Beda Tukang Parkir Luar Pulau

Catatan dari Richard Elba, beliau ini sekarang seorang mahasiswa di Kota Pelajar, pulau seberang, menuliskan pengalamannya sebagai berikut :

Pembahasan kali ini sudah tidak asing lagi mengenai ”Fenomena Tukang Parkir” di Indonesia, yang ingin saya bahas disini adalah perbedaan cara kerja dan sifat “tukang parkir” bahkan jenis kelaminnya daerah tempat saya lahir dan “tukang parkir” di tempat saya menempuh pendidikan S1 saat ini (nama daerah belum lulus sensor). Saya menemukan kejanggalan dalam kinerja tukang parkir di “luar daerah asal” saya, apalagi saat awal-awal saya datang kesini untuk menempuh pendidikan lanjut yang memisahkan jarak antara orang tua dan saya sendiri, disini saya hidup sendirian tapi untungnya saya memiliki teman-teman sejak kecil tepatnya sejak SD hingga saat ini dan berada dalam 1 atap kost yang menjadikan kami keluarga, mereka adalah Yanpresko (eyang pepep), Oldy (cucu dari eyang pepep), Soterlius (si ganteng yg cita-citanya mau buat diskotik dekat rumah) dan yang terakhir Deny (sebut saja bunga di tepi jalan). Cukup dulu perkenalannya dan kembali ke topik “fenomena tukang parkir”, nah jarak itulah yang memisahkan antara orang tua dan saya sehingga harus menerima uang jajan dari orang tua melalui ATM.

Pernah suatu ketika atau mungkin karena awalan dari hidup diluar daerah asal, saya hendak mengambil uang saya di ATM, awalnya sih si tukang parkir ini tadi wujudnya tidak terlihat sama sekali, tapi ketika saya keluar dari ATM dan melihat motor saya yang tempat duduknya sudah ditutupi dengan 1 lembar kardus persegi panjang kemudian sontak saya melihat sosok manusia memegangi dan mengelus – elus uang ribuan dan ternyata itu adalah sosok ”Tukang Parkir” yang akan saya bahas pada topik kali ini. Dengan perasaan yang sedikit kaget saya mengatakan “maaf mas, kebetulan saya baru ngambil uang, jadi ga ada uang kecilnya mas” sampai disini saya pikir dia akan menjawab omongan saya, ternyata wujud ini tadi hanya buang muka -__-, saya pun melakukan hal yang sama dengan wujud tersebut ”buang muka” ! yang menjadi perbandingan saya kali ini adalah “tukang parkir” di daerah saya tidak seperti itu, bisa disebutkan : 1. tidak ditemukannya tukang parkir dadakan. 2. tidak ditemukannya tukang parkir di ATM, (ada sih tapi ga semarak ditempat ini). 3. tidak ada tukang parkir yang seketika buang muka dikarnakan tidak diberikan komisi harian. 4. jarang ditemukannya tukang parkir perempuan di daerah saya. hmmm..sedikit omong kosong sih tentang “Fenomena Tukang Parkir” kali ini, tapi menurut saya pribadi perlu dibahas karena darisini kita dapat melihat perbedaan atau kerasnya perbandingan hidup daerah tempat asal saya dengan daerah tempat saya menuntut ilmu, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa faktor ekonomi lah penyebab utamanya, sehingga berbagai macam cara pun ditempuh untuk mendapatkan atau meraup kesejahtraan yang masih sangat jauh. Saya sendiri belum dapat merasakan kerasnya atau susahnya mencari materi untuk modal hidup saya sendiri, tapi disini saya mendapatkan kutipan bahwa : “janganlah berdiam diri saat kita masih muda sebelum hilang masa muda kita, karena waktu tidak dapat dikembalikan atau diputar ulang, untuk itu isilah masa muda dengan hal yang positif, terutama untuk masa depan kita sendiri, lebih baik kita capek dan terengah – engah bahkan sampai berdarah sekalipun untuk masa depan kita agar tidak sia – sia dan membuahkan hasil yang memuaskan”

Sumber : http://elbaferdy.wordpress.com/2013/06/02/fenomena-tukang-parkir-di-luar-daerah-asal/

#blog, #cara-kerja, #elba, #fenomena, #fenomena-tukang-parkir, #fernando, #kuliah, #mahasiswa, #parkir, #tukang-parkir-lain-pulau