Kicauan Burung Biru

Masa kini berkiprah di jejaring sosial sudah menjadi tren, kebiasaan umum. Jika dulu jejaring sosial medianya dicapai menggunakan komputer rumah atau laptop, dengan bantuan koneksi modem, wifi hingga modem seluler. Sekarang sebaran sosial media dapat dijangkau dengan telepon seluler. Telepon seluler tidak hanya untuk menelepon, sms, menerima dan mengirim email, tapi juga berselancar di internet, berbagi file atau dokumen hingga memainkan game online. Telepon seluler seperti ini dinamakan smartphone atau telepon pintar, tapi ada kalanya smartphone berubah menjadi stupidphone jika sinyal yang mrmbawa atau menerima informasi bukan kategori 3G, Hsdpa, bahkan bukan LTE.
Sebaran sosial media menyebabkan beberapa operator seluler bersaing menggratiskan akses menuju facebook ayau twitter mengingat pangsa pasar yang besar untuk berinternet, selain pengguna konvensional. Kebebasan akses sosial media ini memberika  dampak yang sulit dikontrol dengan baik. Karena siswa  belia yanb belum mendapat pengertian yang matang tentang bergaul di dunia maya, berperilaku di cyberspace dari guru dan orang tua. Apalagi di tempat saya ini, sebagian orang tua dan guru menyerahkan “ketidaktahuan” kepada anak-anak mereka yang akhirnya anak-anak ini menjadi bebas lepas sebab orang tua dan gurunya tidak bisa mengawasi karena “kealpaan” mereka untuk mengetahui dunia maya.
Sesungguhnya yang paling bertanggung jawab terhadap perkembangan anak, termasuk pergaulannya secara fisik dan juga non-fisik, adalah orang tua masing-masing selain guru-guru di sekolah.

Posting bersama WordPress di Android

#jejaring, #media-2, #rame, #sosial, #sosmed