Unisence 15-1-2013

Pagi ini semula direncanakan mematangkan bahan tentang relativitas sekaligus dualisme partikel dengan menayangkan foto-foto lama para fisikawan yang mengangkat tema sesuai topik fisika modern. Namun, tenaga listrik yang semestinya bekerja maksimal menjadi berkurang dan selalu padam di saat-saat penting diperlukan. Maka model pembelajaran yang semula akan dipenuhi dengan ceramah beserta tayangan persamaan-persamaan rumitnya Planck, Einstein, Compton, Heisenberg sampai Schrodinger berubah menjadi wawancanda tentang masa lampau dan masa mendatang.
Saya mengilustrasikan “samwan” yang selalu menggumamkan “Nikmatilah hari ini dan hari esok siapa tau” menjadi kalimat kunci yang cukup menyentak perhatian penduduk Unisence yang tidak dihadiri Alfred Wema Jangkung peranakan tionghoa yang katanya sedang sakit mata😛
Kedatangan saya setelah bertugas menjadi juru parkiran setiap pagi tidak serta-merta mendapatkan perhatian dari para pelajar, saat saya menggotong banyak tas mulai dari proyektor simpanan pibadi sampai pada kabel-mengabel dan laptop-laptop pendukung pertunjukkan juga tidak menggemingkan para penghuni ruang ini yang telah bergeser dari kedudukan semula.
Kondisi riil demikian sebenarnya dapat membuat batin meledak-ledak karena terbiarkan dan sengaja tidak dipedulikan, kalo orang lain barangnya siapa mungkin akan bergelora irama air bah dalam dada yang menyentak keluar membahana dan diproduksi sebagai murka.
Namun saya berada pada kondisi sebaliknya, untuk apa memarahi kelas yang memang tidak diberitahukan apa tugas mereka dan BERMOHON untuk dibantu dengan segera.

Untunglah saat seorang cewe mungil berkacamata minus tengah berjalan keluar dari toilet, sempat melihat sekejab yang saya bawa dan sepertinya dia pun “hampir” tidak mempedulikan barang bawaan saya yang bejibun jumlahnya karena dari raut wajahnya tersungging senyuman dan mungkin saja dalam hatinya berkata ” Rasain Lo Pak, bawa barang gituan kaya portir dermaga”, segeralah saya lambai-lambaikan tangan tidak mampu ke kamera agar beliau-beliau yang tengah mengambil gambar film saya melalui Dunia Anu segera menolong menggotong masuk petikemas yang saya gotong. Tak berapa lama, beberapa jejaka tanpa diminta telah bekerja untuk memasang kabel listrik dan colokan serta meletakkan posisi proyektor di atas meja temannya. Well,  walau semua peralatan pendukung mengajar sudah siap, sekali lagi show saya kali ini sangat terganggu dengan kurangnya pasokan listrik dengan sistem byar pet yang kemudian dengan sukses meninggalkan kelas ini untuk beberapa saat hingga siang hari. Bukan berarti saya merajuk atau meninggalkan kelas, justru saya memanfaatkan momen bahagia ini untuk bercerita tentang masa lalu mulai dari mengenal internet hingga kekaburan di masa mendatang.

Kelompok-kelompok unisence yang telah saya bagi untuk mengerjakan topik-topik utama di kelas 12 semester 2 berangsur-angsur mulai mengumpulkan tugas mereka dalam bentuk kumpulan file melalui amplop-amplop digital dan cerita mengalir dimulai dari masa lalu sekitar tahun 1997. Saat wasantara masih berdiri megah sebagai satu-satunya penyedia layanan internet di kantor pos serta itupun betapa sedikitnya orang yang mau dan melek berinternet, saya sempat merogoh kocek sampe seratus ribu rupiah untuk merasakan internet yang pertama di kota kecil ini saat itu dan selalu terbayang-bayang dalam mimpi sebagaimana syair lagu melayu yang dinyanyikan artis idola saya dulu kala.

