Mengajak Warga Sekolah

Di setiap kesempatan selalu banyak yang berkisah dan berkeluh kesah bahwa sekolah sekarang hanya sebagai tempat mencari penghasilan atau tambahan penghasilan dan bukan lagi sebagai tempat mengaktualisasikan diri tanpa menghiraukan pamrih yang diterima atau akan diterima karena akibat aktualisasi diri tersebut.
Mengaktualisasi diri salah satunya ikut serta membahas bursa tata tertib siswa dan guru, yang sebagian besar dinyatakan hanya diresume atau dibuat oleh beberapa guru kemudian langsung diterapkan tanpa urun rembug terlebih dahulu. Padahal jika mengaca dari rapat-rapat sebelumnya, yang rapat pun pasti lupa apa yang sudah disepakati karena sebelum rapat tidak pernah dibacakan notulen rapat sebelumnya sebagai pembahasan atau juga karena guru tidak suka rapat sebab rapat tidak ada biayanya selain dapat snack dan kotak makan siang (lunch box).


Nah, topik bincang hari ini adalah menggerakkan seluruh warga sekolah (baca: para guru lain) yang acuh tak acuh, datang – mengajar-habis jam mengajar-pulang, tapi selalu mengeluhkan kekurangan tunjangan kinerja dan tunjang profesi yang lambat dibayarkan.
bagaimana bisa dibayarkan semua tunjangan tersebut jika bekerja saja tidak maksimal dan hanya mengandalkan jam mengajar semata, apalagi jam mengajar masih di bawah 24 jam kecuali bagi para guru yang mendapat tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah, kepala laboratorium, kepala perpustakaan, kepala bengkel, dan jabatan-jabatan lain yang memiliki konversi yang jika dijumlahkan dengan jam tatap muka menghasilkan nilai setara 24 jam seminggu?
Menengok sejarah panjang bangsa Tiongkok yang semula terpecah belah dalam abad kegelapan, pemberontakan di mana-mana, menimbulkan kesengsaraan rakyat, berganti dinasti menjadi raja dan kaisar hingga akhirnya Tiongkok dipersatukan oleh Kaisar Kuning dan terus-menerus berganti penguasa sehingga mereka mencapai perdamaian agar tidak ada lagi peperangan dan kerusuhan. Mestinya semacam itulah pergolakan dan kedamaian yang tercipta dalam sekolah kita.
Harus ada yang bertindak sebagai kaisar dan pengawas serta penjaga perdamaian agar kerukunan dan konduktivitas proses pembelajaran, pengajaran serta pembinaan terhadap peserta didik berjalan optimal bahkan dapat meraih prestasi.
Gunakan prestasi sekolah lain sebagai cambuk memacu diri agar tidak pernah puas dengan hasil yang telah dicapai dan untuk terus kuat dalam kompetisi yang semakin ketat.
Pamrih, tunjangan, kesejahteraan, kenaikan insentif, gaji, donasi akan meningkat dengan sendirinya jika para guru bersatupadu memperbaiki kinerja dan menghasilkan siswa berkualitas yang berprestasi selain itu diterima di perguruan tinggi yang para alumni inginkan sebagai jenjang karir kehidupan mereka selanjutnya.
Hentikan keluhan dan kecaman kepada pimpinan sekolah, karena dipundak dan bahu mereka, serta pemikiran mereka yang akan membawa sekolah kepada rencana dan cita-cita bersama. Kita patut bersyukur telah diberikan pemimpin sekolah yang arif dan bijak yang mau mendengar semua pertimbangan dan menjalankan kesepakatan rencana bersama.
Karena itu mari berjuang bersama agar SMADA makin JAYA.
Hastalla Victoria Siempre Por SMADA.

#bincang, #kalteng, #keluhan, #opini, #palangkaraya, #smada, #topik