Kualitas Sekolah

Beberapa waktu yang lalu sesuai dengan bidang yang saya pelajari di perguruan tinggi yaitu mengelola sekolah. Saya menyampaikan pokok pikiran dalam mengevaluasi kemampuan diri sekolah dan mencari strategi yang tepat dengan melihat kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dapat dialami sekolah.
Salah satu indikator keberhasilan sekolah adalah mutu atau kualitas dan yang berikutnya menjamin bahwa mutu atau kualitas sekolah tidak mengalami penurunan bahkan “harus” terus meningkat. Segmen ini berkaitan dengan Manajemen Mutu Terpadu yang kelak dibuktikan dengan diterbitkan sertifikat ISO untuk sekolah rintisan bertaraf internasional.

Satu hal yang dilupakan jika berkaitan dengan meningkatkan kualitas sekolah atau tujuan akhirnya adalah tujuan pendidikan, yakni Memantau dan mencatat (sebagai bagian dari evaluasi) kekuatan yang dimiliki sekolah, ketenagaan yang dimiliki sekolah, sarana prasarana, program-program kegiatan-kegiatan yang akhirnya ditunjukkan melalui hasil pada prestasi yang dicapai para peserta didik mulai dari kompetisi  bertaraf lokal, regional, nasional hingga internasional dalam berbagai lomba atau kompetisi.

Pemantauan atau pencatatan prestasi siswa adalah bagian kecil dari sebuah strategi atau langkah-langkah dinamis yang diambil sekolah (pihak pengeloka sekolah) unuk menentukan program perbaikan bahkan program peningkatan prestasi capaian yang diharapkan didapat siswa lainnya di masa mendatang.

Strategi lain adalah memantau kerja guru. Kerja guru seperti :

  1. Program mengajar yang diberikan oleh guru adakah kesinambungan, kecocokan, relevansi dengan kebutuhan peserta didik di masa mendatang.
  2. Administrasi yang dimiliki guru seperti daftar hadir siswa, agenda kerja guru, uraian kerja guru, catatan harian kerja guru, catatan harian tentang siswa, catatan tentang profil siswa, daftar nilai (kognitif, afektif, psikomotor).
  3. Kelengkapan kompetensi guru seperti buku penunjang yang tidak hanya mengandalkan buku paket sekolah (selain buku sekolah elektronik), sumber-sumber bacaan lain yang dimiliki guru atau perpustakaan sekolah, frekuensi guru dalam membaca dan memasukkan sumber bacaan tadi ke dalam bahan ajarnya.
  4. Kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi informasi selain untuk evaluasi, penilaian, juga sebagai wahana eksistensi diri (berbagi kepada guru lain), keikutsertaan pada forum pendidikan online,  selain aktivitas dalam KKG/MGMP dan aktif dalam organisasi keguruan lainnya.
  5. Gaya mengajar dan perilaku yang ditampilkan guru dalam mengajar juga tidak luput dari penilaian kinerja guru.

Faktor-faktor ini baru sebagian kecil yang dinilai dalam Penilaian Kinerja Guru yang mulai dilatih dan disosialisasikan serta akan diberlakukan pada 2012/2013. Artinya guru harus terus mengembangkan dirinya dengan berbagai kemampuan dan keterampilan agar siswa yang diajar pun tidak jenuh dan tidak “terpaksa” menerima belajar yang “menyenangkan” saja tetapi yang perlu digarisbawahi adalah “Belajar bermakna“.
Belajar bermakna dalam pengertian ini adalah Siswa tersebut dapat mengartikan bahwa pelajaran yang diterimanya menjadikan dirinya bertambah kemampuan, pemahaman, penilaian hingga dapat menentukan langkah atau jalan terbaik baginya untuk ia tempuh kelak.

