dan pertanyakan mereka saat masih kanak-kanak dan saya percaya orang tuanya tengah tersenyum memperhatikan pencapaian tersebut.
Benar-benar sengsara yang membawa hikmat. Penyesalan dan pengorbanan kadang ada yang berbuah manis, namun tidak sedikit pula yang berbuah tragis. Akhir manis dan tragis bergantung dengan proses yang kita lalui, apakah dengan tekun atau dengan jalan pintas yang penuh onak dan duri hingga akhirnya kita terjerembab di kumpulan semak hingga tak dapat bangkit lagi selain menunggu uluran tangan orang lain bahkan mujizat.

#jumat-agung, #kematian, #wafat