UN 2013

Sejak hari Kamis, 11 – 4 -2013 sekolah menugaskan kami untuk memberi sosialisasi mengenai tata tertib pengawas dan peraturan-peraturan dalam Ujian Nasional 2013. Sebagaimana yang kami dapatkan dari Badan Standar Nasional Pendidikan serta presentasi-presentasi lain yang diunduh dari dunia maya dari rekan-rekan guru, kami beritahukan aturan-aturan dan tata tertib tersebut.

Misalnya: Adalah sebuah pelanggaran jika pengawas ruang membiarkan panitia sekolah sampai masuk ke dalam ruang ujian dan tidak melarang selain peserta ujian nasional boleh memasuki ruang ujian. Semestinya pemantau UN atau pengawas satuan ruang pun tidak diizinkan masuk ruang ujian oleh pengawas ruangan.

Selain ada larangan yang tertempel di dinding yaitu DILARANG MASUK RUANG UJIAN DAN MEMBAWA ALAT TELEKOMUNIKASI SELAIN PESERTA UJIAN NASIONAL, hal ini meyakinkan kami bahwa peraturan yang dibuat akan ditaati dengan benar. Saat kami menyampaikan hal ini tidak ada reaksi negatif atau respon kurang baik dari rekan-rekan guru internal, berbeda halnya saat sosialiasi serupa kami lakukan keesokan harinya untuk rekan-rekan guru yang menjadi pengawas silang.

Hal-hal yang mendasar dan saya sendiri sampaikan adalah :

  1. Membawa alat komunikasi telepon seluler ke dalam ruang ujian, baik pengawas pun juga peserta ujian nasional.
  2. Membawa buku atau koran ke dalam ruang ujian agar pengawas tidak lalai sebab kelalaian adalah pelanggaran ringan, namun di hari-hari akhir kami mendapatkan aturan ini terlanggar dengan kesepakatan dan saya enggan mengulanginya lagi.

Termasuk kebingungan pengawas tentang adanya soal cadangan, yang dikira adalah adanya lebih dari satu soal cadangan (sempat dikira demikian). Tetapi sesuai dengan aturan yang kami dapatkan bahwa soal cadangan hanya diberikan satu naskah saja dalam setiap amplop soal, maka soal cadangan tadi menjadi mentah kebenarannya. Ternyata saat pelaksanaan UN hanya satu saja lebihan soal UN tersebut, persis sama seperti asumsi dan dugaan kami pada hari Kamis dan Jumat 11-12 April 2013 saat sosialisasi.

 

Kemudian yang ditakutkan adalah pengawas menjadi mengantuk karena tidak membawa buku, terutama ada larangan pengawas mengobrol. Yang mana hal tersebut menjadi tidak benar, karena banyaknya kertas administrasi yang ditulis pengawas ruang saat ujian berlangsung yang masing-masing 3 set seperti berita acara, pakta integritas, lembar daftar hadir, amplop kembali dan termasuk tanda tangan pernyataan di balik surat Tata Tertib UN 2013. Membuat kantuk dan kelalaian tadi menjadi kecil kemungkinannya (terbantahkan dengan sendirinya).

Kerja sama antar siswa juga sudah kami wanti-wantikan agar diawasi dan ditegur, bukan membuat peserta ujian menjadi segan atau takut tetapi buatlah para peserta ujian menjadi aman dan terjamin selama mengerjakan UN 2013 ini. Dan hal ini telah dikerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh oleh pengawas satuan ruang ujian di sekolah kami.

Mencegah adanya kerja sama dan saling mencontek merupakan hal yang tersulit kami dapatkan faktanya karena setiap ruang ujian sebab ber-AC serta merta ditutup oleh pengawas satuan ruang. Pengawas satuan pendidikan pun tidak dapat semena-mena masuk ruang ujian seperti tulisan-tulisan blog lain, tetapi mereka menunggu di ruang sekretariat panitia UN sekolah dan bersama-sama menghitung, mengepak amplop kembali LJUN dan naskah soal UN yang kemudian dibawa ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Palangka Raya setiap hari dari awal sampai akhir.

Kabar kecurangan atau adanya bocoran jawaban soal tidak terdengar dan tidak ada, sebab kode soal yang dulunya tertulis sekarang ini menjadi tidak dapat ditebak sebab dicetak dalam bentuk kode gambar (persis sama seperti barcode di tulisan koran kompas), seandainya ada yang bisa memindainya dengan blackberry berarti itu sudah pelanggaran terhadap larangan yaitu TIDAK BOLEH MEMBAWA ALAT KOMUNIKASI KE DALAM RUANG UJIAN, (baik pengawas apalagi peserta ujian).

Kedengarannya sekolah kami menerapkan hal yang sangat sulit dan memperketat aturan, termasuk menyegel amplop kembali LJUN harus sudah dilakukan di dalam ruang ujian. Jika pun itu ragu-ragu, pengawas ruang melakukannya di hadapan pengawas satuan pendidikan dan panitia yang selanjutnya amplop diikat bersama-sama untuk diantar ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga.

Panitia pun tidak berani mendekati ruang ujian, baik untuk memeriksa kehadiran pengawas silang atau pun memeriksa kehadiran peserta ujian karena itu adalah larangan (pelanggaran). Demikian pula ruang ujian yang tidak steril (tidak disegel atau dikunci sebelum dan sesudah ujian nasional berlangsung) termasuk pelanggaran ringan, hal ini telah kami sampaikan saat sosialisasi internal terhadap guru-guru sekolah dan pengawas silang.

Akhirnya terlepas dari kecurangan, kekurangan pelaksanaan UN 2013, kontroversi yang terjadi dan lain sebagainya serta efek-efek ketidaksetujuan pihak lain terhadap UN. Kami secara pribadi berpendapat, jika saja UN itu direposisikan sebagai pengukur kemajuan bukan sebagai SALAH SATU penentu kelulusan, walaupun ada tertulis bahwa “penentuan kelululusan ditentukan oleh sekolah”, tetapi tetap saja yang benar dan diikuti bahwa KELULUSAN JUGA DITENTUKAN DARI NILAI UJIAN NASIONAL, JIKA UN TIDAK LULUS MAKA SISWA YBS JUGA DINYATAKAN TIDAK LULUS”

mudah-mudahan dengan aturan 60% dari nilai UN dan 40% dari nilai US yang telah terlebih dahulu diinput ke dalam format penilaian dari Dinas Pendidikan terkait, tidak menutup kemungkinan UN bisa membuat siswa menjadi gagal tahun ini. (Bayangkan selama tiga tahun mereka belajar dan lebih menyakitkan pupus harapan mereka karena tidak lulus UN atau nilai UN per mata pelajaran tidak mencapai rata-rata 5,51).

Maka, UN perlu ditinjau lagi pelaksanaan dan relevansinya di masa mendatang, jika memang kelulusan ditentukan oleh sekolah saya pribadi berpandangan cukuplah dengan ujian sekolah saja, uji-uji kompetensi yang dilaksanakan serentak dan dikelola oleh Dinas yang berwenang tidak Kabupaten/Kota ~ sebab instansi-instansi ini yang lebih menyentuh dan terkait langsung dengan peserta didik yang notabene adalah peserta ujian nasional.

Apalagi sejak kelas X dan XI, daftar nama siswa calon peserta UN 2014 dan UN 2015 sudah diinputkan sesuai format yang kami terima dari dinas terkait. (apakah artinya UN tetap dilaksanakan tahun-tahun mendatang?)
Hanya waktu yang bisa menjawab semua itu

#2013, #cerita, #kisah, #reposisi, #smada, #tambahan, #ujian-nasional, #un