Pengawas harus Fit

Ujian akhir semester (UAS) tengah gencar-gencarnya berlangsung. Tidak hanya siswa yang harus tekun belajar dan mempersiapkan diri mengikuti ritual akhir semester ini, melainkan para pengawas pun panitia pelaksana harus siaga selalu. Terutama setelah sekolah kami bertambah gedungnya dan kondisinya semakin bertingkat. Tahun ini sekolah kami mendapat bantuan pembangunan renovasi gedung sekolah menjadi bangunan berlantai dua, diperoleh tiga buah gedung baru dengan dua lantai dimaksud.

Tentu saja hal ini menimbulkan energi ekstra bagi para pengawas juga panitia pelaksana. Karena ruang yang tersebar tidak hanya berada pada level yang sama, sama-sama berada di darat, melainkan di lantai atas pun ada. Ada dunia atas ada pula dunia bawah, ada dunia terang, ada pula dunia gelap.

Stamina para panitia yang ke sana ke mari, membagikan kertas jawaban yang jumlahnya kurang, lembar soal yang minus, daftar hadir peserta yang juga kurang, termasuk meralat ketikan soal yang kurang jelas atau tidak terbaca hingga soal yang tertukar pada peserta ujian. Panitia akhirnya diberi bantuan alat telekomunikasi bukan telepon yaitu HT, bak bagian protokol berwara-wiri petugas mondar-mandir ini dengan alat komunikasi tersebut.

Tentu saja frekuensi kerja HT berada pada ranah umum, tidak menyentuh ranah khusus dan jalur terlarang dan nantinya akan diberikan ijin operasional radio komunikasi pada salah satu organisasi yang mengatur komunikasi antar penduduk ini. Hal tersebut merupakan kemajuan yang didukung oleh orang tua siswa dan pengelola sekolah.

Yang tidak kalah repot dan pening adalah para pengawas, pengawas ini tentu saja guru yang mengajar di sekolah saya yang bertugas mengamati dan memastikan bahwa peserta ujian melaksanakan ritualnya dengan tepat sesuai resep-resep dan aturan yang diatur sekolah. Kepenatan dan kebosanan adalah makanan sehari-hari pengawas di samping energi ekstra untuk naik turun tangga. Sebab sekolah kami masih akan menghadapi rehabilitasi bangunan lagi di tahun mendatang.

Belum lagi harus menghadapi polah peserta ujian dari berbagai kelas dan jurusan peminatan yang tidak diajarnya, merupakan faktor kesulitan tersendiri. Mengawasi agar para peserta ujian tidak bekerja sama, menggunakan kalkulator terlebih alat komunikasi untuk mencontek, menjaga agar ruang ujian tetap kondusif dan tenang sampai pada mengumpulkan lembar jawaban hingga tidak ada yang tercecer dan berurutan.

Karena itu menjadi Pengawas Ujian Akhir tidak hanya tegas, tapi juga fit. Sebab lokasi yang berbeda-beda setiap shift dan setiap hari merupakan tantangan. Ketegasan agar tidak mengijinkan adanya kerja sama antarpeserta kadang menjadi momok bagi pengawas muda atau guru baru, juga guru yang lama.

Kadang-kadang pengawas juga tidak bisa ditegur agar tetap tenang berada dalam ruang ujian selama kegiatan berlangsung, tidak jarang ditemui pengawas duduk-duduk atau berdiri di luar ruang ujian bahkan ada yang sambil menghisap tembakau. Padahal ada larangan atau ada spanduk, “Sekolahku bebas Tembakau” tapi sulit terbebas dari Nikotin😛

#nikotin-tanpa-tembakau, #pengawas-harus-fit, #tembakau-tanpa-nikotin