Lempar Batu dan Ketok Palu

image
image

Kemarin malam ditetapkan kenaikan harga bahan bakar minyak sebagai bentuk penyelamatan keuangan negara dari subsidi yang salah sasaran. Isu ini terus digulirkan sebagai alasan untuk mengurangi biaya “hutang” untuk menurunkan harga jual bahan bakar di dalam negeri. 50 juta kiloliter bensin premium menjadi alasan utama pengurangan subsidi. Ditakutkan dampak kenaikan ini memukul daya beli masyarakat dengan kenaikan harga barang pokok.
Pemerintah sebagaimana pasal 33 UUD 1945 penguasa perekonomian sepertinya tak berdaya karena tingkat ketergantungan pada ekonomi mancanegara, wisatawan masih kurang mampu mendongkrak devisa negara, tenaga kerja di luar negeri sebagai penyumbang devisa semakin dikurangi jatahnya karena beragam masalah.
Selain masalah kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan dan bantuan langsung sosial masyarakat pun tak sanggup meredam laju kemiskinan rakyat.
Para penggerus keuangan negara terus ditelisik hingga didapat dan menjadi bulan-bulanan namun hasil penyelamatan ini pun masih berupa tanda tanya. Berbagai moda dan lobi menghambat upaya prnyelamatan keuangan negara disektor penegakan hukum karena berbagai kepentingan. Sayang, rakyat juga yang menanggung bebannya.
Hutang negara terus bertambah bahkan tak ayal, sejak berhentinya kerja sama negara donor jntuk negeri tercinta ini, bayi yang baru lahir ceprot pun sudah kecipratan menanggung hutang negerinya.
Tak ayal lagi, kepercayaan rakyat lambat laun akan pupus dengan pimpinan yang menjadi tumpuan harapan, calon-calon wakil rakyat semakin keras memperjuangkan keterpilihannya pada Pemilu 2014 yang nantinya menggiring kita semua pada pemilihan pimpinan negeri ini.
Mahasiswa dengan energi mudanya, tak perlahan menggedor hati nurani sekalipun itu terlihat sangat anarki. Ini adalah simptom bahwa ada sekat-sekat yang merambat semakin pekat dalam hubungan berbangsa dan bernegara melalui demokrasi.
Tidak salah jika Mahatma Gandhi mengatakan, bahwa harga sebuah demokrasi sangat mahal. Hanya orang yang kaya, mampu, serta cerdik pandai yang benar-benar menikmatinya. Kita hanya sebagai penonton dan obyek semata.
Sebagaimana istilah suara rakyat adalah suara Tuhan, tapi wakil-wakil kita yang punya kemampuan untuk melobi, berargumentasi, melempar opini, memberi analisa hingga mengetuk palu tanda keputusan maha penting dinyatakan pun hanya mampu mendengar desahnya saja, gaung dan gema membaurkan kejelasan makna.
Jika ada anarkisme atau suara teriakan yang mengoyakkan untuk meneriakkan keprihatinan dan ketakutan hanya dianggap sebagai tawuran antarkelompok masyarakat dan dinyatakan telah ditunggangi pihak ketiga, pengalihan isu-isu politik, dan sebagainya.
Jika suara tak lagi dapat didengar, maka batu serta benda tumpul dan mercon petasan yang menyalak. Ini sudah kriminal. Sudah sepantasnya kriminalis dilawan dengan alat-alat negara. Emosi yang berubah menjadi keangkaramurkaan, bereskalasi menjadi kumpulan kemarahan dan ketidakpuasan berbenturan dengan kepentingan negara.
Siapakah yang mewakili rakyat sekarang, lontaran batu ataukah ketukan palu?

#bbm, #chaos, #demo, #demokrasi, #demonstrasi, #family, #happened, #kekacauan, #mahasiswa, #masyarakat, #nation, #oil-price, #people, #peoples, #petrol, #petroleum, #politik, #protes, #riot, #riots, #something, #terorisme, #wakil-rakyat