Melewatkanmu

Pagi itu mentari menyinar tidak terlalu semarak, awan berarak perlahan menghalau bagian kelabu yang menandakan
malam sebelumnya telah menyemaikan butiran hujan. Memang, malam sebelumnya hujan deras telah mengguyur
kota ini dengan lebat dan menghantarkan aroma dingin hingga paginya. walau mata masih berat, langkah terseret,
badan enggan terbit untuk bangkit dari pembaringan.
Namun komitmen seorang pegawai negeri yang telah berjanji dan bertekad membangun bangsa melalui pencerahan dan pembekalan pengetahuan kepada teruna dan teruni yang menitipkan semangat dan cita-citanya demi negeri tercinta melalui institusi SMADA.

Sementara tekad perlahan membulat, putra dan putri pun tidak luput diingatkan serta diantar ke sekolahnya masing-masing untuk menginvestasikan waktunya demi masa depannya kelak yang didoakan kedua orangtuanya agar berhikmat dan hidup lebih berjaya dibandingkan sebelumnya melalui ilmu dan ajar yang diterimanya hari demi hari.

Lain sebagai kepala keluarga, beda pula sebagai bagian dari organ aparatur negara yang berjuang atas nama pendekar tanpa tanda jasa memberikan suluh dan garam bagi kader-kader bangsa taruna taruni bumi Tambun Bungai ini. Kadang kala didera kekelelahan hingga kekecewaan dan tidak sedikit pula helaan gembira dan nafas lega menggetarkan nadi hingga aura sampai menatap para alumni yang telah berhasil mendarmabaktikan pengetahuan, pikiran dan tenaganya bagi negeri tercinta.

Profesi kependekaran melalui tingkat keguruan ini kadang kala berasa beban berlimpah yang tiada pernah henti berotasi dan bervibrasi, menjalarkan rambatan asa harapan hingga tak berujung tanpa medium kepada titik ekspektasi. Melalui ionisasi dan eksitasi setiap orbit gelaran partikel imajinasi menggapai visi yang masih indigo dan abu-abu untuk diterawang sekalipun menggunakan cahaya berpanjang gelombang nano hingga femto.

Kegetiran dan kegalauan bisa tersandang tanpa sengaja atau terhela tanpa sadar karena kami pula insan yang berjiwa, bukan robot atau boneka tanpa sukma, sebagai manusia, perasaan juga berperan berkesan dalam setiap langkah kehidupan kami. Kami pun memerlukan hiburan dan juga pelampiasan sebagai pelepasan atas penat dan duka, salah satunya adalah lantunan untaian bernada berirama Melewatkanmu bersama Adera yang dinyanyikan salah satu taruni kami di kala senggang walau dengan sedikit tarikan hentakan dibumbui dengan persuasi.

Melewatkanmu takkan mudah bagiku
Yang mengisi lembaran-lembaran hariku
Hendak kulepas namun sulit kulupakan walau hanya mengingat garis senyummu
Terus kucoba beranjak tapi hati dan sukma seakan tak rela melupakanmu

Demikian irisan penampang syair dari tembangan ini yang selalu menjadi inspirasi bahwa sulit merelakan suatu yang indah untuk dilupakan, apakah karena diriku sudah menjadi separuh aku adalah partisi sukma insan lainnya?

Cuma Melewatkanmu saja semakin sulit bagiku !

#asa, #awan, #bukan, #butiran, #cercah, #duduk, #embun, #guru, #hujan, #kami, #kisah, #muda, #palangkaraya, #smada, #tekad, #teruna, #uraian