Membangun Kompetisi

Antrian pagi hari di UI #ObamadiUI

Antrian pagi hari di UI #ObamadiUI (Photo credit: enda_001)

Kompetisi adalah kegiatan yang terjadi secara tidak langsung dalam kehidupan berkelompok atau bermasyarakat, apalagi dengan populasi anggota kelompok atau anggota masyarakat semakin banyak, terlebih-lebih tujuan yang disasar dan diharapkan juga semakin mendekati kesamaan yaitu untuk bertahan hidup selanjutnya bertahan untuk selalu menjadi terdepan.

Kompetisi dalam dunia sosial dan persekolahan juga sangat penting, terbukti sejak TK (saat ini disebut PAUD) hingga perguruan tinggi selalu dibanding-bandingkan kepandaian peserta didik atau kepintaran mereka melalui pembuktian ranking, peringkat, juara kelas sampai pada nilai rapot, nilai rata-rata, nilai ulangan, hasil tes, nilai indeks prestasi dan macam-macam. Tidak jarang kita dengar jika ada pertanyaan berikut :

“Kamu dapat nilai berapa ?”

“Sembilan”

Wah hebat ya, siapa dulu dong Mamahnya” atau “Wah surprais, siapa dulu dong Papahnya” atau yang ekstrim dikit ” Siapa dulu dong orang tuanya”

Namun sebaliknya jika demikian,

“Ulangan kamu dapat berapa nak?”

Lima puluh, mah”

“Wah siapakah gurunya? Ngasi nilai koq ngga becus!”

Selalu ada stereotipe bahwa kalo berhasil itu keberhasilan dan kesuksesan orangtua, namun jika peserta didik gagal itu sudah jelas kegagalan gurunya mengajar dan “memberinya pelajaran”

Seringkali saya membalik stereotipe seperti itu, kita buatkan kompetisi atau sayembara, baik untuk pelajaran di kelas, proyek-proyek kelompok, bahkan untuk hal-hal sepele yang cuma remeh-temeh (diremehkan dan ditemehkan)😛 ternyata animo dan permintaan (demand) pelajar untuk meningkatkan kapasitasnya juga meningkat, sekarang saya pribadi jarang mendengar pertanyaan dan jawaban-jawaban seperti di atas. Orang-orang tua di SMA Negeri-2 Palangka Raya tidak pernah lagi melayangkan wawancara humoris seperti di atas, namun saya pun belum tau apa alasannya:mrgreen:

English: Compete Magazine Cover: December, 2010

English: Compete Magazine Cover: December, 2010 (Photo credit: Wikipedia)

Semudah-mudahnya kita menolak, tidak menginginkan adanya persaingan atau adanya kompetisi, tetap saja kita harus mengikuti aturan tersebut. Semisal, harus berkompetisi bangun pagi untuk mendapatkan udara segar terlebih dahulu (harus bangun lebih pagi daripada sang Ayam Jago, terutama sebelum mereka berkokok dan menghasilkan bokeran yang menyesakkan napas mahluk berikutnya yang terbangun karena kokokan sang Ayam Jago yang telah berdiri sejak 1918)

Juga saat para mahasiswa saat ini tengah berjuang membayar SPP, melakukan konsultasi, tanda tangan KRS, meminta KHS, dan sebagainya, itu pun persaingan untuk berdiri, menarik perhatian dosen PA untuk segera melayani atau menarik perhatian dosen pembimbing untuk segera menyetujui proposal yang diajui agar secepat-cepatnya melakukan sidang Skripsi.

Persaingan harus terjadi dan harus dilakukan karena itu adalah nafas kehidupan manusia sebagai mahluk sosial, tanpa persaingan kita hanya menjadi pecundang.

Nah, para guru penting membangun kompetisi untuk meningkatkan kerja sama antar siswa, selain mereka pun merasakan sebagai bagian dari mahluk sosial. Persaingan yang sehat tentu harus diawasi dan diberi batasan, jangan dibiarkan para siswa sampai babak belur ibaratnya berbaku hantam antar mereka demi pencapaian (achievement) tapi juga diarahkan serta diingatkan dengan rambu-rambu yang benar.

Membangun kompetisi dimulai dengan membuat para siswa atau follower menjadi percaya, bahwa kompetisi ini baik untuk mereka dan berguna untuk masa depannya.

#dan-rank, #ekstrim, #macam-macam, #palangkaraya, #paud, #sepele, #stereotipe