Optimalkan media sosial oleh gurumu

Kenikmatan berfacebook adalah melihat foto dan tidak didominasi teks, selain itu kita cepat menulis komentar dan dibalas popup (muncul mendadak) bak animasi dan menampilkan banyak album foto serta mudah mengunggah fotonya, dengan kestabilan facebook melalui servernya yang banyak dan terjaring bak sarang laba-laba, kemudahan pengunggahan foto semakin memanjakan pengguna. Setiap saat pemakai baru selain pemain lama yang memiliki banyak akun terus bertambah tak berbatas. Sempat tersiar kabar bahwa Facebook akan tutup dan sempat terjadi migrasi pengguna jejaring sosial ini, tapi itu hanya isapan jempol. Karena sampai hari ini facebook masih berkibar dan terus menerima pendaftar.
Dulu pemanfaatan media sosial saya gunakan untuk menginformasikan kegiatan kelas, ulangan-ulangan, hasil-hasil ulangan, pendapat pribadi bahkan uneg-uneg, seiring dengan seringnya saya tergelincir karena emosi dan kurang kontrol diri, termasuk saya pernah menjadi pengritik sejati pimpinan instansi yang sempat berkali-kali memanggil saya untuk meminta klarifikasi, saya juga sering mendapatkan surat “cinta” dengan perihal minta segera dimutasi hingga diminta mengundurkan diri, pun saya pernah dihujat karena terlalu lebay dan frontal memberi argumen atau pendapat, pernah ada sekelompok peserta didik yang mengatasnamakan gerakan pembaruan sekolah menyuarakan isi hati mereka penderitaan mereka karena ke-frontal-an saya lengkap dengan opini yang tragik.


