Mengapa Ulangan Fisika ditakuti?

Saya dulu juga sering mengalami fobia saat bertemu dengan guru fisika, entah itu dimulai dari semenjak sekolah masih bercelana pendek hingga bercelana panjang bahkan kadang-kadang celana saya bisa memendek dan memanjang otomatis (tergantung kondisi cuaca saat sekolah).

Guru fisika saya saat SMP namanya Ibu Zaharah .. orangnya tambun, single mother, sampai saat ini saya tidak tau lagi keberadaan beliau. Ibu ini kadang bisa jadi pelawak kadang bisa jadi pemarah (menurut saya saat masih berseragam putih biru) tetapi pada dasarnya ibu ini adalah guru yang baik dan suka bercanda walau bobot tubuhnya atau wajahnya mirip WWE Divas yang sudah pensiun. Seingat saya, kami belajar fisika di SMP itu sampai lulus ya dengan ibu ini dan setelah itu lost contact ngga tau lagi rimbanya di mana.

Saat SMA, saya masuk SMA-3 Palangka Raya tahun 1988 dan lulus tahun 1991, kembali saya diajar oleh beragam guru fisika yang didominasi para pria, mulai dari Pak Hari Sasongko, Salingkat, Solihin, dan ditutup oleh Hari Sasongko lagi. Yang konon kabarnya beliau sekarang tetap menjadi guru fisika di salah satu sekolah di Jawa Timur, tapi ngga mau pulang-pulang entah apa yang ditakuti (mungkin sudah menjadi rocker).

Ulangan yang paling saya ingat adalah ulangan fisika kelas 2 SMA, di mana tidak ada satu pun yang mau menurunkan rumus-rumus fisika di tembok dan akibatnya kami sekelas harus remedial tidak boleh membuka buku diambil dari buku Halliday Reisnick tentang mekanika. Baru setelah saya kuliah di FKIP Univ Palangka Raya dan mempelajari Mekanika baru terselesaikan (bukan karena ngga bisa tapi karena males) :)) ..

Memang konyol saat SMA, menghadapi guru killer seperti yang dilakukan siswa terhadap saya saat ini bukan dengan petantang petenteng tapi dengan kelemahlembutan dan kehati-hatian, juga menghadapi ulangan mata pelajaran yang cukup “berat” harus dicicil belajarnya jangan sekaligus karena bisa menjadi beban berlebihan overload akhirnya bisa sekarat !

Biasanya saya menghadapi Ulangan Fisika baik di SMP/SMA bahkan hingga perguruan tinggi dengan bangun dinihari, cukup membaca untuk mengingat rumusnya, mencari penyelesaian soal dan mencoba menyelesaikan soal yang saya yakini bisa diselesaikan. Jika menghadapi masalah soal yang sulit, saya menguraikan perlahan-lahan secara skematik menurut daya nalar yang saya miliki. Memiliki daya nalar yang perfeksionis hanya dapat tercapai melalui latihan-latihan berminggu-minggu, bertahun-tahun, berbulan-bulan, berpuluh tahun, juga harus pantang menyerah sebelum dapat jawaban yang memuaskan.

Ulangan fisika itu atau juga ulangan yang lain tidak harus ditakuti, tapi perlu dinikmati excited ketegangannya karena jika KETEGANGAN itu telah mereda kita tidak akan lagi mendapatkan KEBAHAGIAAN telah melaluinya degan TAWAKAL dan PRIHATIN.

Untuk apa menakuti ulangan yang juga dibuat oleh MANUSIA? Sama juga dengan Ujian Nasional, untuk apa ditakuti? Ketakutan terjadi karena kurang percaya terhadap diri sendiri, terhadap kemampuan sendiri, terhadap pelajaran yang telah diterima, ketidakpercayaan terhadap jalan yang telah dilalui, ketakutan yang tercipta karena KETIDAKBERDAYAAN terhadap DIRI SENDIRI !

#guru-killer, #guru-sadis, #killer, #sadis, #ulangan-fisika