Memperingati Hari Guru

Tanggal 25 November sebelas tahun lalu saya diberi hadiah buku notes dalam kehidupan pertama sebagai seorang guru di SMA Negeri-2 Palangka Raya saat kepemimpinan Pak Itar Kamang Iman (Beliau pensiun pada akhir tahun 2008). Saat itu saya menjadi guru termuda di kalangan dewan guru sekolah ini dengan berbagai kekurangan dan kelebihan bobot badan sampai akhir-akhir ini.
Menurut Wikipedia, guru berasal dari kata dari bahasa sansekerta yang berarti “berat” atau “bobot”, mungkin berat atau bobot berarti karena seseorang dikatakan guru karena memiliki keberatan atau bobot dalam keilmuannya atau sesuatu yang ada di dalam dirinya sehingga perlu dibagi kepada orang lain (siswa).
Sumber inspirasi : http://id.wikipedia.org/wiki/Guru

Judul-judul buku tentang guru pada umumnya mengatakan bahwa menjadi guru itu tidak sulit asal mau bersusah payah, mau bernegosiasi dengan keadaan yang serba minimalis atau mau berdamai dengan kesusahan, sebab masa lalu kehidupan guru adalah kehidupan penuh kompromi dengan kehidupan berkekurangan sementara anak-anak banyak.
Banyak pula buku menuliskan metode yang perlu dipelajari guru agar kegiatan mengajarnya tidak monoton, menjadi lebih berbobot, lebih berisi, lebih berat dan tidak menjadi kalah atau dilindas oleh siswa yang belajar dengan dirinya karena “kekurangan” muatan dalam diri seorang guru.
Memberdayakan guru adalah tujuan mulia dari organisasi-organisasi guru seperti PGRI, Ikatan Guru Indonesia, Asosiasi Guru Indonesia, apapun organisasi mengumpulkan guru. Guru harus berdaya, guru harus mulia, walaupun kehidupannya penuh kegetiran dan kegundahan, terutama saat sertifikasi yang mestinya diterima penuh setahun menjadi terpotong-potong atau tidak sampai jumlahnya, tidak terbuka berapa nominal yang berhak diterimanya sebagaimana gaji seorang guru.
Apalagi guru honorer atau guru tidak tetap, jauh lebih menyedihkan dari tinjauan pengamatan tentang guru yang mulia dan bermartabat. Kadang kala mereka mengalami kehidupan yang lebih memprihatinkan dengan gaji honor “hanya” 300 ribu per bulan dan perlu mencari tambahan penghasilan di tengah kenaikan UMK yang mencapai nominal 1,6 juta per bulan.
Guru bukan buruh atau asosiasi pekerja sebagaimana di negara liberal, kecondongannya guru bahkan menjadi alat politik secara sadar atau tidak sadar.
Karena itu melalui Peringatan Hari Guru pada hari ini, marilah kita para guru menyadarkan diri sendiri dan keluar dari dilema walaupun hanya bisa ngesot melalui perubahan pandangan dan mulai melakukan langkah-langkah kecil perubahan dengan semangat perubahan restorasi nasional.
SAYA BUKAN PENDUKUNG NASDEM, TAPI SAYA MENYUKASI JARGON PERUBAHAN (semoga semboyan ini tidak hanya dibibir saja tapi terlaksana dan terjadi alamiah dan tuntutan dinamika kehidupan berbangsa bernegara).
SELAMAT HARI GURU INDONESIA ! SELAMAT HARI GURU SEDUNIA !

#dayak, #guru, #hari-guru-sedunia, #hari-peringatan, #indonesia, #kalteng, #oloh-dayak, #pakat-dayak, #palangkaraya, #teachers-day