Kelas Kolaboratif

Untuk menghadapi kelas esok hari yang kesemuanya kelas 12, kami menghadapi dilematika. Kelas 12 adalah kelas akhir di SMA yang ujung-ujungnya melewati UN sebagai bagian penting dan menentukan langkah mereka mengakhiri jenjang sekolah ini. Di sisi lain, masih banyak terdapat kekurangan dari pembelajaran yang berkembang di kelas karena rasanya siswa-siswa kelas 12 hanya penuh diberi latihan soal-menjawab pertanyaan yang diperkirakan diujikan dalam UN kelak, semua guru kelas 12 seolah-olah dipacu untuk menyelesaikan pengajarannya sebagai pembenaran atas “tuntutan kurikulum” padahal sebenarnya yang diperlukan para peserta didik pada tahap ini adalah bekal bagi mereka agar dapat “bertahan hidup” di dunia perguruan tinggi dan dunia akademik selepas SMA bukan hanya lulus semata dari SMA.

Keprihatinan tersebut dirasakan oleh LKPM Universitas Palangka Raya yang kemarin datang ke sekolah kami, mengumpulkan lima SMA Negeri se-Kota Palangka Raya untuk disosialisasikan sekaligus berbagi pengetahuan, pengalaman dan pelatihan singkat dalam memanfaatkan Kajian Pembelajaran (Lesson Study). Saya mengajukan diri sebagai sukarelawan guru model dalam pelatihan tersebut agar rekan-rekan SMA lain dapat melihat kekurangan yang saya lakukan dan saya dapat memperbaiki pola pembelajaran yang saya berikan.

Secara umum, rekan-rekan guru yang baru pertama kali (mungkin) melihat gaya Kajian Pembelajaran lebih banyak menyangka menilai gurunya (yaitu saya) dibandingkan memperhatikan apa saja yang dilakukan dan dialami para peserta didik, termasuk terkaget-kagetnya mereka saat melihat siswa kelas 12 IPA-1 sebagai kelas percobaan kemarin secara berama-ramai menggunakan HaPe untuk mencari bahan, sebab yang mereka lihat para siswa ini tidak serius karena bermain Hape yang dikira mendengarkan lagu atau sms, padahal sejak setahun lalu saya membiarkan mereka menggunakan alat komunikasinya untuk berselancar internet, mencari bahan belajar fisika.

Kadang kala terasa berat memikirkan keputusan apa ya yang akan saya ajarkan ke kelas ini besok pagi. Maka dengan nekad saya memberikan tanggung jawab ala debat dan adu argumen sebagaimana di tipi-tipi sekarang ini mengenai kendala dan pengukuran serta penghitungan biaya listrik sehari-hari. Sebagai bahan evaluasi saya berharap siswa dapat memberikan simulasi perhitungan biaya listrik menurut PLN berdasarkan meteran listrik yang dipasang di sekolah, kebetulan ada sekitar 3 meteran listrik yang terpasang di sekolah dan beberapa lainnya tersebar di perumahan guru serta asrama.

Kolaborasi dalam belajar tercapai jika memenuhi beberapa indikator yaitu :

  1. Terjadi ketergantungan positif antar para siswa
  2. Terjadi interaksi antara siswa
  3. Terjadi persaingan kelompok yang sehat antar siswa
  4. Guru bertindak sebagai fasilitator atau pengarah bukan sebagai subyek utama
  5. Siswa menunjukkan minat belajarnya atas kemauan dan keinginan sendiri (guru diharapkan dapat mengamati hal ini dengan teliti)
  6. Siswa mendapatkan pengalaman baru dari hasil belajarnya ini.

Sebenarnya indikator ini dapat bertambah dan merujuk pada Collaborative Learning atau Cooperative Learning. Indikator ini adalah sebagian yang dengar dan simpulkan sendiri berdasarkan paparan para narasumber dari LKPM Universitas Palangka Raya.

#palangka-raya, #peserta-didik, #sma-negeri