Pejuang Air

Seminggu yang lalu, ketika saya melakukan pembimbingan Astronomi bersama Ahmad Maulani ( XI IA-4) dan Anastasya M.  Silalahi (XI IA-3)  yang akan bertarung pada tingkat propinsi Kalimantan Tengah esok hari, saya memasuki kelas di pojok gedung baru, dulu digunakan untuk kelas XII IA-2 dan sekarang digunakan oleh kelas X-3. Sore hari itu hati saya sangat trenyuh melihat di sekeliling kelas teronggok botolan-botolan air mineral seukuran 600 mililiter. Saya berjalan mengelilingi ruang dan saya dapati hal yang memilukan, bahwa setiap laci meja juga menyimpan semua botol itu dalam jumlah banyak dan hanya diminum separuh dan itu pun seperti akan dibuang bukan direncanakan untuk disisakan.

Pikiran saya langsung menerawang pada kelas yang semula berada dalam ruang ini, jangan-jangan juga pernah melakukan hal yang sama. Saya kemudian mengitari ruang lain dan mendapati hal serupa juga. Sampai pada hari rabu, empat hari lalu, saya berbicara di kelas Ahmad Maulani, bahwa betapa cerobohnya pelajar di sekolah kita hanya dengan menghamburkan uang Rp 2000 saja beberapa liter air disia-siakan, bayangkan jika kita sama seperti rekan-rekan di benua Afrika yang kekurangan air, di pengungsian yang kekurangan air. Kita malah menghambur-hamburkan botol air mineral ini.

Bagi penjual atau pedagang air mineral botolan, tentu saja hal ini memberikan keuntungan sebab botol yang dijual selama berisi air penuh akan terus dibeli dan terus dibeli. Kocek mengalir ke dalam pundi-pundi hawa untuk dijadikan modal berjualan kembali. Namanya juga retail kan.

Seandainya dalam satu botol yang berukuran 600 ml itu tersedia 1/4 bagian yang sudah diminum, maka terdapat 450 ml air yang tersisa. Terdapat 19 ruang dengan masing-masing anggota kelas rata-rata 37 orang, jika dalam populasi kelas tadi terdapat 20 orang saja yang minum air mineral dan menyisakan 450 ml air (saya menggunakan asumsi 450 ml sebab dari semua ruang yang saya kunjungi sebagian besar menyisakan air jumlah banyak dalam botolan mineral0 :wow:😦

Diperoleh 450 ml x 20 x 19 ruang = 171 000 mililiter per hari atau sekitar 171 liter per hari. Jika ini dihitung sebagai galon air yang sebesar 19 liter. Maka 171 liter air tersebut setara dengan 9 galon air sehari. Jika dalam sebulan (normal) ada 5 hari minggu jika tidak ada hari-hari besar yang bertanggal merah diduga 4275 liter atau 225 galon air yang tersisa (terbuang sia-sia!)

Kemudian pada hari Sabtu kemarin, bersamaan dengan persiapan panitia sekolah dengan ruang pra ujian, saya mengajak beberapa siswa pria memeriksa kelas-kelas yang menyisakan botol-botol air mineral sebagaimana temuan saya pada hari senin seminggu lalu.

Temuan tidak separah yang diduga tapi untuk sehari saja didapat sekitar 40 botol 600 ml penuh dari pencampuran residu air mineral yang “bersih” berarti setara dengan 24 liter ya sekitar 2 galon air lah (mengingat hari ini hanya pelajaran setengah hari dan banyak kelas yang bersiap-siap ulangan akhir maka durasi belajar juga sedikit) dapat dikatakan bahwa temuan ini cukup fantastis dibandingkan cuma dibuang 2 liter saja per hari. Nah kita bisa temukan juga untuk ruang publik yang jauh lebih besar, berapa banyak air mineral terbuang sia-sia.

hasilakhir tampakbelakangtimpejuangtemuan

Saya semakin prihatin jika ini juga dialami sekolah-sekolah lain yang populasi siswanya besar juga mendapati hal seperti ini.

Walaupun demikian, kita yang katanya menghargai air sampai memiliki Hari Air! Kapan kita hormati dan memperlakukan air yang menghidupi kita?

#air, #air-mineral, #botolan, #hari-air, #menghormati-air, #pejuang-air, #perjuangan