Sup berkuah

Kadang kala kebaikan kita bisa disalahartikan dan dibuat semena-mena serta seolah-olah dijadikan bahan olok-olokan, sebagaimana pegawai negeri sipil, guru juga standar. Pada saat suatu keseriusan dipertanyaan dan memberi sumbangan awal saja untuk tanda perhatian dianggap olok-olokan maka sesungguhnya yang mengolok-olok sudah mempermalukan dirinya sendiri.
Mendapatkan esensi pengetahuan dari rumus itu seolah sebagai pembuka tutup botol kepalsuan karena diberikan soal dari gurunya, setelah pertama kali asupan sendok pertama mengatakan bahwa sang guru sudah tua dan tidak pernah menjelaskan. saya jadi menyangsikan kalimat pengantarnya dan saya mencurigainya.
Diuji dan diuji kesungguhannya bukan berarti boleh semena-mena, tugas pekerjaan rumah dijadikan alat candaan bagi saya sungguh keterlaluan ibarat sup ayam dengan kuah banyak tapi tidak ada rasanya, ayam pun hanya sebagai pelengkap bukan sebagai sajian utama.
Dengan sangat menyesalkan saya tidak mau melanjutkan mengisi pengetahuan (menjawab soal) jika ujaran saya yang sederhana, dikenal pula tidak, basa basi ngga ada, sapaan pengantar tentang dirinya pun tidak ada tiba-tiba minta tolong, mau beretika bagaimana? Dan saya yakin hal berikutnya yang terjadi pasti kata-kata yang tidak berkenan, seolah-olah dirinya paling benar tapi siapa sebenarnya yang membutuhkan? Siapa yang perlu?
Kemarahan, kekesalan, ketakterimaan, dipecundangi, diolok-olok akhirnya terjadi, mana simbiosis kerjasama yang saling menguntungkan, anda dapat cara ya bagaimanalah caranya memberi timbal balik kek, apa kek, apa nek, masa cuma mengolok cuman nanti dibilang sombong, pengaruh, pina musti, apakah yang anda ucapkan!
Saya sangat menghormati guru anda yang memberikan tugas itu, jangan diolok-olok karena sudah tua dan tidak pernah menjelaskan, anda saja yang kurang perhatian kurang komunikatif, terlalu sering ribut-ribut di dunia lain.
Sama seperti halnya kita minta tolong kepada orang lain, jika tidak ada timbal-baliknya dan segi keuntungan untuk apa diteruskan?
Siswa yang saya ajarsaja tidak pernah minta tolong seperti itu, ngga pake babibu, perjelas dulu identitas. Baru liat kemarin lewat situs jejaring sosial sudah sok kenal sok dekat, padahal awal pertemanan karib dan pertolongan adalah proses pendekatan seperti memasak kuah kental dari sup yang penuh kaldu dan dirasa nikmat pada waktunya bukan tiga menit jadi seperti sup instan yang terlalu banyak bumbu penyedad dan kematangannya pun berbeda!

Pertanyaan baru dari Kevin Chandida Irawan, Apakah ada Sup yang tidak berkuah? Jawaban saya : jika supnya gosong dan kuahnya tidak ada karena kering, baca dong posting sebelumnya nak Kevin (bukan Kelvin Michael yang juga jago debat kusir)

Posting bersama WordPress di Android

#ayo-silakan-aja-spam, #emangnya-kamu-tau-apa-tentang-guru, #filternya-juga-jalan, #jangan-belagu, #kenal-aja-tidak-sudah-maen-olok-olok-dengan-guru-sendiri-apalagi-dengan-saya-orang-yang-tidak-kamu-kenal, #lo-nanti-pasti-bilang-gua-belagu-baru-segitu-sombongnya-minta-ampun-nga-mau-bagi-bagi-gitukan-belum-diajar-yang-bener