Kisah dongeng kemudian bergulir menuju tahun 2002-2003 di mana sekolah kami diberi kesempatan softloan (pinjaman melunak) dari penyedia jasa telekomunikasi untuk membangun kios internet di sekolahan, ada sekitar 10 unit komputer yang dapat diperoleh dari dana yang lumayan besar saat itu, dan sempat di masa-masa berakhirnya usia hidup kios ini kami sempat tekor 3 jutaan untuk membayar koneksi internet yang saat itu masih menggunakan yang instan-instan dari colokan modem dial-up. Itulah kali terakhir saya melihat kios itu berjalan dan kemudian dipaksa bredel karena tidak sanggup membayar iuran koneksi. Berakhirlah era internet sekitar 2-4 tahun di sekolah ini, tahun 2007 mulai kembali getol digiatkan di bawah arahan wakasek kurikulum saat itu, koneksi internet benar-benar berasa heboh karena mulai dikenalkan wireless fidelity atau jaringan internet tanpa kabel serta mulainya kampanye akses internet cepat melalui jaringan telepon di kota kami.

Dan itulah yang mengubah percaturan dan perhalmaan aktivitas di dunia maya, apalagi sejak tahun 2009 kembali provider layanan kilat dalam akses internet unjuk gigi melalui modem USB yang sampai dengan saat ini saya pergunakan dan injeksinya dalam peralatan digital yang masuk dalam jajaran kaplet puyer elektronik.

Membayangkan segala macam kemunduran dan kemajuan zaman sekarang, di mana telah disediakan titik-titik node sambungan internet yang siap beraksi kapan saja, untuk dipergunakan dan dioprek sampai habis-habisan dengan dukungan dana orang tua yang memang merogoh dalam-dalam, sayangnya tidak dimaksimalkan oleh para peserta didik dan masih sebatas donlot-donlot musik, lagu, film, video, dan ditambah perilaku-perilaku potong-memotong jaringan diperparah dengan tersekat-sekatnya koneksi karena kekurangan arus suplai data membawa dampak yang kurang seru saat menginternetisasi halaman sekolah dan kelas. Ini juga yang menjadi pekerjaan utama para penggiat dan aktivitas serupa di institusi ini, termasuk pemberi kebijakan pembayaran dan pelunasan tagihannya.

Masa depan yang jauh membentang sama seperti dua sejoli yang berjanji sehidup semati, mengarungi samudera kehidupan dengan bahtera pertautan dua insan dalam dunia rumah dan tangga menjadi bahan refleksi dan pembiasan untuk mendorong dan menegaskan bahwa belajar bukan hanya untuk memperbaiki ponten dan poin dalam laporan hasil belajar yang bermuara pada hasil kelulusan saja, melainkan tekad belajar karena para siswa dan saya juga tengah membuat sejarah untuk diceritakan dan disebarluaskan kepada keturunan-keturunan di masa mendatang. Belajar bukan hanya untuk hari ini saja, tetapi juga untuk kehidupa di masa mendatang. Sinergi dan simetri dengan kompetisi yang dialami para siswa serta kemungkinan ataupun peluang mereka berhasil dalam menumbuhkan kehidupannya kelak.

Walau topiknya adalah relativitas kenisbian dan dualisme kepartikelan dalam gelombang elektromagnetika, tidak membawa perasaan kami hanyut dalam efurio dongeng dan cerita, larut dalam canda dan tawa yang tidak mengenal batasan dan norma, namun semua dibalut salut dalam pemahaman yang jernih dan tidak bising tentang makna harafiah belajar yakni perubahan tingkah laku dan pertunjukkan sikap kepedulian terlebih-lebih saya katakan menularkan kebaikan (tanpa pamrih) kepada setiap orang karena itulah pekerjaan kita selama hidup di mayapada ini dan pada akhirnya kita kembali menghadap sang Pencipta Khalik Semesta dengan segenap daya upaya perjuangan di dunia nyata sebagai harta dan deposito berharga di alam dan kehidupan berikutnya yang disebut kekal abadi sepanjang masa, kita tidak lagi mengenal rapat tangis dan kertak gigi sebagaimana di bumi saat ini, saat kita semua berada dalam lingkup atmosfer suatu tempat idaman, impian semua orang yang mengimani dan mempercayakan kehidupannya yaitu surga baka.

#15-1-2013, #2013, #kami, #karakter, #mulia, #novel-1, #paradigma, #pendidikan, #saya