Segelas Kopi Moka

Malam minggu selesai melatih para siswa kelas XI IA-5 memainkan electrocity dan menunjukkan beberapa strategi memainkannya mulai dari skor 66 hingga 87 (sayang sekali saya belum mencapai skor di atas 90) dan membaca seluruh rencana para siswa dalam permainan ini termasuk, resources dan fasilitas yang dimainkan dalam electrocity. Kegelapan segera melanda perkampungan saya, ditambah dengan listrik dipadamkan tepat pukul enam malam.
Kondisi yang mencekam bagi para relawan di malam minggu yang sedang melaksanakan ritual dan modusnya, tentu saja akibat kekelaman itu, hampir semua aktivitas terhenti di perkampungan ini dan terganti dengan suara gemuruh mesin listrik portabel ber-BBM karena mereknya Blackberry. Tidak ada aktivitas selain bermalas-masalan di kursi pemalas, menarik karpet sejuk untuk ditaruh di depan pintu dan teras rumah sembari menatap langit kelabu.
Ditingkahi kicauan katak dan kodok bersahut-sahutan seperti koor kanon atau malahan cenderung seperti berbalas pantun, sebagian kecil benak saya mengatakan bahwa grup paduan suara berseragam hijau-hijau daun itu akan menyanyikan lagu Segera Hujan dan ternyata hanya siulan mereka semata, hujan tidak tergerak sedikit pun karena panggilang kidungan mereka ini.
Tidak beberapa lama kesenyapan kampung kami terusik karena gemuruh Avanza Hitam 1993 A memecah kebisuan dengan meneriakkan klakson yang bermakna “AKU DATANG” tidak berapa lama seorang lelaki muda dengan perut sedikit membuncit keluar darinya dan menarik pagar rumah yang sedari tadi terbuka sembari mematikan mesin mobil. Tidak berapa lama, suara membahana gemuruh generator menyentak dan bergelora menghantarkan cahaya listrik di kediaman tetangga saya seberang rumah ini yang di atapnya bertuliskan Rumah Kecantikan😛
Sentakan gemuruh tadi akhirnya mengalah kesenyapan dan nyanyian pedih para kodok hijau yang rupanya juga sedang jomblo, karena menarik pasangan-pasangannya masing-masing ke habitat daun dan semak berair. Gemuruh ini terus membahana hingga tengah malam dan semua suara juga terhenti karena tepat saat itu, pemadaman berhenti diganti dengan semarak cahaya PLN.
Kantuk yang berat membuat diriku terhuyung-huyung, segera saya sadar bahwa hari ini adalah HARI MINGGU, untung bukan hari senin, di mana waktu telah menunjukkan pukul lewat 5.45 yang berarti itu sudah terlambat dan siap-siap kena denda atau berada di luar pagar sekolah😀
Untunglah minggu ini dijalani dengan PELAN-PELAN SAJA sehingga terik MENTARI tidak menjadi paksaan untuk BANGUN PAGI. Ditemani segelas kopi tora bika moka, mata yang semula terlipat erat dilem KITAT akhirnya membuka dan beroperasi sebagaimana mestinya, menemani jemari tangan menari-nari di atas tuts komputer yang menghantarkan cerita pagi ini.
Selamat Hari Minggu, Selamat Beribadah, Selamat Beristirahat !
Kiranya Tuhan memberkati Sidang Pembaca sekalian.
Syaloom

#fiksi, #kisah-guru-fisika, #minggu, #moka, #sunday