Asap pekat

Asap sebagai hasil bakaran dalam jumlah yang kecil sebenarnya tidak berpengaruh bagi kesehatan, tetapi dalam jumlah yang masif merupakan bencana dan menimbulkan gangguan kesehatan. Sepanjang perjalanan kami dari Palangka Raya hingga Kota Air yang paling parah adalah daerah trans Kalimantan poros selatan dari desa Henda hingga Mentaren. Yang mana daerah tersebut termasuk Kabupaten Pulang Pisau, sore kemarin kami melihat kerja keras Manggala Agni memadamkan api di kiri kanan jalan yang membakar semak dan ada juga yang tidak sanggup mereka padamkan, sebab dari semak yang masih hijau membubung asap putih. Bwlum lagi kendala yang sangat pahit yaitu kurangnya pasokan air karena kekeringan yang melanda lahan, air tanah sepertinya berpindah menjauh karena lahan terbuka lebar untuk dijadikan perkebunan.
Yang namanya kebun pasti memerlukan banyak air untuk menunjang hidupnya, tetapi di musim kemarau, air yang dibutuhkan tidak hanya untuk hidup tapi juga untuk mengendalikan api!
Tanpa perlu menunggu waktu lama, mestinya bom air sudah diperlukan untuk mengurangi hotspot sepanjang perjalanan dan lahan di Kalimantan Tengah, tidak hanya itu sebagian sumatera pun, seperti riau dan jambi juga perlu diberi siraman bom air sebagai pemadaman api.
Kendala yang dirasa adalah kebakaran hutan itu terjadi di lokasi yang sukar didatangi tim Manggala Agni.
Perlu solusi lain yang lebih efektif dan tepat untuk mengatasinya, selain himbauan-himbauan. Tapi ada juga yang perlu disanksi dengan aturan hukum, tidak hanya bagi pembakar lahan tapi juga untuk pembakar sampah. Karena pada akhirnya atmosfer kita tidak sanggup menampung berbagai asap bakaran ini, apakah termasuk para pembakar sate, pemanggang roti, pemanggang ikan, dan lainnya?

Posting melalui WordPress Android

#asap, #gangguan, #kabut, #kesehatan, #pekat, #perjalanan