Menanggapi Coretan dalam selebrasi Kelulusan

Tanggal 26 Mei 2012 yang lalu, secara serentak seluruh SMA di Indonesia melakukan pengumuman hasil kelulusan. Diperoleh hasil yang memuaskan dan ada juga yang belum memuaskan. Di Palangka Raya saja masih terdapat jumlah ketidaklulusan di bawah 100 orang. Antara lain peserta UN 2012 ini tidak mengikutinya sebab putus sekolah, menikah, urusan keluarga atau urusan lain yang tidak dapat diintervensi atau dicampuri sekolah.

Pihak sekolah sudah berupaya maksimal membujuk dan mengajak peserta UN tadi untuk mengikuti ujian nasional, tapi tawaran yang diberikan kadang kala ditepis (mungkin mereka memiliki pertimbangan yang lebih baik jika mengikuti home schooling atau Pendidikan penyetaraan dalam Kelompok Belajar Paket C).

Di lain sisi dari segi ironikal tersebut, selalu saja selebrasi kelulusan diwarnai dengan aksi yang kurang terpuji dan patut diprihatinkan, yakni mencoret atau mewarnai pakaian seragam.Kami sudah berusaha meredam hal itu dengan memulangkan sebagian siswa kelas XII dan memintanya mengganti dengan seragam pramuka tapi karena alasan ada sesi foto bersama dan lain sebagainya untuk buku tahunan, akhirnya sekolah “terpaksa” mengiyakan yang kemudian berakhir dengan “malapetaka” tetap terjadi pula selebrasi coretan dan mewarnai (yang menurut saya pribadi cenderung bergaya lukisan abstrak absurd).

Seragam sebagai identitas kesatucorakan atau kesaturagaman seolah-olah dicemari dengan coretan tersebut, menurut Fereire (pemikir pendidikan dari Brasil), ketidaksenangan manusia dengan persekolahan yang diejawantahkan dengan seragam ditandai dengan mencoret seragam itu atau bahkan merobek hingga membakarnya. Sehingga Fereire menyarankan dan telah membuktikannya dengan sekolah tanpa pakaian seragam, siswa diberi kebebasan menggunakan pakaian bebas (entah yang rapi atau bagaimana itu). Dapat kita lihat film-film asing tentang sekolah (SMA/ high school), mereka tidak menggunakan pakaian seragam seperti di negara-negara berkembang, melainkan hanya berseragam jika mengikuti pelajaran olah raga.

Kita tidak pernah menyaksikan negara lain seperti Malaysia, Singapura, juga Philipina atau juga Brunei Darussalam bahkan HongKong yang siswa SMA-nya melakukan selebrasi dengan coret-coretan dilanjutkan dengan konvoi kecuali pada perayaan tahun baru atau kesebelasan favorit mereka menang piala dunia. Nah, di tempat kita ini sungguh terbalik dan jauh berbeda. Juga di  MAN Kuala Kapuas tidak ada selebrasi coret-coretan justru mereka bertangis-tangisan sesgukan sekaligus melakukan acara perpisahan (hal seperti ini yang patut ditiru dan dilakukan oleh sekolah-sekolah)

Tapi menurut saya pribadi, itu bagian dari perkembangan jiwa mereka, karena ada juga sebagian kecil siswa SMA yang tidak melakukan selebrasi mencoret pakaian seragam mereka, karena mereka sadar bahwa membeli dan mempunyai pakaian seragam memerlukan biaya yang mahal dan tidak sedikit selain itu seragam adalah kebanggan dan identitas diri mereka.

Karena dilarang mencoret, saya pribadi menghimbau rekan-rekan guru untuk TIDAK MELAKUKAN PEMBERIAN TANDA TANGAN BAHKAN TULISAN PADA SERAGAM YANG DICORET, saya pribadi pun menolak dengan tegas MEMBERI TANDA TANGAN/CORETAN DI BAJU SERAGAM saat ada edaran dari Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kota Palangka Raya pun surat edaran dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Kalimantan Tengah untuk menertibkan selebrasi coret-mencoret ini. Tindakan tegas juga diambil pihak sekolah dengan melakukan razia terhadap spidol dan cat pillox, tapi selebrasi ini tetap terjadi karena “peluang” menggunakan seragam.

Hendaknya pengumuman kelulusan UN tahun depan tidak diumumkan dengan mengumpulkan siswa atau mengumpulkan massa peserta didik kelas XII melainkan melalui sms saja (kan ada sms gateway yang dijual bebas alatnya dan biaya operasionalnya terjangkau), juga ada pengumuman online melalui website sekolah dan yang lebih gampang tapi berbiaya banyak  seperti mengirimkan surat keterangan kelulusan ke alamat siswa yang bersangkutan masing-masing (jalur korespondensi) atau mengirimkan melalui email masing-masing siswa, atau mengirimkan melalui BBM (blackberry messanger), YM (yahoo messanger) atau bisa juga dengan twitter atau facebook (jejaring sosial lainnya). agar tidak ada konsentrasi massa, penggalangan massa, yang jika tidak dapat dikendalikan dapat berubah menjadi anarkis (apalagi jika 3/4 siswa sekolah itu dinyatakan TIDAK LULUS )