Bicara Sumbang

Siang hari terik serasa kemarin siang sepulang sekolah, tanpa sempat memandang dan menyambangi para pengantin yang telah bersusah payah mengirimkan undangan pernikahannya melalui pak pos, pak guru, pake facebook, dan laen-laen pengantar undangan mereka, saya teringat akan pembicaraan memprihatikan istri saya atas keputusan salah seorang kemenakan untuk tidak mau bersekolah lagi. Alasannya cukup klise yaitu tidak ada ongkos, tapi anehnya masih sanggup membiayai bermain gem online 24 jam seminggu dan masih sanggup membeli bungkus makanan yang tidak ditelan namun hanya diisap asapnya saja (Contoh yang tidak patut ditiru)!

Istri saya terus ngotot untuk memasukkan beliau panglima kancil yang suka main gem ini masuk ke salah satu sekolah swasta, namanya saja swasta tidak bersubsidi dan juga alasannya karena mendapatkan dana bantuan BOS (siapa tau hanya BOS saja yang mendapat bantuan!), dengan keprihatinannya tersebut pembicaraan merembet ke masalah orang tuanya yang juga tak tentu arah jalan pulang sama seperti butiran debu yang kadang-kadang rumornya menyanyi seperti Cakra Khan. Pertimbangan keprihatinan yang cukup mengenaskan dan mendalam hingga memandang jauh ke depan, ke masa tua yang bersangkutan, saya hanya mengatakan jikalau yang beliau panglima kancil ini tau masa tuanya akan malu dan memalukan karena putus sekolah, siapakah yang akan ia salahkan? orang tuanya? omnya? tantenya? neneknya? atau ia akan menyalahkan semua orang karena dirinya tidak bersekolah? Sudah tau bakal malu, kenapa melakukan hal yang malu-maluin?
Setiap kali naik sepeda motor, selalu tanpa kelengkapan berkendara, tidak punya SIM, tidak pake helm cuma pake bandana dan rambut dibiarkan berdiri tanpa alur pola irama ya akhirnya kena tilang dan tentu saja harus membayar denda untuk motor pretelan. Akhirnya motor ini pun raib tak berbekas dari depan warnet tempatnya suka bermain gem online, tanpa tau siapa malingnya, ironis yang dicari dan penyakit yang disukai.
Karena tipenya tidak mau sekolah formal, saya usulkan saja mengapa tidak mencoba masuk pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang membantu pemuda usia sekolah agar terus mendapatkan pendidikan yang layak bahkan bisa digunakan untuk menjadi pencaker (pencari kerja) karena setelah UN dapat diadakan ujian Kelompok Belajar PAKET setara atau disebut juga Ujian Pendidikan Kesetaraan. Apalagi PKBM-PKBM di Palangka Raya ini berkali-kali menjadi juara dalam pemberdayaan masyarakat dan termasuk berhasil mencerdaska masyarakat.
Sekarang niat bersekolah harus dipertanyakan kepada sang pelaku atau individu yang akan melaksanakannya, bukan karena paksaan atau sedih hati, bukan karena godaan dan juga bukan karena rayuan, tapi itu adalah niat suci yang berasal dari dalam lubuk hati yang banyak ikannya.

#belajar, #check, #do, #education, #education-for-all, #evaluate, #evaluating, #generasi, #kadang-kadang, #kegiatan, #lemah, #manage, #masyarakat, #pemuda, #pkbm, #plan, #putus-sekolah, #recheck, #sekolah-swasta, #tak-tentu-arah