Tersiksa

Pukul 1 dinihari, leher terasa cekat karena tak mampu menelan. Ludah pun terasa tertahan di kerongkongan tak dapat berangsur turun, terasa berat dan ada yang tersangkut di amandel. Lift-nya enggan beroperasi. Ini berarti tanda-tanda  imflamasi peradangan sudah mulai menunjukkan taringnya, sakit demam bakal berkuasa dalam tubuhku. Semula tubuhku malas beranjak dan membiarkan penyelesaian pekat siksa di esofagus akan mereda alamiah dan dengan sendirinya, tetapi semakin lama tubuh mencoba berhibernasi dan kadang melakukan shutdown dan restart secara bergantian bak memancing sinyal HSDPA yang enggan memainkan penghantaran di gadget komunikasi, semakin lama siksa dalam esofagus ini makin memberangus dan membual-bual meronta-ronta.

Serta merta dengan mata berat, kepala berbintang-bintang kejora, aku membangkitkan tubuh dari pembaringan. Menggeserkan langkah-langkah berat dan malas dengan menyeret translasi telapak kaki yang kedinginan dan terasa kesat di ubin marmer ruang tidur menuju bangsal makan. Di lemari jamuan telah tersedia seperangkat bahan-bahan kimia penangkis serangan virus dan bakteri pun juga penangkis kuasa kegelapan yang ingin melahap jiwa menuju pemanasan kekal. Tak tanggung-tak tanggung sambil mata berusik terhadap plasma kitat yang membengkak dan mengais-kais bungkus plastik mencari-cari target yaitu antibiotika. Seiring dengan ketakutan akan penyakit aneh karena kelebihan antibiotik, terpaksa obat kimiawi ini harus kutelan karena tak tahan dengan radang tenggorokan.

Tak disangka segelas teh panas telah tersedia, entah oleh siapa. Oh mungkin oleh istri dan anak tercinta yang melihat ayahnya terbaring sambil terbatuk-batuk tak dapat menahan kantuk. Gelas berisi cairan warna kecoklatan dengan aroma melati langsung tandas menghantarkan sang amoxi melaksanakan tugasnya menuju medan pertempuran di kelenjar saliva. Tak berapa lama sesaat badan lunglai ini kembali berada dalam selimut, terasa benar pasukan-pasukan peradang antibodi beserta para regu leukosit langsung bergetar hebat menyerang para penyusup di tenggorokan, getaran anarkis dan perang sporadis terjadi di seluruh medan agitasi. Jantungku berdebar tak keruan dan nafas kembang kempis menahan asa sambil membayangkan keonaran dalam tubuh, dada, dan lokasi terparah di glandula saliva tengah terjadi peperangan maha dashyat secara mikroskopis. Pasukan leukosit tidak lari terbirit-birit menahan serbuan pengacau kedamaian di dalam tubuhku, dan aku tak tahan membayangkan betapa sengitnya tembak-menembak atau serangan-serangan misil serta peluru kendali dan bombardir pesawat tempur, kapal penjelajah, tomahawk ataupun Scud dalam lambung. Perlahan-lahan pertempuran sengit dengan menurunkan berbagai persenjataan modern itu mereda dan berubah menjadi perang gerilya, menuju lambung dan intestinum yang akhirnya aku tak tahu lagi menahan rasa karena kantuk di mata begitu penat dan pandangan pun buyar setelah melirik jam dinding menunjukkan waktu pukul 3 dinihari di saat hujan dan petir membahana bak menunjukkan taji dan gigi kehebatannya dalam kegelapan subuh dan gemuruh bak air bah mengguyur kota kecil kami hingga pagi minggu menjelang.

#asia, #dicta, #erang, #getaran, #kejora, #languages, #peperangan, #perang, #permintaan, #programming, #prosa, #sakit, #translasi, #virus-dan-bakteri