Presentasi Saat Acer Guraru Award 2013

Seminggu yang lalu pada pukul 14.30 wib saya berkesempatan memberi presentasi perhelatan kopdar Guraru yang pertama, yang diadakan di Lantai 42 The Plaza Tower, Acer Lounge dengan tema “Digital Immigrant Digital Natives” atau yang jika dibahasakan secara bebas dalam bahasa Indonesia adalah “Pendatang Digital dan Penduduk Digital”.

20131126-174153.jpg IMG_8627 IMG_8631 IMG_8633

 

 

Topik yang diberikan kepada saya adalah “Aplikasi Grafis 20131126-174401.jpg 20131126-174336.jpgdalam pembelajaran kepada Digital Natives” karena sebenarnya presentasi ini memiliki tautan video maka jika Bapak dan Ibu guru mau mengunduhnya sebaiknya disimpan dalam satu folder yang sama😀

https://drive.google.com/file/d/0ByoyExyOYZwbcUFCZEdicHZlVXM/edit?usp=sharing (Presentasi)

https://drive.google.com/file/d/0ByoyExyOYZwbNG1jN1RlNmZodGc/edit?usp=sharing (Video 1)

https://drive.google.com/file/d/0ByoyExyOYZwbYWtldlF0QmtTWkk/edit?usp=sharing (Video 2)

https://drive.google.com/file/d/0ByoyExyOYZwbdG5rN0dnSmNfbnM/edit?usp=sharing (Video 3)

Video-video tersebut saya unduh dari youtube. Jangan lupa disimpan dalam satu folder agar bisa dimainkan.

Menurut opini saya, Bapak dan Ibu Guru ini didominasi Generasi X yang mana generasi tersebut lahir di antara tahun 70an hingga 90an dilanjutkan Generasi Y (generasi ini lahir antara  pertengahan 90an hingga 2000an) dan generasi Z yang mulai lahir setelah tahun 2000. Ketiga Generasi dominan tahun-tahun ini adalah kategori usia penduduk yang bisa secara aktif menggunakan media digital atau hanya menganggap media digital (teknologi informasi dan komunikasi) adalah kebutuhan sekunder (secondary needs).

Tingkat pemenuhan “kebutuhan” dalam dunia digital bisa dilihat dari kekerapan penggunaan facebook, twitter, media jejaring sosial, meng-update status, mengomentari status teman atau kawan-kawan jejaring, menggunakan blog, berselancar dan berkomentar di dunia maya (youtube, vimeo, dan lain-lain). Dibandingkan dengan generasi X dan generasi Y, generasi Z yang notabene adalah siswa merupakan personel-personel yang sangat aktif menggunakan media digital tanpa kita ajar !

Mereka dengan mudahnya menguasai “bahasa” dunia ini dengan gampang dan gayeng, berbeda jauh dengan diri kita yang harus mendekatkan diri untuk mempelajarinya. Kebutuhan untuk berselancar di dunia maya, baik menggunakan gadget, smartphone bahkan komputer desktop atau laptop, notebook, netbook, tablet, iPAD, masih sebagai pelengkap bukan sebagai kebutuhan utama.

Kita masih bisa berbelanja di pasar, tanpa harus terkoneksi dengan internet. Beda dengan belahan dunia lain yang tinggal “main klik” untuk berbelanja dan  belanja online model Nusantara telah disesuaikan dengan kondisi geografis Indonesia yang bisa dilihat barangnya dulu di website, trus catat nomor hape atau pin BB kemudian telepon atau BBM, janji ketemuan, kalo cocok baru deal😀

Nah, menggunakan kemudahan seperti ini agar tidak menimbulkan gap atau kesenjangan digital dengan generasi Z yang sekarang berposisi menjadi peserta didik kita sekalian, maka generasi X dan generasi Y (yang sekarang berada pada level sebagai “guru”) perlu ber-transformasi atau menjadi transformer (agen perubahan) yang tentu saja memiliki tantangan dan perjuangan tersendiri.
(Pada posting lain saya akan bahas mengenai tantangan dan perjuangan ini di sekolah kami)

Menjadi agen perubahan adalah keharusan dan di sisi lain adalah beban bagi guru, selain tugas-tugas administrasi sekolah, administrasi mengajar dan pemenuhan kebutuhan hidup lainnya. Maka tidak semua bisa dilakukan mengingat kesulitan-kesulitan tersebut. Pesimisme dan sikap yang apriori kerap mendasari pandangan ini yang menyebabkan guru-guru hanya bisa terpaku.

