Enaknya wali kelas sekarang

Pembagian rapot atau laporan hasil belajar sudah terjadi, hiruk pikuk orang tua dan wali memarkir kendaraan roda empat yang sempat memacetkan ruas jalan ks tubun dan sekitarnya pun usai, berganti dengan kelengangan menyongsong hari libur nasional Natal 25 desember.  Siswa mulai dari sekolah dasar hingga menengah atas ragu-ragu dan pesimis dengan nilai rapot yang mengisi lembaran laporan kepada ortunya kemarin, tahun mendatang para guru yang menjadi ujung tombak sekolah juga akan menerima rapot dalam DP3 bagi guru yang pegawai negeri, apakah kesetiaan, kepemimpinan, tanggung jawab, dan nilai-nilai pegawai negeri sudah mereka jalankan dengan sebaik-baiknya atau tidak berpengaruh sama sekali. Konon tahun 2013 diadakan penilaian kinerja guru yang telah disosialisasikan setahun lalu di awal 2012, apakah itu juga memberi pengaruh yang sama seperti para siswa yang harap-harap cemas saat menerima rapot?
Kembali pada tugas wali kelas, tugas ini tidak tercantum dalam tugas tambahan yang dinilai dalam PK guru, demikian pula dalam pedoman penilaian portofolio guru. Tugas wali kelas hanya dikenal dalam internal sekolah dan belum mendapaykan pengakuan atau konversi sebagai tugas tambahan kepada guru yang telah bersertifikat atau yang akan menjalani proses sertifikasi guru.
Tugas walikelas di sekolah saya dihargai lebih tinggi dalam insentif semesteran dibandingkan dengan kepala lab, kepala bengkel, kepala workshop, kepala sanggar, dengan pekerjaan yang relatif “sepele” yaitu hanya mengisi rapot dan menerima orang tua siswa beserta pernak-pernik perilaku siswa, wali kelas zaman sekarang jauh lebih dimudahkan. Sekolah kami menggunakan rapot berupa lembaran sehingga para wali kelas cukup mencetak nilainya pada lembaran rapot yang tersedia, semua template rapot sudah siap dimerger dengan data leger dalam excel dan jika rapot hilang, siswa tinggal meminta ganti untuk dicetak kepada wali kelas. Rapot sekolah kami ditulisi dengan printer semuanya, kecuali tanda tangan pemimpin sekolah dan wali kelas serta orang tua siswa atau wali siswa yang akan membubuhkan tanda tangannya.
Jika dulu saat saya smp dan sma, wali kelas adalah guru yang rajin berkunjung, rajin bertandang ke kelas, rajin menanyakan siapa siswa yang tidak hadir dan apa alasannya, berbeda jauh dengan wali kelas zaman sekarang. Saat ini wali kelas cukup menghubungi ketua kelas lalu minta dibuatkan daftar hadir sakit, izin, alpa tanpa perlu cek dan ricek lagi dalam catatan hariannya, tinggal inputkan ke dalam leger dan woala daftar hadir “fiktif” keterangan siswa yang bersangkutan tecetak dalam lembaran rapotnya. Kadang kala, si ketua kelas atau sekretaris kelas yang “bolos” pun bisa berubah menjadi hadir karena faktor kedekatan tadi dan sebaliknya siswa yang tidak dekat atau tidak dikenal bisa kena apes ditulis “tidak hadir tanpa keterangan” tanpa penjelasan dan kecocokan catatan dengan sang wali kelas sekarang.
Jika dulu wali kelas zaman saya bisa bertahan rajin tanpa insentif dan semangat juang tinggi mengikuti kehadiran dan ketidakhadiran siswa binaan, wali kelas zaman sekarang cukup memantau lewat fesbuk atau tuiter, bisa dikatakan sudah memantau kehadiran siswanya. Dunia sudah canggih, men jadi wajar saja insentif naik dan besar karena tuntutan juga makin meningkat. Zaman sekarang apalagi jika tidak diukur dengan takaran material?

Posting melalui WordPress Android

#2012, #2013, #kinerja, #sekarang, #sekolah, #wali-kelas, #zaman-sekarang