Ke Pesta Pernikahan

Setelah selesai mengadakan simulasi seperti pencatat meteran listrik dan kastumer servis, kami berangkat menuju undangan perkawinan yang umumnya ramai didatangi setiap sabtu siang. Apalagi setiap sabtu para pegawai negeri di Kota ini umumnya tidak bekerja sehingga leluasa mengikuti acara semacam ini tanpa takut dinyatakan bolos atau izin.
Tiba panggilan menuju gedung pertemuan di sekitar PCPR yang ternyata putri kecil saya tampil sebagai penari daerah dan pengiring pengantin. Kebetulan pula yang menikah ini termasuk kerabat saya sehingga sekali dayung dua tujuan tercapai.
Putri saya yang sudah cantik dalam balutan busana adat tampak kepanasan dan bosan karena ternyata sudah menjalankan tugasnya sebagai pengisi acara sehingga berkeinginan untuk cepat pulang tanpa mencicip hidangan jamuan yang tersedia dalam dua meja memanjang.

Saya pikir dengan kedatangan saya yang terlambat acara jamuan sudah mulai, eh dugaan saya meleset. Karena setelah saya bersalaman dengan para kerabat, harus menunggu suguhan tarian dari para remaja, dilanjutkan acara lempar kembang sebagai simbolik estafet bagi para jomblo untuk menikah selanjutnya, padahal jodoh kan ditentukan Yang Maha Kuasa bukan ditentukan buket kembang yang dilempar-lempar dan disambur oleh para muda-mudi yang ngakunya masih singel.
Acara pun masih belum usai karena masih ada ritual berikutnya setelah itu yaitu potong kue pengantin, walau tidak mencicip tapi saya rasa kuenya mampu membuat gula darah meningkat pesat.
Akhirnya doa makan berkumandang dan berikutnya tampak deretan para undangan yang tak tahan menahan gejolak perut bebondong-bondong menyerbu hidangan, namun bagi para undangan yang masih bertahan dengan berderet sama seperti antrian di depan kasir beringsut maju mengajukan tangan untuk menyalami sepasang pengantin dan kedua orang tua mereka. Acara salam-salaman selesai dilanjutkan dengan bejuang merebut satu piring Soto Banjar dan mencari tempat duduk di antara undangan yang ternyata saya dapat dipojokan, yaksip yang penting acara suap-menyuap dapat berjalan dengan lancar.
Selesai acara di gedung perempuan ini, saya bergeser mendekati gedung utama dekat Bunderan Besar sembari menjemput putra sulung saya, dua kali berputar mencari posisi memarkir mobil tanpa bayar dan akhirnya kami berhasil merapat ke ruang resepsi. Bertemu dengan teman lama yang sudah menjadi doktor dan bangga menuliskan titelnya dalam buku tamu prngantin membuat degup dada bervibrasi sambil bertanya bilamanakah saya pun mendapatkan titel yang serupa? Okelah, apa juga masalahnya, langkah kami bertiga tetap melaju sambil mencari posisi strategis untuk melihat para pengantin kedua melambaikan tangan, dan ternyata sudah menetap di atas panggung, sementara dibarisan depan para jomblowan-jomblowati menunggu lemparan buket bunga serupa seperti di gedung perempuan tadi. Namun, minat saya lebih menarik untuk mendekat es sirup yang gelas suguhannya adalah gelas plastik sama seperti para penukang pulang bekerja, karena kehabisan gelas plastik polkadot. Selanjutnya anak saya mengajak merubung tukang es putar yang ada dipojokan dengan sedang dikerubungi berbagai kalangan dari rentang usia variatif besar maupun kecil, karena rasa penasaran saya pun termotivasi untuk menjejalkan diri di antara mereka. Sungguh di luar dugaan, desakan-desakan saling berebut meraih gelas plastik kecil berisi serutan es durian teasa menarik dibandingkan hidangan lain. Kurang lebih sambil memainkan dorong-dorongan kecil menanti asupan es durian atas permintaan anak-anak saya, perjuangan saya pun membuahkan hasil dengan dua gelas penuh es durian. Belum sampai 5 menit, es lezat pun amblas dalam kerongkongan di tengh suasana hiruk pikuk lintasan kerabat dan rekan, anak saya pun seperti asyik dengan es itu memint sekali lagi saya untuk antri mengambil bagian. Tanpa pikir panjang saya pun mengantri lagi di antara kalangan pengantri yang kali ini berusia dewasa, dengan sedikit ekspansi gerak tangan saya tidak dapat kebagian gelas kecil sebab sekelebat ada tangan kurus merebut sesuatu dri pegangan saya, hampir saja jika mata saya yang sudah berlensa empat akan melibas wajah si empunya tangan baru saya sadari kalo itu adalah tangan putra sulung saya yang langsung menyerobot sambil bergumam “begini pah caranya supaya cepat dapat es” dan benar malahan dirinya yang mendapat giliran menerima cenkrongan es durian tadi, saya tersenyum kecut karena tidak ada lagi gelas yang saya pegang, sementara anak-anak kecil mulai berebut berdorongan di belakang saya, belum lagi ada yang mencolek-colek daerah kamar belakang saya semakin membuat gundah gundala batin menderita karena dipermalukan dan tiba-tiba mata saya tertumbuk pada sebuah gelas plastik besar berwarna pink tembus terawang yang sekejap sudah berada di gengaman saya yang serta merta saya sodorkan ke depan tukang es itu dan langsung dihambur dengan sendokan besar es durian sampai gelas sayatumpah ruah dn itulah yang sayabawa pulang ke rumah. Hahaha, selamat juga dapat es krim dalam porsi besar, merupakan pengalaman menarik dan saya berharap setiap sabtu kelak ada lagi yang memborong es krim durian lokal lagi.

Posting melalui WordPress Android

#acara, #gangnam, #jamuan, #kawinan, #kondangan, #kondangin, #makan, #rudyhilkya, #sabtu, #siang, #tari-tarian, #undangan