Itu semua tidak menyurutkan tekad dan semangat pribadi saya untuk terus memahami diri dan mempelajari penetrasi maupun dampak negatif media sosial.Berkali-kali berperang opini, diserang beramai-ramai bak musuh bersama oleh penulis blog lain atau pengunjung lain yang tak beridentitas bahkan yang sering malang melintang di dunia per-blog-an menambah jam terbang menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan, bahkan banyak sekarang yang menyaru sebagai saya untuk mendapatkan keuntungan finansial, modus penipuan hingga pencemaran nama baik dan perbuatan yang tidak menyenangkan. Semua kegundahan dan negativitas tersebut dapat kita klarifikasi dan perbaiki dengan pemanfaatan media sosial secara strategis sekaligus self-control bagi saya selaku guru dan juga penge-blog (narablog sebutan dari rekan saya urip yang Juara 1 Guraru Award tahun 2010).Saat saya mengikuti seminar-seminar Ikatan Guru Indonesia di Palangka Raya, sekjen IGI, Muhammad Ihsan bahkan mengatakan para guru harus berteman dengan siswa-siswanya melalui facebook agar dapat mengontrol kelakuan, perubahan status hingga pertemanan mereka.
Tapi kenyataannya, guru selalu kalah beberapa langkah dibanding siswa ketimbang diGugu dan Ditiru dari segi “kedahuluannya” mengetahui informasi dan ilmu. Sayang sekali ya, di tengah masalah modernisasi dan teknologi ini, para guru selalu tertinggal dan semakin jauh tertinggal. Alasan klise yang dapat kita terima dan (kadang) terpaksa kita telan mentah-mentah adalah “karena kami sudah tua, kami sudah tidak mampu, kami tidak hobi, kami tidak punya kemampuan (apakah uang atau talenta)” atau yang perlu diakui adalah “kami malas berfacebook” karena itu nggak penting, ngapain ngurus-ngurus hal demikian.
Dengan meningkatkan pemakaian twitter yang berada pada urutan populasi ke-7 warga penggunanya dibandingkan jumlah penduduk dunia, perambahan media sosial semakin rumit dan mendivergen ke penjuru dunia, kawasan kita ini didugamasih sedikit pengguna twitter dari kalangan guru. Karena alasan ngga berguna, ngapain, ada ngga untungnya, cuma buang-buang pulsa, padahal beberapa provider seluler telah menggratiskan koneksi twitter dan facebook lho..Bukankah hal itu sebuah “keuntungan” bagi guru untuk juga eksis di jejaring sosial, dunia maya, selain menulis blog, beraktivitas di dunia tulisan digital, mengaktifkan diri di guraru.org, berseliweran tulisan di kompasiana, selain berselancar dari sekedar melihat foto-foto pemandangan atau apa saja yang menghebohkan, membaca berita atau koran digital.
Orang banyak melihat “eksis” di dunia maya justru merugikan (cocok bagi yang low profile) atau introvert, tapi menurut pribadi saya guru yang introvert adalah guru yang eksklusif, bagaimana mau berbagi dan mengajarkan perubahan jika tetap introvert?  Sudah takdirnya bahwa menjadi guru harus berlebay beralay dengan kata-kata, mengobral tulisan yang tentu saja telah dipikirkan matang-matang akibatnya (bagaikan pedang bermata dua), tidak sedikit pula rekan-rekan guru yang terjebak dengan euforia atau bahkan terpeleset saat mengumbar status dan opininya sebab tanpa penyaringan kemanfaatan.
Melalui artikel ini, walau sepenuhnya adalah opini pribadi yang masih jauh dan perlu diriset serta ditelaah, dikaji, dikritik lagi,  sudah saatnya guru membuka diri beraktif ria di jejaring sosial atau media sosial, terserah orang mengatakan bahwa itu Alay itu Lebay itu ngga berguna, itu mubazir atau apapun cacian negatif, perang komentar dan hal-hal yang menyurutkan mental dan langkah kita wahai para pembaharu negeri, guru era baru yang saya muliakan, jangan mundur setapak pun dan jangan surut selangkah pun dari arena ini.
Karena kemajuan dan perubahan ada di tangan kita, jangan hanya ada di dalam benak kita sebatas impian tapi mari kita terapkan melalui pemenuhan artikelisasi, tulisan-tulisan inspirasi hingga opini (terlepas dari kontroversi atau yang provokasi maupun opini pendukung terhadap suatu kebijakan) sebagaimana yang dilakukan sebagian rekan-rekan kita Om Jay (Wijaya Kusumah) yang Guru Paling Nge-Blog, Dedi Dwitagama kepsek yang juga Motivator, Agus Sampurno (Guru Kreatif), Urip (blogger Guru Kimia Kalteng dari Pangkalan Bun), dan rekan-rekan lain.Selain itu melalui artikel ini pula siswa-siswa saya dan juga para alumni yang pernah saya ajar, juga rekan-rekan sosial saya bisa mempelajari dan mengikuti pemikiran dan ekspektasi pribadi.
Para rekan maya ini menjadi rekan belajar yang tidak terbatas ruang dan waktu saja, tanpa harus terkungkung sekat-sekat fisika semata, kemampuan-kemampuan non akademis semakin tergali dan meng”gila” saat ditempa melalui jaringan pertemanan yang teratur, terawat, terawasi. Yang menggembirakan dari penetrasi keberadaan saya, selaku guru, dalam media sosial dengan rekan-rekan siswa yaitu dapat menjadi teman sekaligus sahabat mereka di mana saja berada, bisa curhat bahkan curcol secara langsung (terbuka) atau melalui PM (private message), DM (direct message). Jika saya tergelincir untuk melakukan hal yang bukan-bukan, masyarakat dan rekan-rekan guru serta rekan-rekan belia segera mengingatkan dan memperhatikan dan mengawasi hal-hal negatif yang saya perbuat.
Saya mengingat kembali tulisan #guruseru Bulan April 2013, bahwa “keberadaan guru di dunia maya, dunia penulisan digital, media jejaring sosial akhirnya disayangkan kebanyakan menuliskan isi perasaan dan status yang “gaje” semata, jauh dari kemanfaatan media sosial tersebut sebagai wahana pemersatu dan pembaharu generasi bangsa, tunas-tunas emas Indonesia.
Mari membangun negeri dengan memberikan asupan inspirasi melalui media sosial yang sehat dan terawat serta terawasi.

Posting bersama WordPress di Android

#burung, #facebook, #fesbuk, #jejaring-sosial, #kicauan, #kompasiana, #konten, #media-2, #media-sosial, #ochean, #opini, #sosial, #sosial-media, #sosmed, #twitter