Kualitas Pendidikan (Ketenagaan)

Baik tidaknya mutu atau kualitas pendidikan selain ditentukan oleh sarana prasarana juga oleh ketersediaan tenaga terampil dan handal dalam mengelola sarana maupun memanfaatkannya dan juga sumber daya manusia yang menggerakkan organisasi yang memiliki, merawat dan melindungi sarana prasarana pendidikan (dalam hal ini sekolah).

Ketenagaan pendidikan tidak hanya guru (yang sering dikatakan sebagai ujung tombak, mata panah, mata pisau, atau mata-mata) tetapi juga mulai dari yang terendah seperti petugas kebersihan (cleaning service), penjaga sekolah, petugas jaga malam dan satuan pengamanan sekolah (satpam), petugas perpustakaan, petugas kantin (cafetaria/canteen servants), petugas medis sekolah (ada UKS/PMR/poliklinik sekolah), laboran, teknisi, selain itu yang lebih fungsional ada kepala perpustakaan, kepala laboratorium, wakil kepala sekolah, sampai dengan kepala sekolah. Jabatan-jabatan atau tugas-tugas ini adalah unsur-unsur ketenagaan dalam sekolah yang kesemuanya itu bertujuan membackup atau melayani siswa (peserta didik), orang tua, dan masyarakat luas.

Seringkali media massa mengekspos bahwa kegagalan atau jeleknya mutu pendidikan salah satu saja yang dilihat adalah kegagalan guru. Padahal guru hanya salah satu bagian kecil dari mata rantai proses pendidikan, yang sebenarnya unsur-unsur lain juga perlu dikaji dan dicermati.

Jika kita berbicara kegagalan meraih mutu atau keberhasilan, perlu juga dilihat hubungan baik antara pemimpin dengan guru yang dipimpin, hubungan antara para wakil kepala sekolah, hubungan antara petugas-petugas fungsional dengan peserta didik yang dilayani dan diayomi, hubungan antara petugas-petugas pelayanan dengan warga sekolah, hubungan pemimpin sekolah dengan orang tua siswa, hubungan guru dengan orang tua siswa, selain hubungan guru dengan peserta didik yang bersentuhan langsung dalam area dekat setiap harinya dari senin-sabtu (tidak hanya pagi sampai siang tapi kadangkala sampai sore sesuai jadwal ekskul bahkan ada yang sampai malam dengan mengikuti les atau bimbingan belajar).  Hubungan-hubungan tersebut akan membentuk jejaring (mesh) seperti jaring keranjang atau seperti  jaring laba-laba yang kesemuanya sangat berkaitan dan berhubungan erat.

Keberhasilan atau kegagalan mutu pendidikan salah satunya bisa dilihat dari parameter sederhana berikut ini :

  • Jam berapa sekolah dimulai?
  • Jam berapa siswa berangkat dari rumahnya ke sekolah?
  • Jam berapa siswa sudah tiba di sekolah dan siap menerima pelajaran?
  • jam berapa sekolah sudah dibuka dan dibersihkan?
  • Jam berapa guru sudah berada di sekolah untuk mempersiapkan dirinya mengajar?
  • Jam berapa guru mulai beranjak menuju ke kelas?
  • Berapa lama guru bertahan dalam kelas untuk mengajar?
  • Berapa banyak materi yang diberikan oleh guru dalam kelas?
  • berapa banyak tugas yang diberikan guru kepada siswa?
  • apakah guru sudah menakar siswa yang diberikannya tugas mampu atau tidak melaksanakan tugas tersebut?
  • Bagaimana pembawaan guru dalam kelas?
  • Apakah guru melakukan pembelajaran secara paikem?
  • Apakah pembawaan guru menyenangkan dan bersimpatik kepada siswa?
  • bagaimana hubungan dengan sesama guru? Ada konflik ? Ada persaingan? ada keterbukaan? ada kerjasama?
  • Seberapa sering pengawas melakukan supervisi?
  • seberapa sering kepala sekolah mengawasi guru yang mengajar?
  • seberapa sering kepala sekolah menegur dan membina guru yang melalaikan tugas?
  • Seberapa sering kepala sekolah memberi penghargaan kepada guru dan siswa yang berprestasi?
  • Seberapa sering guru memberi penghargaan kepada siswa?
  • seberapa sering pelanggaran yang dilakukan siswa juga guru?

