Menambal Ban itu “sesuatu”

Profesi yang satu ini sepertinya dekat sekali dengan jalan. Tidak mungkin membuka bengkel tambal ban dalam gang sempit apalagi gang buntu. Terlebih dalam komplekan yang tidak ada jalannya, gawat.

Sepanjang jalan (kenangan), tentu ada warung atau kios bahkan cafe yang menyediakan jasa tambal ban. Mengapa bukan toko jual ban? Sebab membuat ban itu repot dan lama, serta belum tentu pengguna kendaraan bermotor memiliki uang yang cukup jika setiap ban kempes harus ganti ban. Juga menjual ban itu rumit, karena tidak semua ban yang dijual akan cocok dengan kendaraan yang lewat😀

Sebenarnya yang diganti tentu bukan ban bagian luar, tetapi bagian dalemannya. Ban dalam (usus ban, seringkali kami menyebutkan dalam bahasa daerah “ucus”) merupakan fungsionalitas kendaraan bermotor yang paling vital agar dapat ditunggangi dan  nyaman dinaiki.
Pada keadaan dugem atau senang, kita merasa melayang dengan kendaraan. Tentu saja kendaraan yang menggunakan ban, tanpa helm mendapat angin sepoi-sepoi kencang, berduaan dengan kekasih hati sambil memeluk dari belakang. Amboi nian !

Tapi saat ban (yang umumnya berbentuk bulat, bukan kotak apalagi persegi) tidak mau berinteraksi.
Ban tak lagi mau menggembung sebagaimana roti. Tentu hati ini menjadi gundah gundala karena harus menggeret kendaraan yang beratnya beratus kilogram, digiring menuju kios tambal ban.
Tidak ada sepeda motor yang dapat ditenteng atau diangkat bak mengangkat sepeda mini atau sepeda ontel. Mau tak mau, kendaraan matic yang bahenol nan  bohay sudah mencapai massa 120 kg apalagi kendaraan non-matic masih manual dengan injak kaki pada perseneling  tentu lebih berbobot (maxi) dibandingkan motor bebek (koq tidak ada motor angsa atau motor ayam ya?):mrgreen: bahkan BPS menjumlahkan hingga tahun 2011 jumlah pemakainya mencapai 62 juta.  (ini berarti 80% dari populasi kendaraan bermotor didominasi sepeda bermotor) !

Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 234 juta jiwa pada tahun 2011, maka setiap empat jiwa penduduk setara dengan sebuah sepeda motor. Belum lagi sepeda motor sekarang semakin mudah dibeli cukup dengan setengah juta dan cicilannya dipikirkan bulan berikutnya, sebuah sepeda motor ternama langsung meluncur menuju rumah konsumen.

Nah apabila ban bocor tinggal tambal saja!  jika malas menunggu tambalan yang memakan waktu lama tinggal ganti ban dalam saja. Waktu pembakaran kadang ada yang 10-15 menit bahkan ada yang lebih lama lagi jika terpaksa ngantri di bengkelnya. Apabila kita menginginkan hanya mengganti ban dalamnya saja cukup dalam waktu yang sangat singkat kurang dari 10 menit, motor sudah siap berangkat. Wow, semacam gimana gitu kalo harus menunggu (beda juga kalo “Raisa yang bersedia diajak  ngopi mau juga menunggu prosesi menambalin ban😛 )

Masalah terbesar dari ritual menambal ban ini adalah jadwal ban yang harus diganti atau mengapa ban harus bocor? sepertinya kualitas ban dalam atau kekuatan ban luar menahan “Sentuhan” dari benda tajam asing yang menusuk sekeliling roda menjadi melemah.Pertahanan dalam ban (secara kesatuan roda) semakin rapuh dan fragile, apakah karena kadar karetnya yang semula tebal menjadi tipis? Sebab karet yang bermutu tinggi lebih banyak diekspor ke luar negeri dibandingkan untuk dikonsumsi? Ataukah ban dalam dan ban luar harus dibuat tipis agar menyuburkan populasi petugas tambal ban?

Semakin lama kualitas ban dalam maupun ban luar juga semakin berkurang, masih belum ada statistik yang menguatkan jumlah korban ban bocor selain korban kriminal akibat ban kempis atau ban kena paku di kota metropolis yang berakhir pada peristiwa kriminalitas (penodongan, perampasan, perampokan, pencurian pemberatan, dan sebagainya).

Populasi nyambi dari juru tambal ban yang bekerja sama dengan oknum residivis pun semakin kita takuti, terutama jika kita mengalami ban bocor di tempat sepi dan asing serta tidak kita ketahui keamanannya. Wah semakin memperburuk suasana hati jika harus menerima “nasib” ban bocor !

Diperparah dengan lokasi kios tambal ban yang jauh atau tidak kita ketahui sebab tidak tercatat dalam gps atau peta, maka memperburuk strategi menggunakan kendaraan bermotor di tempat yang tidak ada atau tidak dilintasi kendaraan umum (di luar kota misalnya).

Beragam inovasi membuat acara tambal ban menjadi mudah pun, masih memakan waktu lama. Mulai dari memarkir kendaraan di tempat yang aman, membuka kunci ban (untuk orang awam yang tidak terbiasa buka-bukaan kunci roda perlu waktu 30 menit lho!), kemudian melepaskan karet ban dan memanaskan karet penutup bocor dengan mesin pemanas (memerlukan waktu 13 menit) dengan segala macam resiko termasuk kemungkinan terbakar tangan. Ya kalo cuma bocor, bagaimana jika bannya robek ? Lebih gawat daripada yang bisa dibayangkan, ya harus membeli ban pengganti !

Walau demikian kita memerlukan cara dan teknik agar ban sepeda motor atau kendaraan bermotor tidak mudah bocor, tembus, setidak-tidaknya sampai dengan kios terdekat atau bengkel terpercaya dengan harga yang terpercaya pula.

Demi keamanan dan kenyamanan bersama. Pengguna motor ceria dan juru tambal ban gembira.

Salam Tambal Ban.

Artikel terkait : http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/15/csr-perusahaan-tambal-ban-gratis-495927.html

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/06/11/tambal-ban–567626.html

#indonesia, #ironman, #juga, #jumlah-penduduk-indonesia, #lama, #motor-bebek, #nambal-ban, #sepeda-motor, #superman, #supermie, #tambal-ban