Publikasi Sekolah

Publikasi berperan penting membentuk citra dan opini publik terhadap suatu obyek atau kekhasan tertentu. Misalnya sekolah, sebagai institusi ~ sekolah perlu membentuk citra yang positif sehingga tercipta opini yang kondusif dan dapat membangun serta memajukan sekolah. Citra yang salah dengan pengambilan keputusan dan kebijakan yang tidak tepat bahkan cenderung destruktif akan membawa dampak buruk bagi penggambaran dan pandangan publik terhadap sekolah.
Sebagaimana yang diberitakan Kapos selama dua hari ini, dipublikasikan mengenai P2DB yang kurang etis dan elegan, karena protes orang tua siswa untuk putra-putrinya yang tidak diterima serta ketidakterbukaan pengumuman P2DB yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (17 tahun sebelumnya) bahkan salah seorang staf akademiknya membeberkan perilaku pimpinan sekolah ke media massa atas inisiatifnya sendiri. Tentu saja ini yang ditunggu-tunggu publik, mengenai kebenaran isu tersebut yang dimulai tanggal 23 Juni 2012 lalu. Sekarang beritanya menjadi blunder dan melebar kemana-mana. Apalagi yang membaca ini bisa sampai khalayak di luar Kalimantan Tengah.
Jika dilihat dengan kepala dingin dan hati tenang, publikasi seperti ini rasanya mengoyak-koyak nurani. Dari sisi idealis mungkin Beliau orang yang benar-benar sejati, pengungkap kebenaran whistle blower, tapi di sisi lain sama saja membuka aib luka sendiri. Seyogianya sebagai seorang guru SENIOR yang telah 17 tahun malang melintang di dunia persilatan dan dunia persulitan semacam P2DB ini sangat faham dengan akibat-akibat yang bakal terjadi
jika salah melangkah atau karena tidak diantisipasi akibat-akibatnya dengan mendatangi media massa, mungkin pula penyampaian dalam forum rapat dengar pendapat tidak dengan cara yang gimana gitu?
Sebagai pemimpin sekolah pun hendaknya jangan terburu-buru dan terlalu cepat mengambil keputusan, pelajari dahulu rekan-rekan guru yang baru saja menerima kehadirannya. Pelajari juga kemungkinan-kemungkinan akan akan terjadi jika keputusan-keputusan diambil, buat alternatif keputusan dan buat alternatif serta jika perlu simulasi tentang chaos yang bakal diterima institusi akibat resistensi dari orang tua dan masyarakat. Hendaknya pemimpin baru menempatkan dirinya selayak air yang tenang (berarti semakin dalam airnya), pelan seperti siamang (lambat-lambat melangkah), hati-hati seperti harimau (saat mendekati mangsa dan waspada terhadap lingkungan sekelilingnya).
Tapi nasi sudah terlanjur encer dan bubur tidak bisa menjadi nasi goreng, kami publik kota cantik menunggu dengan tenang apalagi berita yang muncul besok di koran tercinta KalTeng Pos (bagian dari JawaPos Grup).

#andai-aku-menjadi, #jika-saya-menjadi, #lirikan-si-buta, #orang-pinggiran, #setel-ulang, #teriakan-si-bisu