Piring saya diambil lagi

Saat berhujan-hujan kemarin sore, setelah berputar-putar mengelilingi kota ini mencari bundelan map dan mengantarkan fotokopi, istri saya mengajak mencari makanan yang agak berat di jelang malam. Kendaraan saya arahkan menuju Jl Seth Adji menuju rumah makan seperti daerah di pulau Bali, pesanan diorder dan tidak sampai 5 menit eh ternyata pesanan sudah terhantar dengan hangat dan agak penuh di atas meja kami.
Namun saya agak heran, karena di antara taburan nasi terdapat suwiran ayam dan daging pentol serta udang goreng, namun karena tidak ada yang memedulikan pesanan tersebut dan sepertinya sudah benar sesuai order, pelayan pun tidak beraksi saya pastikan bahwa itu pesanan makanan saya.
Saya cukup “wow” dengan kecepatan pengiriman pesanan yang baru saja duduk belum lima menit sudah tersaji, dan segera mungkin saya menyikat kerupuk-kerupuk di atas makanan sajian tersebut. Sendok garpu pun sudah bersiap di sisi kiri dan kanan makanan, belum tangan bergerak untuk meraup sesendok segarpu, tiba-tiba dengan kecepatan kilat sekelebat perempuan berbaju merah dan berselendang kuning merampas piring pesanan tersebut sambil mengirimkan pesan suara dengan tenaga dalam yang munpuni dengan kalimat “Maaf, salah pesanan mejanya” segera pula piring yang bersedia senjata sendok garpu tadi berpindah ke meja sebelah di mana seorang ibu dan anak tengah bersiap bersantap. Wuss, serasa gemuruh di dada ini menahan tenaga dalam yang hampir terlontar menjadi serangan tapak jarak jauh membalik pesanan nasgor kejutan tadi.
Dan untunglah baru kerupuknya yang saya sikat sementara yang lain masih tersedia dan tidak berserakan kecuali sendok garpu yang sudah bersilang siap menghadang santapan.
Untung ngga habis, habislah ngakak saya beserta pacar menertawakan kesalahan order dan pendistribusian nasi tadi. Tak berapa lama kemudian, barulah pesanan kami berdatangan seperti air banjir di tumbang pulau mengunjungi meja dan tanpa merasa bersalah saya terus bersantap.

#piring-saya-mana