Tugas dari Guru Era Baru untuk meningkatkan pemahaman atau memberikan pandangan dari sisi yang lebih humanis, pendekatan mengajar dengan cara kreatif yang melibatkan peserta didik menggunakan segenap aspek edukatif yang sinergis dengan tetap menyadari kekuatan dan kelemahan dari masing-masing elemen pendukung.

Video Rekaman dari Pak Bhayu Sulistyawan :

Diskusi panjang akan terus terjadi, perdebatan dan cemoohan akan tetap ada, selama kita tidak berbuat dan tidak bertindak. Mulailah menabur pengetahuan dengan kebijakan maka kita akan menuai hikmat dan keturunan putra-putri bangsa Indonesia yang berhikmat dan beradab.

Pertanyaan Audiens dan Juri :

Bagaimana dengan maraknya video dan foto porno yang melibatkan peserta didik? Apa opini pribadi Bapak selaku guraru?

Jika hal ini masih terjadi, berarti keberadaan guru sebagai orang tua di sekolah atau di lingkungan peserta didik kurang dalam. Pengawasan biar bagaimana pun juga harus tetap berjalan, kelas-kelas jangan dibiarkan tertutup dan siswa dibiarkan bermain tanpa pengawasan terutama mengarah pada hal-hal yang negatif.
Dengan video yang tidak layak tayang dan dilakukan peserta didik bahkan oleh siswa SMP itu menandakan bahwa sekolah dengan siswa memiliki kesenjangan digital. Penegakan aturan yang tegas dan tindakan nyata dari sekolah harus ada, terutama pertemanan dengan para peserta didik di dunia maya merupakan kontrol efektif untuk mengurangi penyebaran dan meningkatkan kesadaran.

Sulit dipungkiri jika lingkungan sekitar siswa juga mempengaruhi perkembangan pikirannya, hal-hal yang permisif atau boleh terjadi seperti tayangan-tayangan yang tidak layak tonton tetap ditayangkan pada prime time di siaran televisi nasional. Selain kekerasan, bullying, kejahatan, kriminalitas, pelecehan sudah menjadi sarapan dan itu yang tidak terfilter dalam diri siswa.

Peran guru sebagai teladan, sebagai teman, dan sebagai pendorong (pengawas). Pertemanan di media sosial merupakan peran sosial kontrol yang cukup efektif mengurangi penyimpangan. Tindakan ini tidak bisa dilakukan sendiri tetapi juga bersama-sama seluruh pemangku kepentingan. Bukan hanya kekurangan dan masalah utama guru, juga orang tua dan masyarakat serta lingkungan sekitar.

Apakah pelarangan membawa handphone atau smartphone ke sekolah itu efektif?

Untuk beberapa kondisi tertentu, hal ini efektif. Karena konsentrasi siswa akan sepenuhnya bisa diarahkan kepada kelas. Tapi untuk keaktifan siswa di kelas tergantung sepenuhnya bagaimana sang guru meng-entertain kelas menjadi kelas yang aktif dan giat. Kontrol belajar bisa dilakukan di luar kelas tanpa terikat ruang dan waktu, itulah manfaat penggunaan media sosial.  Orang tua juga bisa mengawasi dan mengikuti pertemanan guru dengan siswa dalam media sosial sebagai pengawasan agar tidak terjadi ketimpangan.

Bagi orang tua yang tidak memiliki fasilitas tersebut, bukan sebagai jurang pemisah untuk siswa yang tidak memiliki fasilitas TIK karena sekolah memberikan kesempatan menggunakan laboratorium internet atau laboratorium multimedia, laboratorium komputer.

Terutama sekolah yang telah menyediakan akses internet dan PT Telkom telah mendukung dengan memasang akses internet wifi.id dan indischool, juga flashzone, flexizone, dan banyak lagi akses lain. Agar siswa tidak jatuh pada penggunaan yang menyimpang tetap diperlukan pengawasan penggunaan serta pengaturan.

Harus ada kesepakatan antara sekolah, orang tua melalui Komite Sekolah, Dewan Pendidikan, Guru, dan siswa dalam penggunaan telepon seluler atau smartphone ini digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab sebab akhirnya niat dan moral pengguna-lah yang menentukan.

#2013, #digital-immigrant, #digital-natives, #guraru, #guru-era-baru, #indonesia, #metode-belajar, #nusantara, #pembelajaran-digital