LatrueO

Siang ini selain menjemput anak serta berburu bayar-bayaran kartukredit serta rekening listrik, iseng-iseng saya membeli radio yang bisa memutar MP3 dan tenaga baterainya dari baterai charge seharga 200 rebu dari orang yang mengaku dirinya PAHARI.
Apalagi tawaran dari PAHARI tersebut gratis microSD berkapasitas 2 GB yang “konon” sanggup menampung lagu 600 lagu (katanya) yang setelah saya periksa kartu memori tersebut dapat menampung 600 lagu jika semuanya dengan ukuran 900KB alias dikompres sama seperti zaman HP di tahun 2004-an yang serba kompres dengan kapasitas kecil tapi lagu yang banyak.
Pas lagunya memainkan lagu dengan alunan gitar, saya langsung mengarahkan mobil ke Bundaran Besar menuju sebuah toko musik. Yang konon menurut siswa saya Ebing Winaldo, semua yang membeli alat musik di situ harus pesan dulu atau order dulu ngga bisa beli langsung kecuali stoknya ada.
Dengan terseok-seok karena jalan utama Cilik Riwut tengah diperlebar, mobil saya memasuki parkir toko di kawasan samping Gereja Katedral dengan lapangan parkir yang lumayan lega. Tampak di arah ruko ada toko ponsel, toko perkakas rumah tangga dan lemari serta satu toko musik yang bernama Latrueo (baca: Latreo saja).
Saya berpikir sesaat dari display tokonya saja sudah seperti toko-toko di Jawa atau Banjarmasin yang penuh dengan instrumen dan akan disambut oleh pedagang bermata sipit. Ternyata dugaan saya tersebut salah besar, karena yang menyambut saya seorang laki-laki berambut kriting simpatik sepertinya dari Timur Jauh sekitar NTT dan juru terima pembayaran seorang cewe yang semula saya kira orang jawa ternyata asli Dayak. Dengan tampilan toko yang sesak dengan alat, saya taksir alat-alat di situ nilainya mendekati 1 milyar semua. Mulai dari gitar melodi, akustik, bass, drum, keyboard, piano, sampai amplifier dan efek-efek gitar hingga aksesoris kecil-kecil kayak metronome, tuner dan sebagainya.
Dari pengalaman sebelumnya, biasanya penjaga toko atau sekalipun yang punya pasti akan menerima dengan arogan dan sedikit bosan serta malas melayani pembeli yang banyak tanya dan banyak maunya tapi uangnya ngga ada seperti saya (Pengalaman biasa ngoprek toko musik dan diusir karena bokek).
Ternyata sekali lagi dan lagil-lagi dugaan saya keliru.

Setelah mencoba gitar akustik elektrik Stagg dilanjutkan bas elekstrik G&L buata Korea Selatan yang empuk sambil mendengar amplifier Asdown dan amplifier gitar elektrik seharga 1,3 juta tapi saya lupa harganya, saya akhirnya membeli penala gitar otomatis merek Ibanez seharga 300 rebu. Lumayan perjalanan sekitar setengah jam dan tanya-tanya harga membawa kesan yang simpatik dan rasanya ingin kembali ke toko tersebut walau hanya untuk mencuci mata sambil melihat instrumen baru.

#bass, #buy, #fisikarudy, #guitar, #instrument, #keyboard, #music, #musik, #percussion, #piano