Paradigma yang menurut saya bisa melenakan yaitu istilah belajar yang menyenangkan, (yang selanjutnya guru ini dituntut menerapkan metode PAIKEM) karena belajar sesungguhnya adalah daya tarik dari dalam diri siswa (faktor intrinsik) tidak saja didominasi dari faktor luar (ekstrinsik) seperti Gaya Guru Mengajar, Penampilan fisik guru, tutur kata yang lemah lembut dan memukau, tetapi juga all around semua “daya pikat” mengajar juga bergantung dengan kepandaian dan kelihaian guru meramu pembelajarannya agar menjadi dimengerti dan dapat dimanfaatkan serta dimaknai berguna oleh para peserta didik bagi kehidupan mereka di masa mendatang. Tetapi juga cara agar mendorong minat siswa untuk terus bereksplorasi, belajar, membaca, menulis, berpikir, menyimpulkan sampai pada menghasilkan produk sebagai akibat dari belajar. 

Mengajar yang menyenangkan tidak hanya membuat siswa betah dalam kelas untuk mendengarkan gurunya ceramah atau bercerita selain berceloteh ria, tapi juga membuat para siswa mengetahui, mengenal, dan mengerti bahwa yang sedang dipelajari akan sangat berguna bagi mereka jika mereka menguasai bahan pelajaran tersebut (untuknya dan untuk orang lain). Mengajar yang menyenangkan membuat  sekolah untuk menyediakan berbagai fasilitas yang memadai agar BELAJAR SISWA MENJADI BERMAKNA.

Nah, karena fenomena fasilitas inilah yang kadang kala dituntut kualitas dari sekolah adalah kesiapan dan kesediaan peralatan pembelajaran di sekolah tersebut. Tidak semua sekolah mampu menyediakan fasilitas ini yang lengkap, modern (cenderung mahal dan deluxe) akhirnya Guru yang terus dituntut untuk menciptakan cara memanfaatkan fasilitas minimal yang menghasilkan terobosan berpikir luar bias dalam kaitan strategi mengajar yang bermakna.

Guru dan Siswa adalah komponen utama penilaian kualitas sekolah selain sarana prasarana, hubungan antar warga sekolah dan juga dengan orang tua serta masyarakat, selain program-program khusus yang menyentuh siswa.

Dengan contoh yang sederhana seperti film The Brothers Grimm (tayang di salah satu stasiun TV swasta tadi malam) yang karena kemiskinannya akhirnya dapat bertahan hidup (walaupun dengan nilai yang tidak baik dalam visualisasinya) dengan menjadi con-artist (bahasa lain dari artis palsu)  atau memanipulasi orang lain sebagai pendekar pengusir hantu atau pengusir kejahatan, namun akhirnya mereka harus menghadapi situasi kritis dan krusial saat benar-benar berhadapan dengan exorcisme yang sesungguhnya.

Jika sekolah ingin meningkatkan kualitasnya, langkah yang terlebih dahulu (yang pada akhirnya dituju dengan proses sertifikasi ISO) yaitu :

  • melakukan evaluasi diri sekolah secara jujur, transparan dan sebenar-benarnya dilanjutkan melihat SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat) sekolah untuk menentukan strategi yang terus menerus diperbaharui dengan semangat lebih baik menjadi jago di satu bidang daripada harus menjadi jago di semua bidang dan selalu menjadi yang pertama melakukan agar dapat diketahui kelemahan sambil melihat SWOT sekolah lain (scanning enviromental).
    Menetapkan strategi yang sudah berhasil dan tidak mencoba-coba strategi yang tanpa dasar logis dan alasan yuridis serta perhitungan teoretis sebab itu akan menghasilkan pekerjaan yang sia-sia dan menghabiskan dana orang tua semata tanpa ada hasil yang pasti dan terjamin. Karena kualitas sekolah dicapai bukan karena coba-coba.

 

 

 

 

 

 

 

#dinamis, #evaluasi, #manajemen-mutu-terpadu, #perguruan-tinggi, #peserta-didik, #tujuan-pendidikan