dan banyak lagi pertanyaan sebagai indikator hubungan mutu ketenagaan dilihat dari perilaku yang dilakukan para warga sekolah dalam kaitannya sebagai tenaga (human resources) kesekolahan.

Karena dari itu jika kita memandang bahwa kualitas pendidikan semata-mata dari sisi guru, cobalah untuk menyelami kehidupan persekolahan dengan para warganya (kepala sekolah, guru, siswa). Jika anda dapat bersama-sama dengan kami (tidak hanya di sekolah perkotaan perlu juga anda rasakan di sekolah daerah pinggiran bahkan pedesaan yang serba minim fasilitas dan sumber daya yang memerlukan perjuangan dan waktu untuk mencapai lokasi sekolah tersebut)  dapatkah Anda bertahan selama seminggu dari pagi sampai siang selama 6 hari kerja untuk mengobservasi, melakukan penelitian kualitatif berulang-ulang dengan triangulasi dari para ahli pakar pendidikan, mencatat, meresapi apa yang dirasakan para guru?  Mencatat kekurangan, apa solusi dari masalah mutu pendidikan yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Yang benar-benar dialami secara aktual realistis?
Jika anda sudah melakukannya dan didukung data serta fakta yang sahih, valid, reliabel, teruji secara signifikan dan sudah dikonsu
ltasikan kepada para pakar pendidikan sah-sah saja jika mutu pendidikan kita masih harus terus ditingkatkan dan kita jangan pernah puas dengan kualitas yang sudah dicapai karena kualitas itu selalu mengalami perubahan yang eskalatif, terus meningkat, terus menjulang sebagaimana semakin tingginya kompetisi dan persaingan global.

Untuk melakukan perbaikan ini,  SMAN-2 Palangka Raya terus-menerus melakukan pelatihan mandiri in service trainning kepada para guru dan warga sekolah seperti pelatihan Learning Management System, pelatihan membuat bahan ajar dan bahan uji berbasis TIK, melatih menyusun skenario pembelajaran berdasar PAIKEM, menyusun dan mengadaptasi kurikulum nasional dan internasional, melakukan workshop penjaminan mutu sekolah, workshop menyusun administrasi bahan ajar, workshop penelitian tindakan kelas atau workshop penelitian mandiri guru dan siswa yang sebagai narasumber/fasilitator adalah akademisi atau guru-guru yang telah melakukan dan mempunyai kompetensi pelatih (Training of Trainers) dan juga sebagai praktisi baik secara mandiri, MGMP hingga MKKS, mengirimkan para guru secara periodik mengikuti pelatihan ke tingkat Pusat dan propinsi Kalimantan Tengah, melakukan mitra kerja dengan sekolah lain (sisterschool) seperti dengan SMAN-8 Jakarta dan SMAN-4 Denpasar (dipimpin oleh Dra. Badah Sari, MM), koordinasi rutin dan harmonis dengan komite sekolah serta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga sampai dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah.

Ini adalah opini pribadi (otokritik) terhadap penulis bukan mewakili institusi juga sebagai eksistensi pemikiran akademis berdasarkan hasil refleksi dari perkuliahan magister manajemen pendidikan Universitas Lambung Mangkurat periode 2009-2012.

#blog, #dan-rank, #human, #kalimantan-tengah, #kalteng, #ketenagaan, #kota-palangkaraya, #kualitas, #languages, #manajemen, #mutu-pendidikan, #operasional, #pahandut, #palangka-raya, #palangkaraya, #programming, #resources, #sma, #smada, #sman-2, #super-junior, #tugas