Recharge

Sebenarnya minggu lalu kami ingin menyegarkan pikiran dengn mengunjungi mertua dan saudara-saudara istri saya di kota air, tetapi baru hari ini kami dpt laksanakan. Kebetulan minggu depan memasuki perayaan paskah yang diartikan sebagai hari pembebasan karena Yesus Kristus telah menang atas maut dan bangkit dqri antara orang yang mati. Sebenarnya ini dapat direnungkan sebagai kiasan, bahwa melalui keteladanan Sang Juruselamat, umat manusia bangkit dari kesalahan dan melawan maut (dosa) yang mengikat tubuh fana ini.
Minggu ini saya kembali menapaktilasi perjalanan setahun lalu, menimba ilmu penyupiran bak driver angkutan antarkota antar kabupaten antar propinsi. Kebetulan berangkat pagi, di saat jalan trans poros selatan kalimantan masih sangat lengang dan menikmati kondisi jembatan layang yang panjangnya puluhan kilometer yamg sedang dalam masa penyelesaian setelah dibuka pertengahan februari kemarin karena banjir rutin yang melanda kawasan bentang rawa di antara desa Tumbang Nusa.
Walau masih belum nyaman benar, dilanda perasaan gugup karena lama tidak berada di belakang setir untuk jarak 160 km, acara perjalanan lumayan terlampaui hingga akhirnya saya dapat dengan tenang memosting renungan ini. Selama awal berkendara, hati terbakar panah semangat untuk menguji nyali supir, namun seiring dengan kondisi jalan yang fluktuatif bak gelombang stasioner dan di sana sini masih ada node-node destruktif maupun konstruktif, nyali berkendara menyalip truk-truk besar, mobil-mobil besar dan mewah (ada fortuner, strada, hilux, mazda B2T, triton ford, tronton gandeng, pajero, ford escape, nissan elvia, honda crv, bmw z3, dll) pun kadang naik kadang turun. Apalagi yang saya kendalikan bersama keluarga adalah toyota avanza tahun 2004 yang cukup uzur untuk kawasan ini.
Sebagai mantan pengemudi akhir pekan trayek jarak menengah, adrenalin pun terpacu untuk melahap trek berkelok, memutar 135 derajat hingga trek lurus tanpa ampun dengan menginjak pedal gas, tapi sesuai anjuran pak polantas, sebab barusan membaca deskripsi etika berlalu lintas yang terintegrasi dalam kurikulum sekolah, saya pun selalu menahan diri untuk tidak melaju pada kecepatan di atas 60 mil perjam. (1 mil = 1,6 km).
Nervous dan gugup, kadang melanda tapi keyakinan untuk tetap selamat dan tidak menyenggol lintasan atau kendaraan lain harus menjadi acuan utama. Seperti itu pula jalan yang kita lalui dalam kehidupan ini, tidak seorang pun dapat menggoyahkan tujuan anda kecuali mereka telah melalui lintasan atau jalan yang sama dan telah sampai pada hasil akhir.
Perjalanan akhir pekan ini juga menjadi benchmark keberhasilan pencapaian atas kesepakatan bersama serta selamat bersama-sama.

Posting melalui WordPress Android

#akhir, #pekan, #perjalanan, #travelling, #tugas