Ibu Pengamplas Pintu

Malam Minggu yang biasanya diisi bercengkrama bersama keluarga, akhir-akhir ini lebih banyak kami isi dengan diskusi bersama. Walau kadang tak sejalan dengan ide anak-anak tapi acara malam Minggu yang sekedar melepas penat di atas meja makan di ruang tengah yang lebih lapang karena baru saja direnovasi menjadi lebih hangat dan berkesan.

Istri saya ditugaskan sebagai wakil kepala sekolah kesiswaan yang salah satunya mendistribusikan bantuan operasional siswa kepada sekolah, sebagian besar format pelaporan dan pendataannya saya kerjakan karena kekurangan staf hehehe .. Jadi ada beberapa data yang dapat saya amati dan mengisinya benar-benar rumit karena harus ada wawancara dan rekam jejak masing-masing calon hingga ke profil keluarganya yang termasuk tidak mampu atau miskin.

Umumnya di tempat kami, sekolah masih menerapkan iuran komite sebagai kontribusi orang tua kepada sekolah dan itu dilaporkan per tiga bulan dalam rapat komite sekolah bersama sekolah dan orang tua mengenai transparansi penggunaannya maupun pengawasannya.

Bantuan operasional sekolah ini disasarkan kepada para siswa miskin yang juga banyak menunggak iuran komite, bukan pembebasan iuran tapi untuk meringankan beban iuran yang dibayarkan oleh orang tuanya. Di sekolah istri saya, sebagian besar penerima dana BOS ini orang tuanya berasal dari daerah-daerah marginal di kota Palangka Raya sehingga mereka bersekolah pun ada yang harus berjalan kaki dari rumah, menumpang kendaraan orang lain, atau harus tinggal seminggu di Mess atau kos-kosan.

Kali ini yang menerima dana keringanan iuran komite, bukan lagi siswa yang bersangkutan melainkan orang tuanya masing-masing sehingga istri saya dapat mewawancara dan merekam profil mereka secara langsung sebagai data sekunder dari laporan. Tentu saja ini bagian dari dokumentasi pelaporan penggunaan dana dimaksud.
Siswa miskin ini tidak hanya satu yang melunasi iuran komitenya selama satu semester, tapi lumayan banyak ada sekitar 20an orang. Nah, asumsi pertama bahwa siswa miskin banyak menunggak iuran komite ternyata “gugur” karena lebih dari seperempatnya yang mendapat bantuan sudah melunasi.
Akhirnya fenomena ini terungkap pada salah satu siswa!

Siswa cewek yang menjadi sosok cerita kali ini tergolong aktif dan memiliki kehidupan yang ceria jika dibandingkan dengan latar belakang keluarganya. Saya sebut saja siswa ini Jasmine. Jasmine baru duduk di kelas X dan sangat aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya, aktif pula mengikuti organisasi siswa dan akhir ini dia juga sudah membayar lunas sumbangan wisata ke Bukit Batu.

Ibu wakasek kesiswaan tidak mengerti dari latar belakang keluarga yang tidak mau, tapi Jasmine dapat mendapatkan uang yang mencukupi untuk memenuhi kewajibannya. Maka datanglah Bunda Jasmine pagi itu mengambil bantuan operasional siswa sekaligus menceritakan latar belakangnya.

Bunda Jasmine termasuk pelaku pernikahan dini, pada usia 16 tahun ia sudah berkeluarga. Berasal dari daerah Kalimantan Selatan, ibu Jasmine mengikuti suaminya yang memiliki pekerjaan sebagai tulang meubelair, pekerjaan yang berkaitan dengan perabotan dari kayu seperti membuat lemari, kusen, pintu, jendela. Semula profesi ini disangkakan kepada ibu Jasmine, tapi setelah diklarifikasi pekerjaan ibu Jasmine ini hanya mengampelas pintu dan mengumpulkan serbuk kayu.m