Fisika Tanpa Mikir

Memandang judulnya saja sudah imposebel, apalagi melakukannya secara betulan? Sungguh menggelikan sekaligus menjengkelkan, para skeptiwan-skeptiwati akan menertawakan judul ini dan seterusnya akan memborbardir si penulis cerita dengan ketidakcerlangan, ketidakjelian, ketidakakuratan, ketidakcocokan, dan banyak lagi ketidaktepatan penempatan judul dan padanan kata yang sesuai untuk zat atau mahluk gaib yang berjuluk FISIKA.

Fisika itu sendiri sering saya pelesetkan sebagai Filsafat dan Sikap Keadaan Alam (FiSiKa). Bahwa yang dipelajari sebenarnya dalam cabang ilmu ini adalah analogi-analogi, penggambaran-penggambaran dunia nyata dan dunia tidak nyata, dunia makro bahkan dunia mikro tentang keadaan alam, yang selanjutnya cara manusia pembelajarnya atau manusia yang mempelajari menyikapi keadaan dunia tersebut, menemukan pola, membuat pola, membuat formula, membuat rumus, membuat apalah itu namanya yang dijadikan acuan, pedoman, rumus, pola, gambar, cara, tata, aturan, untuk menyatakan keadaan alam fisik.

Fisika dapat juga diambil dari akar kata Fisik, yang berarti bersentuhan, sesuatu yang dapat disentuh, diraba, diterawang, dipandang, dilihat, dicium, disengat, dan berbagai di- menggunakan indra (panca indra) atau indra-indra yang lebih sensitif dan bukan lagi indra-nya ragawi manusiawi melainkan indra mekanik hingga indra elektronik (sensor-sensor).

Sungguh pun jalinan pemikiran dan paradigma tentang fisika melanglang buana ke seantero jagat nalar manusia, yang menjadi urat nadi geletar kehidupan di sekolah (SMP/SMA/SMK/MA/perguruan tinggi sains) adalah pelajaran fisika yang identik dengan kening berkerut, mata melotot hingga menyipit sampai pada mengurut-urut kening saat sebuah atau beberapa buah soal fisika yang hadir sebagai titik nadir dan zenit bahan ujian, bahan penentuan kelulusan, atau bahan penentu keberhasilan seseorang dalam pengukuran tes boleh-tidaknya melanjutkan atau masuk suatu perguruan menggetarkan seluruh jiwa raga sampai berhari-hari tidak tidur dan mengistirahatkan raga demi suatu kata yaitu TUNTAS, LULUS, NAIK KELAS salah satunya melalui lolos ulangan-ujian-tes-mata pelajaran FISIKA.
Berkali-kali para siswa sering dibuat terlena, terbelalak mata, mulut menganga saat sang guru dapat menyelesaikan soal fisika (entah contoh soal atau soal ulangan atau soal tes yang dijadikan model penyelesaian) dapat diselesaikan tanpa memakan tempo lama atau bahkan dalam sekejab saja sudah terjawab pertanyaan-pertanyaannya.
Sehingga banyak yang berharap dan mengikutkan dirinya dalam pelajaran tambahan, pelajaran privat, bimbingan belajar dari yang eksklusif sampai seperti eksekutif agar dapat LULUS dari mata pelajaran FISIKA. Bahkan saking banyaknya peminat dan peserta bimbingan belajar ini seringkali, mungkin karena keseringan makan mie instan, semuanya berharap cara menyelesaikan soal-soal fisika secara instan atau bahasa kerennya secara SMART.
Sebagian besar bimbel-bimbel besar (terkecuali bimbingan belajar abal-abal yang saya laksanakan) menawarkan berbagai jurus jitu dan cara ampuh serta pamungkas untuk menyelesaikan soal-soal fisika. Jika saya perhatikan, soal-soal yang dijadikan contoh jurus pamungkas itu sendiri adalah soal-soal yang sudah sangat lama menjadi soal ujian dan setelah itu jarang lagi dipergunakan sebagai bagian dari instrumen alat ukur “keberhasilan belajar fisika” atau instrumen penentu prestasi hasil belajar fisika atau kemampuan pemahamanan siswa atas fisika dan sebagainya. Soal itu memang teronggok sedemikian rupa setelah tercetak dalam soal-soal UN zaman dulu kala sampai pada soal yang tercetak pada paket Ujian secara nasional tahun lalu dari berbagai tempat dan paket soal.
Impian terbesar dari judul posting ini adalah, boleh saja soal fisika muncul bermacam ragam, bervariasi secara heterogen tidak monoton bahkan menjadi super dolby stereo bentuknya dan kompleksitasnya, tapi para pelajar fisika tetap dapat menyelesaikannya tanpa rumit, tanpa berpikir keras, atau dengan kata lain TANPA MIKIR untuk menyelesaikan soalan-soalan tersebut.
Sampai pada simpulan bahwa mengerjakan soal fisika yang penting memahami filosofi atau logika berpikir dalam karangan ilmiah sering disebut Kerangka Berpikir konstruksi Soal Fisika. Konteks yang ditanyakan, tujuan ditanyakan, indikator yang hendak diukur melalui instrumen pertanyaan tersebut dan dikumpulkan indikator menjadi kompetensi-kompetensi dasar fisika yang nanti bermuara pada Standar Kompetensi Fisika. Ini yang sering kali terbengkalai atau diabaikan, saya sampai pada suatu konklusi bahwa setelah ulangan umum atau ujian akhir semester, guru bereuforia dengan memberikan nilai-nilai hasil ulangan, nilai-nilai rapot, wali kelas menuliskan rapot kemudian memberikannya kepada orang tua peserta didik (siswa), ortu menerima dengan gembira karena anaknya tuntas dan sepadan dengan sumbangan pendidikan yang diberikannya jika perlu segratis-gratisnya, dan siswa bersorak karena mendapat hasil rapot yang bagus sebagus-bagusnya. Ada rantai yang terputus dan tentunya sedikit sekali guru yang melakukannya, yaitu mengkaji ketercapaian pengajaran yang dilakukannya di akhir semester dengan melihat perencanaan pengajaran yang dibuatnya di awal semester kemarin. Ketercapaian masing-masing SK dan KD itu yang terpantau dari nilai ulangan harian, ujian tengah semester dan berpuncak pada ulangan akhir semester.
Mungkinkah Fisika tanpa Mikir? Rethink again and again

#fisika-tanpa-mikir, #ngga-pake, #panca-indra, #pelajaran-fisika