Menuju Acer Guru Era Baru (bagian 1)

Rabu, 20 November 2013 adalah hari yang menggelisahkan karena hari itu pukul 17.00 WIB terpampang tulisan di web gurau.org tentang finalis Guraru award 2013 yang salah satunya seperti akhirnya diketahui adalah nama saya tertulis sebagai urutan ke-2 dan memang pada kenyataan itulah urutan yang saya peroleh setelah pengumuman pemenang tahun ini😀
Kebetulan bukan?
Tetapi yang seru itu adalah perjalanan saya menuju Jakarta, karena baru seumur ini saya mendapatkan tiket pesawat yang sudah dibelikan oleh pihak penyelenggara Guraru Award.

Kamis, pukul 16.00 saya diantar oleh istri dan anak-anak beserta adik saya menuju Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya Raya untuk menghadiri undangan Acer Indonesia. Perjalanan berlangsung mulus tanpa hambatan, termasuk saya sempat menikmati akses internet murah di bandara kota cantik ini sambil menunggu keberangkatan.
Pesawat yang saya tumpangi merupakan Armada terbaru maskapai penerbangan nasional terkemuka di negara ini, yang memungkinkan saya menonton film yang saya sukai sebab belum sempat di 21. Walau durasi film itu tidak sesuai dengan lama penerbangan, tetapi kesan demikian mengikat erat dalam benak untuk mencoba terbang sekali lagi dengannya.

Pukul 19.10 pesawat moderen ini telah berada di wilayah udara Jakarta, setengah jam kemudian saya sudah berada di dalam kendaraan transportasi yang disewa dari bandara. Pertama kalinya saya menikmati kemacetan ibukota di malam Sabtu, yang menyebabkan saya tidak bisa mengikuti jamuan oleh pihak penyelenggara tapi sejurus kemudian saya mendapatkan makanan bungkus dari Imperial Restaurant yang diantar oleh mba’ Fany dan mba’ Josephine yang mewakili panitia penyelenggara. Karena waktu itu saya tiba pukul 21 lewat di hotel, sementara rekan sekamar saya yang notabene adalah juara pertama Acer Guraru tahun 2010 tengah bersantap malam.

Seusai paket makanan saya terima dari Fany dan Jojo, pasangan lain Sinta Jojo, saya diberitahukan jika peraih Guraru award sebelumnya tengah berkumpul di ruang makan lobi hotel Amaris Juanda ini. Segeralah saya bergegas mengikuti dua gadis cantik ini menemui mereka, tidak jauh berbeda dengan foto yang saya kenal di blog mereka dan buku kompilasi Guraru award, ada wajah Pak Sawali Tuhusetya, Bu Amiroh Adnan dari Jombang, dan cekgu Rizal dari Tanjung Balai, serta rekan saya Urip Kalteng dari Pangkalan Bun.

Salam hangat dan pelukan serasa sahabat lama yang tidak jumpa terasa dalam pertemuan pertama ini, canda tawa silih berganti sebagai interaksi antar kami seolah menggantikan pertemuan yang biasanya lewat tulisan menjadi lebih klop dengan canda secara nyata. Tidak berapa lama kemudian Wijaya Kusuma yang biasa dipanggil Om Jay datang, dan tidak jauh berbeda dengan fotonya kebanyakan, muncul bergabung bersama kami dan merapatkan pembicaraan mengikatnya menjadi topik yang menarik.
Tak lama kemudian karena malam telah larut, kami pun bergegas mengundurkan diri untuk menyiapkan hari esok, terutama saya pribadi akan menampilkan presentasi sebagai bagian seleksi penetapan penganugerahan.
Walau sudah undur dari percakapan di ruang makan, dalam kamar, kami dengan Pak Urip tidak henti bertukar cerita sama seperti Oktober 2008 di wisma PKS Ciputat saat kami juga menerima penganugerahan eLearning Award dari Pustekkom saat itu. Tak tasa waktu pun bergeser terus menuju pukul 2 dini hari memaksa kami untuk berhenti ngobrol berganti dengan tidur pulas.

Pagi-pagi sekali saya sudah bangun karena tubuh saya telah otomatis untuk beranjak dari kasur pukul 5 pagi. Suasana cerahnya pagi di Jakarta tidak jauh berbeda dengan Palangkaraya Raya, sama terangnya dengan langit yang biru menyala. Sampai dengan pukul 8, kami turun untuk sarapan dan selanjutnya bersiap menuju Plaza Tower, kantornya Acer seberang Hotel Indonesia dan Plaza Indonesia untuk bertemu dengan Guraru lainnya yang datang dengan sukarela pada acara kopdar Guraru yang pertama tahun 2013 ini.
Dari tiga kali perhelatan Guraru award, baru tahun ini acara yang sangat sederhana dilangsungkan di lounge lantai 42. Gugup tentu saja bergelayut manja dalam dada, entah siapa saja yang saya temui atau seperti apa wajah Pak Sukani dan Bu Mugi Rahayu menjadi salah satu pertanyaan khusus.
Mendaftar menjadi visitor dengan menitipkan KTP dengan resepsionis selanjutnya bertemu dengan Pak Yusuf, Pak Sukani, Bu Etna, Bu Resty, bersama kami pun menaiki lift menuju ruang pertemuan. Di sana kami bertemu lagi dengan rekan-rekan guru lain, diantarnya Pak Muslim, Pak Herry, Pak Marsidi dari Solo, dan lain-lain.
Perasaan akrab mulai terbangun dan semakin kental lagi setelah saya memasuki lounge. Belakangan saya baru menyadari, jika guru-guru yang hadir ini sebagian besar tidak mengetahui sebenarnya siapa yang menjadi finalis Guraru award 2013, karena terbukti mereka tidak antusias sampai saat kami tampil dengan gaya dan kebolehan masing-masing untuk presentasi.