Aroma

Mata mereka nanar memandang sang pemimpin dalam kelas, hampa tak bernyawa, sukma melayang, nafas memburu terpingkal-pingkal, jiwa tersentak, raga kelu menegak, seakan langit runtuh saat kalimat-kalimat kemarahan menghujam dengan gemuruh dalam ruang panas itu.
Sang pemimpin dengan arogan dan congkak berkata-kata pedas tanpa mengurangi tekanan dari amplitudo suaranya, mentransmisikan resonansi kepenatan jiwa yang dikidungkan dengan emosi dan penderitaan. Kemurkaan dapat berlangsung sekejab dapat pula sepanjangan masa pertautan, hal itu terkandung sangat dengan kadar amuk dalam amarah raga pemimpin kelas.
Rupanya demikian nikmat menghentak jiwa pengikut, menanarkan pandangan tanpa daya, dan mengelukan ujung lidah yang biasa berkata-kata, itulah aroma kesaktian mandraguna, kuasa serbabisa dari pemimpin kelas yang berada dalam ruang panas bersekat beton keras.
Seusai kata-kata sakti nan bersayap dan berjeruji keluar, serta-merta anak-anak kunang-kunang menghambur ke luar, menuju tempat permainannya semula, melupakan semua amarah dan murka yang baru saja mereka terima, kata-kata itu tidak lagi bermakna sebab hanya gerak bibir dan ujung lidah yang menderita.
Anak-anak muda yang belum tau arah tujuannya menghambur pulang, tanpa mengesankan memiliki memori cukup untuk menyimpan data-data dalam flashdisk internal mereka.
Aroma kehidupan yang membosankan dan menjemukan.

#amarah, #congkak, #kelas, #kelas-panas, #lidah, #manuk, #mimpi-buruk, #pedas, #rangkan, #resonansi, #tong-sampah